Buruk Muka, Warganet Dibelah: Tanggapan Untuk Anto Arief Soal PP 56/2021

• May 7, 2021
Buruk Muka, Warganet Dibelah: Tanggapan Untuk Anto Arief Soal PP 56/2021

*Catatan redaksi: kami menerima tulisan tanggapan terkait esai yang ditulis Anto Arief tentang PP 56/2021 pertengahan April kemarin. Kami pikir menarik untuk dimuat demi terjadinya diskusi yang sehat dengan memunculkan pendapat berimbang dari dua sisi berbeda. Selamat membaca.

____

 

Kami ingin lebih bergizi
Bukan hanya yang malnutrisi, substansi
-Pasar Bisa Diciptakan, Efek Rumah Kaca-

 

Buruk muka, cermin dibelah. Demikian pepatah yang cocok dilekatkan untuk opini Anto Arief lewat artikel ‘PP No. 56/2021 dan Murahnya Musik Indonesia di Mata Warganetnya’ yang tayang di situs Pop Hari Ini 19 April kemarin.

Bedanya kali ini bukan cermin, tapi warganet yang dibelah, dianggap rendah, diragukan intelektualitasnya dan dipukul rata sikapnya terhadap Peraturan Pemerintah tentang PP 56/2021 atau Pengelolaan Royalti Hak Cipta Lagu dan/atau Musik (selanjutnya disingkat PP Royalti Musik) yang tengah jadi trending topic baru-baru ini.

Secara prematur Anto menyederhanakan issue yang sebetulnya kompleks ini dengan mengacu salty comments di sosial media, mengutip beberapa cuit dan menyertakan screenshot demi membuktikan betapa PP Royalti Musik menjadi viral karena adanya kontra.

warganet dianggap rendah, diragukan intelektualitasnya dan dipukul rata sikapnya terhadap Peraturan Pemerintah tentang PP 56/2021

Yang juga menarik, adalah keberpihakan warganet pada pelaku bisnis (kontra PP Royalti Musik) ditafsirkan sebagai bentuk rendahnya kesadaran akan HAKI jadi hal yg kemudian disimpulkannya sebagai kenyataan memprihatinkan dimana musik dianggap murah bahkan tidak ada harganya di mata warganet.

Tanggapan ini ditulis bukan semata membantah stereotipe tentang warganet di artikelnya. Sebab kita hanya butuh data hasil pantauan Indonesia Indicator (19 April 2021) untuk meruntuhkan argumen prematur Anto: dari 20.297 percakapan di twitter rentang 5 – 8 April menunjukkan bahwa sebagian besar warganet nyatanya justru mendukung PP dengan nada positif lewat 4.539 kicauan (47%) tentang royalti hak cipta lagu bernada trust (percaya) dan 1.685 kicauan (18%) joy (senang) atas kebijakan tersebut. Tentu saja Anto boleh beropini, tapi data bicara lain.

Lantas, warganet bagian Indonesia mana yang sebetulnya Anto maksud? Kenyataan memprihatikan dari sisi yang mana yang sebetulnya sedang Anto sodorkan? Apakah yang terjadi memang betul se-karikatural itu? Toh dari parameter-parameter apa sih sebetulnya kita bisa menakar Murahnya Musik Indonesia di Mata Warganet versi Anto terkait PP 56/2021 ini?

Ataukah ada hal lain yang sifatnya lebih substansial untuk dibahas, daripada sekedar menggunjingkan ‘kelakuan’ warganet dan memandang Pop Hari Ini layaknya media lain yang Anto kritik sendiri di dua paragraf terakhir: menerbitkan judul sesat yang clickbait, membuat polemik, dan gempar sesaat? Semoga saja saya salah.

 

Melampaui Anto Arief

Untuk masuk ke korpus pemikiran sesungguhnya tentang apa yang ingin diketengahkan Anto soal PP Royalti Musik dalam tulisannya, saya terpaksa menyingkirkan argumen prematur soal warganet tadi.

Hemat saya, setidaknya ada 3 aspek penting di artikel tersebut yang perlu dapat ruang diskusi dan dielaborasi lebih jauh untuk menghindari wacana yang kontraproduktif:

  1. Mitos Kultur Musik Gratis

Dalam kesempatan ini perlu diluruskan kembali kiranya bahwa korelasi antara kultur musik gratis dengan apresiasi musik warganet tidak selalu berjalan dalam logika sebab-akibat seperti yang difantasikan Anto bahwa kebiasaan mengkonsumsi musik gratis mengakibatkan rendahnya pemahaman tentang hak kekayaan intelektual musisi.

perlu diluruskan bahwa korelasi antara kultur musik gratis dengan apresiasi musik warganet tidak selalu berjalan dalam logika sebab-akibat

Sebab bila kita sedikit saja mau menengok ke belakang zaman dimana Stafaband.com baru lahir di 2007, lahir pula gelombang positif yang digagas sejumlah warganet berupa situs berbagi musik secara bebas dan gratis seperti Yes No Wave, Mindblasting, Kanal 30 dan lain-lain.

Para pegiat netlabel yang terasosiasi dalam Indonesian Netlabel Union sudah melakukannya lebih dulu atas nama Free Culture dan kesadaran geografis di kalangan warganet Indonesia kala itu.

Nama-nama besar di skena musik independen seperti Bottlesmoker, Frau, Efek Rumah Kaca dan lain-lain jadi aktor kunci: membebaskan pendengarnya untuk mengakses musiknya secara free, baik itu free untuk diunduh, free untuk dimodifikasi dan free untuk disebarluaskan ulang selama tidak bertujuan komersil. Mendaratnya Creative Commons di Indonesia yang juga gencar melakukan sosialisasi kala itu juga punya porsi strategis dalam pendidikan kesadaran akan hak cipta dan kekayaan intelektual di kalangan musisi.

Penulis
Pry S.
Co-founder Bitarama. Sempat aktif menulis di Jakartabeat.net sejak 2010 dan mengelola situs Ripstore.Asia sampai 2018. Kini tinggal dan bekerja di Jakarta sambil sesekali mereview musik dan berjejaring di #peoplereunite
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Eksplor konten lain Pophariini

Resensi: Sunwich – Storage

jika anda penyuka katalog gelombang baru band indiepop vokalis perempuan, anda harus memberikan Sunwich kesempatan untuk dipasang kencang-kencang.

Mau Tau Banget?: Mentor Interview – Laleilmanino

Selamat datang di edisi perdana Mentor Interview! Sekilas mengenai Mentor Interview, kami berkeliling menemui nama-nama yang sudah tidak asing lagi di industri musik Indonesia saat ini. Nama-nama yang kami temui, mempunyai keahliannya masing-masing di …