PP No. 56/2021 dan Murahnya Musik Indonesia di Mata Warganetnya

884
PP 56/2021 dan Murahnya Musik Indonesia di Mata Warganetnya
Ilustrasi oleh Agung Abdul.

Siklus viral di internet adalah: ramai di medsos, debat kusir di kolom komentar, dibahas di Youtube, masuk televisi, dan kemudian biasanya dilupakan begitu saja. Semoga Peraturan Pemerintah No. 56 Tahun 2021 ini tidak demikian. Karena sejak diteken tanggal 30 Maret 2021 kemarin, dari berbagai pro dan kontra PP No. 56/2021 ini, ada kenyataan memprihatikan lain terhadap musik Indonesia. Yaitu, murahnya musik Indonesia di mata para warganet kita.

Viralnya PP No.56/2021 tentang performing royalty ini positif karena semua orang mendadak melek tentang royalti musik. Tapi di sisi lain menarik jika membaca komentar kontra terhadap PP ini. Selain adanya keberpihakan pada bisnis kecil dan para musisi cafe/wedding atau pengamen, ada juga para musisi yang kubunya terbelah dua antara pro dan kontra, dan dari semua itu yang paling memprihatinkan adalah rendahnya kesadaran HAKI bagi para warganet Indonesia akan sebuah karya musik. Padahal Indonesia adalah satu negara dengan industri musik yang berkembang sangat pesat di kawasan Asia.

rendahnya pemahaman warganet kita terhadap penghargaan akan sebuah karya musik Indonesia

Kita memiliki industri musik populer dan tradisional/daerah yang beragam dan dinamis. Memiliki pusat pendataan musik populer Iramanusantra.org, juga punya musik dangdut yang hanya dimiliki oleh Indonesia, juga berbagai perhelatan akbar musik yang sering mendatangkan penikmat musik dari penjuru dunia. Dari Java Jazz, Hammersonic, Djakarta Warehouse Project, We The Fest hingga Synchronized Festival.

Dari semua itu sangat memprihatinkan membaca komentar-komentar merespon soal PP No. 56/2021 di medsos. Karena rendahnya pemahaman warganet kita terhadap penghargaan akan sebuah karya musik Indonesia. Meskipun dengan dalih memihak pada kaum kecil, seperti pengamen, musisi wedding/cafe, resto/warung kecil, namun tetap saja para warganet tidak melihat problem intinya. Yaitu soal hak dan penghargaan terhadap sebuah kekayaan intelektual.

Sedikit bicara soal Hak Kekayaan Intelektual (HAKI), kekayaan intelektual sendiri adalah hak yang timbul dari hasil olah pikir yang menghasilkan suatu produk atau proses yang berguna untuk manusia. Contohnya sesederhana merk sambal dan kopi instan, atau produk seni budaya yang lebih kompleks seperti film. Pada intinya kekayaan intelektual adalah hak para pencipta untuk menikmati hasil dari suatu kreativitas intelektual secara ekonomis. Dan sederhananya, kita bisa meragukan keintelektualan seseorang bila dirinya tidak menghargai kekayaan intelektual yang terkadung dalam sebuah karya. Salah satu contoh dari ketidak pahaman akan kekayaan intelektual bisa kita lihat dari beberapa komentar warganet kita:

Baca juga:  Banyak Jalur Menuju Tur

Ditambah dengan pemikiran seperti ini;

Sangat miris. Seolah para musisi/pencipta lagu berada dalam posisi paling bawah dalam rantai industri musik, dan pendengar musik adalah “raja”. Soal pendengar yang merasa dan memposisikan diri sebagai raja juga adalah hal yang selama ini salah kaprah. Yang terbentuk dari efek musik yang terlanjur sering digratiskan. Sehingga nilainya jadi begitu murah atau malah tidak ada.

Hal ini bisa ditelusuri ke tahun 2000an, pertama kali masyarakat memiliki akses penuh pada pemutar CD dan teknologi penggandaan mandiri CD melalui komputer pribadi. Teknologi tersebut membuat CD bajakan beredar secara memprihatinkan. Pada 2007 Asosiasi Industri Rekaman Indonesia (ASIRI) bahkan mencatat perbandingan CD bajakan yang beredar mencapai 96:4 persen. Ditambah anggapan kalau musiknya dibajak dan membeli produk bajakan adalah promosi gratis untuk musisinya. Karena berarti lagunya lebih dikenal luas. Dan, musisi harus bangga jika karyanya dibajak. Duh!

Seolah para musisi/pencipta lagu berada dalam posisi paling bawah dalam rantai industri musik, dan pendengar musik adalah “raja”

Hal ini berlanjut di 2010an ketika masyarakat memiliki akses internet lebih merata yang sayangnya tidak dibarengi dengan pemahaman hal-hal mendasar seperti HAKI. Situs seperti 4shared.com dan Stafaband.com menjadi pilihan untuk mengunduh lagu-lagu barat maupun Indonesia secara ilegal. Lalu dengan akses medsos yang tanpa batas, tidak sedikit yang bahkan berani bertanya langsung kepada musisinya: “di mana bisa mendownlod lagunya secara gratis?” Sungguh pertanyaan yang di luar nalar. karena ada berbagai proses panjang menulis/menciptakan lagu selain tentunya biaya, tapi juga pengalaman, pikiran, rasa serta jam terbang.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments