Cahaya Biru dari Littlefingers

Nov 18, 2020
Littlefingers

Jika tidak lewat program Irama Kotak Suara (IKS), bisa jadi kami atau bahkan pembaca setia PHI belum mengenal Littlefingers. Yang serunya lagi, band ini adalah salah satu dari tiga terbaik IKS di bulan Oktober ini.

Littlefingers merupakan trio elektronik jazz yang beranggotakan Chika Olivia pada keyboard, Tjdika pada bass, dan David Halim pada drum. Mengawali perjalanan di musik Indonesia pada Januari 2020 dengan debut single bersama Natania Karin, “Can Good Things Last Forever?”, Littlefingers telah banyak mencuri perhatian pendengar Indonesia, dengan masuk berbagai playlist di layanan musik streaming: Jazz Anak Negeri, AMI Awards dan Rebahan.

Tidak lama setelah pengumuman 3 terbaik IKS Oktober, kami mengajak Littlefingers ngobrol untuk sedikit mengulik tentang perjalanan karier dan lain-lainnya. Simak obrolan kami dengan mereka.


Kira-kira, kalau kalian bisa bilang ke para pendengar diluar sana “kalian bakal suka Littlefingers kalau kalian dengerin ini nih!”, kira-kira siapa?

David: Mungkin yang orang-orang pada tahu, Robert Glasper kali ya.

Chika: Hiatus Kaiyote.

Dika: Moonchild.

 

Kalau versi lokalnya?

David: Batavia Collective kali ya.

Chika: Tomorrow People Ensemble…

 

Sebelum kita lanjut lagi, mungkin kita boleh kenalan dulu ya?

David: Gue David, gue yang main drum. Lalu ada Dika yang main bass, itu ada Chika yang main keys.

 

Littlefingers sudah menelurkan 4 single. Di single-single tersebut, kalian berkolaborasi dengan beberapa nama, salah satunya adalah Kenny Gabriel. Nah, kenapa bisa sampai disana?

Chika: Itu juga kebetulan sih, dadakan [tertawa].

David: Jadi, gue pas lagi lihat IG Stories waktu itu. Terus dia (Kenny Gabriel) lagi ada live remix session gitu dia mau bikin. Jadi dia ngajak kayak, “kirim aja stamps lagunya ke gue, nanti gue pilih, lalu gue remix live”.

Chika: Eh bukan, kayaknya dia review gitu deh. Jadi kayak mau dapat feedback dari dia or something, boleh kirim stamps atau demo.

David: Oh iya, feedback ya. Terus gue iseng kirim akhirnya. Dia waktu itu tuh sudah follow-followan sehabis single kedua. Ya sudah, gue akhirnya kirim ke dia. Ternyata, pas nonton live remix sessionnya, pas awal-awal tuh banyak lagu yang direview di satu session, satu track, satu track, terus kita pikir, “ah nggak masuk nih kita”. Eh, nggak lama dia buka session baru, yang satu session ini isinya kita doang. Di-remix sama dia.

Chika: Sebenarnya dia streaming session itusejam, terus kita kayak “udah kelar nih, berarti kita nggak masuk”, terus tiba-tiba dia buka session baru, dan sejam itu buat kita doang [tertawa].

David: Dia paginya sempat minta chord ke gue! [tertawa]. Ya sudah, selesai session, gue langsung DM dia, “Kak, jadiin aja kali ya? Rilis saja?”. Tadinya, kita mau rilis “Blue Lights” itu di Oktober, semua sudah siap, tinggal submit. Eh tapi remix ini (Ready Player One), jadi ya sudah, remix ini dulu saja.

 

Kalau kolaborasi dengan Natania Karin?

Chika: Ini pertemanan sih.

 

Soal single terbaru kalian, “Blue Lights”, boleh cerita sedikit?

Chika: Sebenarnya, karena pandemi itu kita sempat libur, jadi kita dulu itu kayak tiap minggu biasa ketemu untuk workshop. Terus, waktu ada pandemi, berhenti saja. Mulai lagi, ini buah hasil dari selama pandemi, dan kita sudah pengin bikin sesuatu yang kita doang, ya jadi hasilnya adalah “Blue Lights” ini. Penginnya buat orang-orang yang WFH gitu, dan so far temen-temen gue yang mendengarkan, feedbacknya yang “asyik ya untuk WFH di rumah”. Dikasih judul “Blue Lights” juga karena idenya adalah layar gitu, radiasi, makanya diberi judul itu.

 

Jadi, seperti ode untuk semua yang work from home.

David: Makanya dia (Blue Lights) nyantai gitu kan.

 

Ada lagi cerita menarik mengenai single-single kalian?

David: Ini sesuatu yang bisa dihighlight sih. Semua yang kita rilis itu adalah live recording. Karena, maksudnya adalah basically kita bertiga adalah dari sekolah musik yang ada background jazz, dan itu adalah musik yang masih lumayan asing di Indonesia. Gue yakin banget, kalau konsep kita itu adalah konsep yang lumayan baru di pasar Indonesia. Makanya kayak, semua yang kita bikin melodinya yang gampang diingat. Selama ini kan, tradisi di jazz, kita semuanya live recording, agar kita bisa menangkap interaksinya. Makanya, selalu ada part solo di tiap lagu. Jadi, dengan live recording itu bisa lebih menginterpretasikan musik kita, interaksi antar pemain kedengaran, dan dynamic di dalam studionya lebih terasa.

 

Tiga single dan satu single remix, apakah kedepannya akan ada album dari Littlefingers?

David: Materi sih kita sudah ada tigabelas materi. Jadi, dari semua materi yang kita bikin sepanjang tahun ini, kita sebenarnya sudah cukup untuk satu album dan satu EP. Planning kita sekarang adalah, untuk album dulu.

 

Kalau boleh dapat bocoran, 7 sampai 8 lagu?

Chika: Iya, sekitar segitu.

David: Kita masih mencari sponsor! [tertawa].

_____ 

Dengarkan lagu Littlefingers dan cari tau ulasan kami tentang mereka di sini 

Penulis
Raka Dewangkara
"Bergegas terburu dan tergesa, menjadi hafalan di luar kepala."
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Eksplor konten lain Pophariini

Nostalgia Semu: Alasan Tembang Lawas Bisa Dinikmati Generasi Kami

Mengapa saya kelahiran 1999 yang nggak pernah merasakan euphoria trio Warkop DKI tayang bisa menikmati musik era-sebelum-saya-lahir itu

Tamasya Kota: Ujung Penantian Kolaborasi Jon Kastella dan Pusakata!

Hari Jumat (30/07) lalu, Jon Kastella dan Pusakata resmi mempersembahkan “Tamasya Kota”, sebuah tembang kolaborasi yang sudah digarap sejak dua tahun lalu.