184

Catatan Retrospektif Album “Retropolis” Dari Naif

Ilustrasi Rosyad A.

Menyambut dirilisnya album Retropolis Naif yang dirilis hampir 15 tahun lalu ini ke dalam platform musik streaming digital seperti Spotify, Apple Music, dkk, Harlan Boer menulis untuk Pop Hari Ini tentang album ke 4 Naif yang sangat penuh eksplorasi ini. (Red.)

Empat belas tahun yang lalu, saya segera memutar kaset album Retropolis setelah mendapatkannya di toko kaset langganan. Di dalam kamar, bersama perasaan menduga-duga akan seperti apa bunyi album ini.

Empat belas tahun yang lalu, musik Indonesia sudah semakin menarik dengan banyaknya rilis album-album bersuara indie yang bukan hanya menyegarkan dan semakin membuka banyak kemungkinan, tapi juga lebih mudah diakses dengan dukungan promosi dan distribusi Nasional. Bila pada masa rilis album debut Self-titled (1998), Jangan Terlalu Naif (2000), dan Titik Cerah (2002), tiga karya Naif yang sangat mengagumkan, pilihan masih terhitung sedikit, maka 2005 adalah tahun yang sudah jauh berbeda. Belasan hingga puluhan nama baru kita kenal, bersama gaya bermusik mereka masing-masing, dari shoegazer Sugarstar sampai garage rock revivalist The Brandals.

Baca juga:  Kilas Balik Konser dan Festival Musik Indonesia Di 2018

Empat belas tahun yang lalu, jika kita melihat dari asal kampus Naif terbentuk, maka scene IKJ pun bisa dikata sedang meledak luar biasa! Sebut saja: Kebunku, The Sastro, White Shoes And The Couples Company, The Adams, dan terutama The Upstairs.

Empat belas tahun yang lalu, dan ini sesungguhnya menyedihkan bagi saya sebagai penggemar, untuk pertama kalinya Naif merekam album tanpa Chandra, salah satu keyboardist Indonesia favorit saya. Permainan Chandra di tiga album pertama Naif layaknya kehadiran Indra Q di lima album pertama Slank: “jail” yang menjadikan aransemen tiap-tiap lagu menjadi sangat bersensasi.

Empat belas tahun yang lalu scene IKJ pun bisa dikata sedang meledak luar biasa!  Kebunku, The Sastro, White Shoes And The Couples Company, The Adams, dan terutama The Upstairs.

***

Baca juga:  Debut Album ROXX dan Perayaan Metal Indonesia

Plastik pembungkus sudah dibuka, kaset dimasukkan ke dalam mesin pemutar yang menyatu dengan CD player. Nuansa psikedelia langsung terdengar dari lagu pertama “Goda Goda”, yang dilanjutkan dengan “Gula Gula”. Naif serasa baru pulang dari India, duduk-duduk di Cikini dengan rambut gondrong dikuncir senar sitar dan setiap paha mereka mengepit tabla. Gaya bermain dan sound drum Pepeng di lagu “Gula Gula” tentu saja langsung mengingatkan pada Ringgo Starr di lagu “Tomorrow Never Knows”.

David, vokalis hebat itu, baik sebelum maupun sesudah nge-gym, menyanyikan lirik-lirik sugestif terbaik, dalam kandungan positif, sepanjang karir mereka:

Tak pernah aku meminta, maka usah engkau memberi / Kau tahu hati adalah pengelihatan paling sejati / Tolonglah jauhi aku, ku tak pernah ingin terjatuh / Ke dalam sesuatu yang lebih baik kuanggap tabu

Segera kita menaruh teks “Gula Gula” ke dalam konteks tertentu, terlebih bersama dukungan suasana musik meleot-leot seperti itu. Matahari bersinar terang, mungkin mereka bertelanjang kaki, sementara tubuh mereka sedang segar-segar saja.

Baca juga:  Agung Hercules, Dangdut Macho yang Meninggalkan Kita

Bila album pertama dibuka dengan gaya retro “Mobil Balap” yang juga banyak mempengaruhi band-band Britpop 1990an, Jangan Terlalu Naif dibuka dengan “Johan & Enny” yang kalem (dan dari judulnya saja kita sudah bisa membayangkan romantika pasangan lampau sejoli paman dan tante kita), dan Titik Cerah dibuka dengan “Aku Rela” yang relatif straight forward early 1960’s pop yang disusupi kenikmatan interlude dan refrain melandai, maka pembukaan Retropolis serasa lahir di paruh kedua 1960an yang dihujani impian kedamaian.