The Monophones, A Voyage to the Velvet Sun: Sekali, Berkesan Selamanya

481

Rasanya bukan cuma saya yang pertama kali mengenal The Monophones lewat “Rain of July” di lagu latar film “Catatan Akhir Sekolah” (Roxinema, 2005). Seperti lagu latar di film “Janji Joni” (Kalyana Shira Film, 2005), film yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo dan dibintangi oleh Vino G. Bastian, Ramon Y. Tungka, dan Marcel Chandrawinata ini juga menggelar karpet merah lebar-lebar untuk band-band independen yang dirilis oleh label-label indie lokal untuk mengisi soundtrack-nya. Monophones jadi salah satunya.

Sebagaimana cukup lazim untuk band-band indie yang muncul di paruh pertama dan kedua millenium ketiga, retro menjadi formula yang cukup sering diusung. Musik turunannya bisa berbeda antara satu dengan yang lain. Tetapi mengacu pada kecenderungan, benang merahnya tetaplah sama: Memainkan musik dengan pengaruh dari nada-nada yang acap dimainkan pada dekade 50 ke 60.

Lalu Monophones menjadi satu dari sekian nama yang cukup sering mampir di telinga. Mendapatkannya dari mp3 bajakan yang dibeli di bilangan Alun-alun Kota Bandung, mp3 ini bisa berisi belasan bahkan puluhan album dalam satu cakram padat. Isinya bisa saja salah judul. Untungnya itu tak terjadi untuk trek “Rain of July” ini.

lazim untuk band-band indie yang muncul di paruh pertama dan kedua millenium ketiga, mengusung formula retro

Meski cinta kerap tak butuh alasan, tapi saya bisa yakinkan kalau bass-line adalah alasan saya jatuh hati pada kuartet Alexandria Deni, Fajar Dewa, Petrus Bayu, dan Taufan Darudriyo ini. Sebagai penjaga empat dawai, Petrus Bayu punya cara membuat pendengarnya untuk menggerakkan badan atau sekadar mengetukkan jari jemari. Menikmati lagu.

Sehingga, sesyahdu-syahdunya hujan di bulan Juli, bass-line Bayu selalu asyik dan funky.

Iya, saya sematkan kata “selalu” di sana karena ketika saya mulai punya akses mendengar secara penuh lagu-lagu dalam debut A Voyage to The Velvet Sun (Fuchsia Records, 2006) –yang lagi-lagi saya dapat dari mengunduh–, bass-line-nya lah yang selalu jadi perhatian pertama. Setelah itu, barulah aspek lain.

The Monophones
The Monophones. Ki-Ka: Taufan, Petrus Bayu, Fajar Dewa (kaca mata) dan Alexandria Deni / foto: istimewa

Vokal Deni yang khas, keyboard yang nyerempet psikadelik, ketukan drum yang rancak, flute yang nampang di depan, dan gitar yang mampu menjaga khittah pop-nya. Oh ternyata Monophones adalah unit pop sempurna yang pernah kita punya.

Hanya saja, sebagai band, umur Monophones ini enggak panjang-panjang amat. Kalau dijajarkan dengan band-band seangkatannya, Monophones mungkin jadi satu dari sekian yang lebih dulu tak terdengar suaranya.

Legasi mereka, sepanjang pengetahuan saya hanyalah enam trek di A Voyage to The Velvet Sun kemudian satu trek di kompilasi Mesin Waktu: Teman-teman Menyanyikan Lagu Naif (Aksara, 2007). Di kompilasi ini mereka membawakan ulang lagu “Nanar” yang dirilis Naif di album Retropolis – City of Joy (Indo Semar Sakti, 2005).

Ngomong-ngomong soal trek “Nanar”, ini pun komposisinya ampun-ampunan. Dibuka dengan suara organ gospel yang bersahutan dengan biola bersuara berat. Syahdu sejak detik pertama.

Lalu vokal Deni yang khas itu masuk. Bersama dengan alat gesek yang makin riuh dan saling jawab dengan ketukan drum canggung serta bass yang lasak. Trek lima menit 44 detik ini pun jadi makin kaya dengan solo gitar yang masuk di 2:56 disusul choir, flute, dan biola yang makin menyayat.

Legasi mereka hanyalah enam trek di A Voyage to The Velvet Sun dan satu trek di kompilasi Mesin Waktu: Teman-teman Menyanyikan Lagu Naif (2007)

Menit 3:25, vokal Deni di nada tinggi maju ke depan. Instrumen berhenti dan mempersilakan paduan suara menjadi latar. Membuat lirik “Tuhan biarkan ku temui Sang Kebenaran…” makin menjadi sebuah munajat. Monophones lantas menutup menit sisanya dengan keriuhan instrumen yang beradu padan hingga akhir.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments