184

Catatan Retrospektif Album “Retropolis” Dari Naif

Namun tentu kita mengenal kebiasaan Naif sebelumnya: mereka senang untuk menjadi eklektik, mengambil segala kembang terharum dari jelajah musik pop masa lalu, dari yang terjadi di Inggris sampai Indonesia. Bagitu juga yang berlaku di album keempat mereka.

Sebuah balada asmara dengan dada keharuan langsung mengambil kendali berikutnya: “Benci untuk Mencintaimu”. Sampai hari ini penonton masih lantang menyanyikan bagian refrainnya di berbagai kesempatan pentas Naif. Korek api dinyalakan.

Aku tak tahu apa yang terjadi… / Antara aku dan kau / Yang kutahu pasti / Kubenci ‘tuk mencintaimu

Gitaris Jarwo sangat mengesankan di bagian interlude, berbaring tepat setelah refrain pertama. Dengan durasi solo gitar yang hanya sebentar, awan-awan mencurahkan mawar secara perlahan.

kebiasaan Naif: senang menjadi eklektik, mengambil segala kembang terharum dari jelajah musik pop masa lalu, dari Inggris sampai Indonesia

Dari kesan awal album ini, jelas sudah tidak perlu ada lagi yang disangsikan. Naif masih relevan untuk terus berjalan, masih jagoan dalam membuat karya rekaman.

Setelahnya, datang keroncong “Pujaan Hati”, diawali suara announcer yang butuh beberapa kali take untuk bisa merasa nyaman mengantarkan lagu yang akan dipersembahkannya secara layak dan budiman. Tantu saja tone suara sang penyiar terasa pulen, layaknya yang kerap ditemui di tempo dulu. Main-main yang naïf, yang jadi satu hal permainan Naif.

Baca juga:  Album Ketiga Plastik Membungkus Kesepian, Melepaskan Kesalahan

Pada “Pujaaan Hati”, Naif kembali menunjukkan kesukaan mereka, atau bahkan lebih, pada Koes Plus. Seperti kita tahu, Koes Plus juga kerap memasukkan nomor keroncong di beberapa album mereka. Jejak cara bernyanyi David yang ditujukan pada Koes Plus, pertama kali sangat membekas di refrain lagu “Posesif” dari album Jangan Terlalu Naif. Kini kita bisa mendengar sangat jelas keseluruhan nuansa sejak permulaan lagu, namun tidak ada arah estetis yang lebih tulen dari bagaimana mereka bisa menulis lirik ini:

Sumpah mati aku kasih padamu / Sungguh sayang sekali

Empat belas tahun yang lalu, saya tidak terlalu terkejut dengan apa yang diperbuat Naif, melainkan tersenyum mahfum.

Selepas “keroncongan”, album diisi kelugasan, hampir menjadi power pop sepenuhnya. Sesungguhnya butuh jarak pada “Tak Pernah Melupakanmu” bagi saya. Hari ini, ketika musik Indonesia dan dunia sudah semakin variatif, kesederhanaan lagu ini terdengar lebih mendekati kawasan tiga menit yang sejati dibandingkan sepotong pop standar.

Kemudian “Nanar”. Penghayatan vokal David kembali mengingatkan kita pada kualitas penyanyi itu, yang bila pun masih di bawah para legenda sebelumnya, diletakkan di posisi yang sangat terhormat. Singkat saja: inilah pop sesungguhnya, dinyanyikan oleh vokalis pop yang sesungguhnya. Lagu tak perlu dibuat berlama-lama untuk jadi tahan lama.

Baca juga:  Mei '98 Dalam Kenangan Musik Indonesia

Seperti bersambung dari keroncong pada “Pujaan Hati”, lagu berikut di Retropolis adalah Rock N’ Roll yang juga masih dalam pengaruh Koes Plus—simak  bagian verse-nya yang bertabur gula jawa di atas roti bermentega. Ini juga saat yang tepat untuk mendapatkan buaian bassline Emil yang begitu sesuai untuk musik Naif, berharmoni bersama gerusan primitif gitar Jarwo. Setelah refrain dengan vokal David yang menggebu dalam mengungkapkan hasratnya, kita dibawa pergi sesaat ke dunia Jarwo yang permai. Lagu “Senyum yang Hilang” memesona dengan caranya sendiri, dengan koor penutup yang Beatles-que dan rolling Pepeng yang terdengar “enjoy berat” sampai fade out, bila dibutuhkan.

Secara tema lirik, lagu berikutnya, “Uang” serasa “Benci Libur” di album pertama mereka. Jika dahulu tentang suasana hati merindukan kehangatan dan keramaian kampus yang hilang di saat libur datang, “Uang” lahir dari panjangnya Naif melakukan tur dan rasa untuk ingin segera pulang ke keluarga untuk membawa rupiah hasil dari pekerjaan mereka. Respon paling menarik justru pada video musiknya yang digarap oleh sutradara Anggun Priambodo (salah seorang dari kolektif kreator video musik The Jadugar, vokalis Bandempo, seniman, dan film maker). Anggun, yang sudah lama tidak kribo, langsung menempelkan lagu ini pada adegan-adegan yang terinspirasi dari acara televisi Uang Kaget yang mengudara pada masa-masa Retropolis dirilis, di mana host memberikan sejumlah uang kepada seseorang “yang kurang beruntung” untuk bisa segera dibelanjakan dalam waktu singkat yang telah ditentukan.  Kita bisa melihat ekspresi berterima kasih dan terbirit-biritnya lari menghampiri tempat-tempat untuk berbelanja.

Lima video musik dari album ini tidak hanya merekam rupa dan musik mereka masa itu, tapi juga suasana berkesenian melalui medium video musik di televisi Indonesia pada sebuah era, yang hanya dalam beberapa tahun setelah 2005 telah jauh berganti rasa.

Rilis album Retropolis memang memiliki catatan menarik ketika Naif mengajak teman-teman mereka di IKJ untuk membuat lima video musik sekaligus dalam satu kesempatan syuting, memanfaatkan set sebuah pemukiman yang dirancang untuk sesi foto sampul album mereka. Sebuah set hunian dengan gerbang bertuliskan “Retropolis—City of Joy”.