“CYBERBULLYING, MONSTER BAGI GENERASI Z”. Oleh Che Cupumanik

2133

Penulis Ryan Holiday, mengatakan: “Kita hidup di lingkungan yang dikuasai opini publik, dan opini publik dikuasai pers. Siapapun pemilik media, dia bisa menguasai negara”.

Pemilik kekuasaan media, kini bukan hanya milik pers, sekarang adalah ‘Zaman Kekuasaan Individu’, dengan akun media sosial, kita diberi kekuasaan oleh internet untuk mengeksploitasi konten dan memproduksi berita kita sendiri. Kekuatan yang dimiliki pers dalam membentuk opini publik, sekarang ada di tangan kita sendiri.

Bagi musisi mandiri, bagi band indie yang tak bermajikan, mereka sudah manfaatkan kekuatan media sosial untuk mempromosikan karya atau merawat citra band. Akun media sosial adalah peluang mempertontonkan konten, ide, karya, drama, narasi, kisah, kontroversi, hingga sensasi. Itu semua akan menghasilkan perhatian di dunia maya, yang pada akhirnya memicu aksi di dunia nyata. Internet kini memberi kesempatan kepada setiap anak band, untuk menjadi seorang jenius media. Melalui berbagai kanal digital yang kita miliki, kita berusaha menciptakan sudut pandang berita, menyebarkan isu, agar orang mau bergunjing, menyulut gosip, memicu desas-desus dan membangkitkan publisitas tentang band kita. Nah tetapi, media sosial menyimpan monster mengerikan. Bagi individu yang belum punya mental baja menghadapi respon publik, ini akan jadi tragedi..

Coba tonton film The Social Dilemma, film dokudrama Amerika tahun 2020 yang disutradarai oleh Jeff Orlowski. Film ini mengeksplorasi kebangkitan media sosial dan kerusakan yang ditimbulkannya pada masyarakat. Desainnya dimaksudkan untuk memelihara kecanduan penggunanya dan berpengaruh pada kesehatan mental. Narasumber di film itu menyatakan, bahwa keberadaan platform media sosial sangat berperan dalam memberikan perubahan positif bagi masyarakat, sekaligus telah menimbulkan konsekuensi yang problematis. Rumah adalah tempat yang aman bagi anak muda, tetapi sekarang seseorang masih terjangkau untuk menjadi korban penindasan siber, begitu ia mulai memiliki akun media sosial.

Pendindasan itu bernama Cyberbullying, pelecehan di dunia maya yang menggunakan sarana elektronik. Sebuah perilaku agresif yang sengaja dilakukan oleh kelompok atau individu yang cemburu, iri, marah serta dengki pada seseorang atau kelompok. Pelecehan dilakukan berulang kali dari waktu ke waktu, terhadap korban yang tidak dapat membela dirinya sendiri. Para perisak memproduksi gambar atau teks yang dimaksudkan untuk menyakiti atau mempermalukan karya musik kita. Bukan kritik atau saran, mereka bisa menghina lagu kita atau nama baik kita melalui kolom komentar di Youtube, Facebook, Twitter atau Instagram.

media sosial menyimpan monster mengerikan. Bagi individu yang belum punya mental baja menghadapi respon publik, ini akan jadi tragedi

Bagi generasi Zoomer (Gen Z) pelecehan ini menjadi semakin umum, karena ranah digital telah berkembang dan teknologi telah maju. Tombol ‘Like’ dan ‘Dislike’ disediakan oleh patform agar publik bisa bersikap bebas dalam merespon. Prilaku menghina dengan perkataan kasar pada personil atau band, kerap terjadi di kolom komentar. Pelecehan dapat diidentifikasi dengan niat memang untuk menyakiti dan merendahkan. Korban penindasan akan berjatuhan, apalagi mereka yang belum punya mental baja, pada akhirnya mengalami perasaan harga diri yang rendah dan memicu datangnya perasaan emosional negatif, seperti ketakutan, frustrasi, marah, atau depresi. Dan lebih parah lagi, mereka berani berdebat langsung di kolom komentar, berani menghujat secara terbuka, karena menggunakan akun palsu. Saya pribadi mengalami ini, lagu ‘Grunge Harga Mati’ milik band saya, Cupumanik, dirusak, diganti dan dihina sedemikian rupa menjadi bahan olok-olok beberapa pihak di komunitas grunge Indonesia.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments