Musisiku Sayang, Musisiku Malang: Musisi Ter-bully Netizen di 2020

Jan 13, 2021
Musisi Ter-bully Netizen di 2020

Jika kamu tidak sanggup menahan panas kompor, jangan bekerja di dapur. Pepatah tersebut ditujukan sebagai peringatan bagi mereka yang menaruh harap menjadi seorang juru masak. Dapur rekaman juga demikian, musisi punya risiko tak menyenangkannya sendiri. Di-bully salah satunya. Betul, perlakuan spesial sudah bukan menjadi sesuatu yang asing. Bak magnet yang mampu menarik perhatian, semua mata tertuju padanya. Diprioritaskan adalah perlakuan manis yang datang setelahnya. Digandrungi, berkesempatan besar untuk menjaring keuntungan finansial, hingga menjadi pendobrak semangat banyak orang adalah kemegahan-kemegahan lainnya.

Apabila menjadi terkenal tidak mendatangkan malapetaka, bintang Gilda Radner tidak akan mengalami anorexia karena tekanan penampilan. Direktur Psychosocial Stress Research Program di Florida State University, Charles Figley, memaparkan beberapa sumber tekanan yang biasa menjadi beban bagi mereka yang biasa kita temui dalam layar. Kehilangan privasi, penggemar yang berlebihan, terus-terusan dipantau, pers, dan yang tak boleh dilupakan, kritik.

Mengkritik dan berkomentar memang hak semua orang. Tidak ada yang salah dengan hal itu. Hanya saja, tidak semuanya menggunakannya dengan benar dan tepat sasaran. Lontaran kalimat kasar sebagai upaya melabeli, mencaci dengan sindiran, hingga menghina secara terang-terangan alias cyberbullying adalah dinamika sosial media yang nyaris tidak pernah absen.  Musisi di bawah ini adalah sasaran dari amukan, sindiran, hingga umpatan netizen sepanjang tahun 2020:

 

Hindia (Baskara Putra)

Hindia

Hindia resmi akhiri Menari Dengan Bayangan

Jagat media sosial disibukkan dengan dua potongan video yang berisi Baskara tengah mengomentari genre musik rock dan metal––menyebutnya tidak zaman lagi dan sudah tidak didengar lagi di zaman sekarang. Peradaban, karyanya bersama .Feast disebutkan oleh Baskara sebagai lagu yang jauh lebih keras dari lagu-lagu musik metal yang pernah didengarnya. Hal ini ramai dan mendapatkan kecaman dari komunitas musik rock dan metal. Sejumlah musisi rock dan metal juga turut bersuara.

*Video Ngobam: Momen Baskara bilang kalau musik metal sudah tidak relevan dan tidak lagi didengarkan.

Baskara tak tinggal diam, ia membuat video permintaan maaf yang kemudian diunggah di laman Instagram Feast. Ia mengaku memiliki jutaan rasa hormat kepada setiap orang yang berjuang di industri musik. Terlontar pula janji untuk lebih berhati-hati dalam mengeluarkan pernyataan dan bersikap. Mantan staff departemen pendidikan dan kebudayaan Universitas Indonesia ini juga meminta kepada setiap orang untuk menegurnya jika kembali mengulangi kesalahan serupa.

*Video wawancara .Feast dengan Musik Medcom: Momen Baskara bilang Peradaban lebih keras dari lagu metal manapun yang ia dengar.

 

Nadin Amizah

Kontroversi yang menghampiri dirinya dimulai lewat unggahan pelantun “Bertaut” itu di Twitter. Ia mengunggah empat foto dirinya dengan membubuhkan keterangan, “Your girlfriend. Your mentally unstable girlfriend,” Dari situ, Nadin dianggap meromantisasi isu kesehatan mental. Mereka menasehati, bahwa tindakan yang paling tepat apabila mengalami hal tersebut adalah mencari pertolongan pada profesional, bukan membanggakannya.

Hal-hal remeh lain juga tak luput dari amukan peselancar media sosial. Mereka menyoalkan keputusaan Nadin yang merahasiakan toko-toko yang menjual pakaian yang biasa ia pakai. Penampilannya di atas panggung juga sempat dibahas, teman duet Kunto Aji di lagu berjudul “Selaras” ini dianggap terlalu puitis oleh beberapa orang, terlalu melankolis dan cengeng.

 

Jerinx aka JRX – Superman Is Dead

Jerinx SID. Foto: dok. istimewa

Drummer grup band Superman Is Dead (SID) ini ditetapkan sebagai tersangka oleh Polda Bali lewat kasus dugaan pencemaran nama baik Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Provinsi Bali. Sikap kirtisnya memang tak jarang menuai kontroversi. Ia tak segan-segan mengemukakan teori konspirasi terkait Covid-19 yang tengah mewabah di Indonesia. Kritik dan cibiran lantas menghampirinya. Imbasnya? Akun Twitter Jerinx SID beberapa kali terkena suspend.

Jerinx ditahan lantaran melanggar UU ITE atas postingan yang dibuat di akun Instagram-nya yang menyatakan IDI sebagai “kacung WHO” karena mewajibkan dilakukannya rapid test. Pihak berwenang menggunakan Pasal 28 ayat (2) UU ITE dan/atau Pasal 27 ayat (3) UU ITE mengenai ujaran kebencian dan pencemaran nama baik.

Para simpatisan, rekan musisi, hingga publik figure juga turut memberikan pendapat mereka kepada hal ini. Banyak yang menganggap pasal pidana UU ITE untuk menjerat Jerinx atas postingan yang dibuatnya itu tidaklah tepat –cenderung dipaksakan. Apabila kita lihat, UU ITE kerap menjadi momok untuk berpendapat. Risiko yang terlalu nyata membuat seseorang engan berpikir kritis dan membagikan pikirannya. Jerinx bisa saja menyebar informasi sesat soal Corona, tapi memberikannya hukuman dengan pasal karet UU ITE bukanlah hal yang tepat.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by 𝐉𝐑𝐗 (@jrxsid)

 

 Ardhito Pramono

Ardhito Pramono / Foto: akun Instagram @ardhitopramono

“Gue sedih, liat temen-temen musisi yang udah mulai dapet jadwal main di cafe/tempat hiburan. Tapi sekarang dijatohin lagi. Apa salah musisi? Padahal seni pertunjukan secara fisika adalah timbal balik,” ujar Ardhito Pramono melalui akun twitternya @ardhitoprmn.

Pemeran Kale ini tidak hanya sekali dua kali menciptakan gaduh-gaduh. Ia sempat menuliskan cuitan yang dinilai kurang empati. Di tengah meningkatnya jumlah kasus positif Covid-19, Ardhito justru menyesalkan pelarangan berkumpul dan berkerumun termasuk dalam pertunjukan seni yang akan kembali diberlakukan. Sontak saja netizen geram dan memenuhi kolom komentarnya.

Ardhito juga masuk dalam jajaran public figure yang dianggap mendukung RUU Cipta Kerja dan menuai kontroversi di masyarakat. Hal ini dinilai dari unggahan kontennya yang berbubuhkan hashtag #IndonesiaButuhKerja. Atas ketidaktahuan dan nirempati pada mereka yang menolak RUU ini, Ardhito meminta maaf. Menambahkan, ia berujar bahwa dirinya adalah musisi, bukan buzzer. Ia ingin memiliki pengaruh, tapi lewat musik yang ia buat.

Anehnya, cuitan Ardhito 10 tahun lalu masih saja dipersoalkan oleh warganet. Tweet bermuatan rasis dan homophobia ini lantas mengundang celotahan yang tak mengenakkan. Melalui Instagram Live dan potongan video di Twitter, Ardhito Pramono memberikan klarifikasi dan meminta maaf. Tweet tersebut ada saat umurnya masih 14 tahun, ia juga mengaku bahwasa akun Twitternya dahulu sempat diretas.

*Klarifikasi Arhito terkait indikasi dirinya mendukung RUU Cipta Kerja.

 

Pamungkas

Pamungkas

Ada-ada saja cara netizen untuk mempersoalkan segala sesuatu. Kasus Pamungkas contohnya, ia dianggap terlalu memaksakan diri untuk menunjukan aksen british dalam cara berbicaranya. Hal tersebut sudah mampu menyulut niatan beberapa pengguna sosial media untuk melayangkan ocehan negatif.

Foto lawas Pamungkas saat membawa gitar dan mengenakan kopyah untuk mengiringi seorang penyanyi dalam sebuah acara di stasiun Trans TV juga ramai diperbincangkan di lini masa. Tak ambil pusing, Pamungkas mengklarifikasi dan memberikan cerita panjang terkait foto viral tersebut.

***

Nyatanya, perundungan atau bullying bukan hanya berkisar di lingkungan sekolah. Musabab terjadinya bullying pada seseorang juga tidak terlalu kontras; mereka yang berani menjadi dirinya sendiri, berterus terang, individu terbaik, hingga rajin berinovasi, adalah sasaran empuk dari sang pelaku pem-bully-an –dalam kasus ini, warganet. Ah, musisi-ku sayang, musisi-ku malang, yang kuat ya!

 

____

Penulis
Hillfrom Timotius
Lulus SMA saat pandemi Covid-19 dan mengikuti Ospek di depan layar laptop. Pembaca dan penulis. Mendirikan School For Cool. Fans berat serial How I Met Your Mother, Bakmie Cong Sim, dan Nuran Wibisono. Oh ya, kalau nama saya terlalu sulit, kamu bisa memanggil saya Ipom. Salam kenal.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Eksplor konten lain Pophariini

Makassar Bukan Lagi Hanya Sekadar Daerah

Tulisan kempat Bising Kota kali ini ditulis langsung oleh Brandon Hilton dari Makassar

Portree Saling Menguatkan di Single “Jingga”

Portree mendedikasikan lagu “Jingga” untuk teman dan sahabat yang berada di lingkaran mereka, yang selalu hadir dan terlibat di setiap langkah Portree.