Dialog Dini Hari Menjelajahi Hal Baru Dengan Parahidup 

Jul 28, 2019

Setelah lima tahun sibuk dengan kehidupan masing-masing, band folk Dialog Dini Hari kembali dengan Parahidup, album berisi sebelas lagu yang puspa warna yang dirilis pada Rabu, 17 Juli 2019. 

Parahidup yang menunjukkan pendekatan musikal yang baru untuk Dialog Dini Hari ini diciptakan ketika Dialog Dini Hari berkumpul bersama dan memutuskan bahwa band tersebut harus tetap berevolusi dan memberi kontribusi dalam dunia permusikan. 

Penggunaan sampling dan peran keyboard yang mulai mendapat tempat menunjukkan bahwa musik Dialog Dini Hari menjelajahi hal-hal baru dalam album ini. “Kami mengajak pendengar menjejalah batas-batas bermusik tiap personil. Didobraknya sekat-sekat mental harus begini, harus begitu. Kami memilih untuk tidak peduli lagi, biarkan lepas saja,” kata Pohon Tua (vokalis dan gitaris Dialog Dini Hari)

Sampul album Parahidup milik Dialog Dini Hari

Dari penulisan lagu, tidak ada tema khusus yang coba diusung oleh Dialog Dini Hari. “Bisa dibilang masih sama kok, mental kami folk. Musik folk itu kan bicara tentang sensitivitas sosial. Kebiasan manusia pada umumnya, kami tetap berbicara itu. Kami merekam kejadian manusia, alam dan permasalahannya yang membuat saya sebagai penulis lirik tidak pernah kehilangan ide. Masalah kita sebagai manusia itu banyak sekali,” canda Pohon Tua. 

Versi fisik dan dalam bentuk deluxe serta merchandise khusus album ini akan dirilis dalam sebuah pesta rilis yang akan diselenggarakan di Jakarta pada bulan Agustus 2019 mendatang, sementara bentuk digital sudah dirilis pada tanggal 17 Juli kemarin. 

 

____

Penulis
Elma Nabiila
Mahasiswa hukum yang suka musik dan hobi jalan-jalan.

Eksplor konten lain Pophariini

Album Ningrat, Jamrud: Kontrasepsi dan Duka Surti

21 Tahun album Ningrat milik Jamrud , gitaris dan penulis lagu Azis M.Siagian sempat bikin geger tahun 2000 lewat “Surti-Tejo”.

Selesai Vakum, Audrey Tapiheru Bocorkan Tanggal Rilis EP Debutnya

Audrey Tapiheru merasa bahwa EP debut ini adalah sebuah ‘hutang’ kepada para pendengarnya yang telah setia menunggunya selama vakum.