Galang Dana Irama Nusantara, Pusat Arsip Musik Populer Indonesia

370
Ilustrasi: @abkadakab

Seperti apa musik populer Indonesia di era terdahulu berbunyi? Sekeren apakah lagu-lagunya? Sebentar, saya perkenalkan dulu pada seseorang bernama David Tarigan, lahir pada 1977, tinggal di Jakarta.

Lihatlah David kecil; dia keranjingan the Beatles beserta kroni-kroni rock 1960an/70an lainnya. “Waktu SD, gue kalau dengerin ‘Strawberry Fields Forever’, pas bagian drumnya, gue suka main-mainin volumenya,” kisah David tertawa. Bila mengunjungi rumah siapa saja, rumah neneknya atau tetangganya, David kecil pasti langsung sibuk mengecek koleksi kaset di sana, memutarnya, memilah-milah yang sesuai dengan seleranya. Bahkan bila bermain action figure, tiba-tiba senjata difantasikan sebagai gitar— dalam istilah David: “Ada rock di dalam mainan.”

Adalah seorang “abang-abangan” di kompleks rumahnya, yang bisa jadi paling bertanggung jawab atas “terjerumusnya” David Tarigan ke lembah rock. Memperkenalkan musik-musik itu, yang langsung disukai David. “Dia ngelukis Rolling Stones di tembok kamarnya gede banget,” David mengenang. Atau, tiba-tiba menyodorkan kaset, “Nih, the Doors,” lanjut David.

Dari sana, David remaja terus bergerak, semakin tidak bisa menempatkan musik hanya sebagai “musik”. David mulai berkenalan dengan punk rock, indie rock, hip hop. menemukan musik-musik tersebut memiliki relasi dengan apa yang sebelumnya telah ia dengarkan. Tapi ada satu perkenalan yang tak kalah dahsyatnya; saat kelas satu SMP, untuk pertama kalinya David menjejakkan kaki di Jalan Surabaya. Di sana ia mulai mengumpulkan piringan hitam. Berawal dari rock Barat, David mulai terpapar dengan rekaman musik Indonesia dari masa lalu.

Dari sanalah ketertarikannya pada musik Indonesia lama dimulai. Bersama segala latar belakangnya yang tidak sama dengan “pendengar asli” rekaman Indonesia lama di eranya, David muda mendengar dengan cara yang berbeda. David misalnya, merasa tersentak bahwa Koes Plus memiliki lagu sembrono dan sekeras “Pentjuri Hati”. Atau ketika mendengar “Haai” dari Panbers yang mengingatkannya pada band indie/alternative rock Jane’s Addiction. David semakin larut sendirian mengejar lebih dalam, tanpa banyak orang di luar sana yang tahu akan musik-musik itu, tanpa menemukan teman berbincang. Ketika mengobrol dengan orang-orang yang lebih tua sekalipun, saat itu, kebanyakan fokusnya berbeda. Dan tentu saja David mendapatkan apa yang disebut sebagai “keren” dari musik-musik tersebut.

David tersentak bahwa Koes Plus memiliki lagu sembrono dan sekeras “Pentjuri Hati”. Juga “Haai” Panbers yang mengingatkannya pada band Jane’s Addiction

Pada The Soleh Solihun Interview, saat David dan Alvin mewakili Irama Nusantara untuk diwawancara, bahkan terungkap bahwa David Tarigan dan teman-teman kuliahnya di FSRD ITB Bandung, sudah mulai melakukan cikal bakal apa yang kini menjadi Irama Nusantara, termasuk membangun website-nya, sejak circa 1998/99. Semacam prototype dari yang dikerjakannya sekarang.

Di awal 2000an, David Tarigan bergabung dengan Aksara Bookstore, kemudian menjadi A&R Aksara Records. Proyek awal yang diajukan oleh David sebetulnya mengumpulkan rilisan-rilisan Indonesia lama sebagai bentuk pengarsipan. Karena satu dan lain hal Aksara Records akhirnya justru mulai membuat album kompilasi untuk mendokumentasikan sirkuit musik cutting edge terkini; JKT: SKRG pada 2004.

Aura “Indonesia lama” bisa kita temukan di toko buku Aksara pada era itu. Bila mengunjungi sesi musik di Aksara, seringkali tampak piringan hitam Dara Puspita atau AKA, misalnya, dipajang di sana. Itu koleksi pribadi David. Pada rekaman Aksara Records, kita bisa temukan jejaknya melalui lagu-lagu seperti “Pergi Tanpa Pesan” yang dinyanyikan kembali oleh SORE atau “Aksi Kucing” yang dibawakan ulang oleh White Shoes and the Couples Company.