2258

Gelombang Terkini Musisi Independen Berbahasa Indonesia

Sore dan Efek Rumah Kaca merilis album perdana penting di era 2000an awal. Masing-masing adalah: Centralismo di tahun 2005 dan Self-titled alias Efek Rumah Kaca, 2007. Pentingnya album ini adalah karena sebagai band baru yang merilis album perdana, mereka sudah mampu memberikan pandangan baru tentang penulisan lirik Indonesia yang berbeda pada saat itu. Bahwa lirik bahasa Indonesia bisa indah, puitis sekaligus, lantang dan sekaligus menusuk tajam. Dan dengan musik yang tepat bisa menjadi kombinasi yang mematikan.

Tidak mengherankan bila kemudian cara penulisan lirik mereka memantik kelahiran para pujangga lirik lagu Indonesia berikutnya. Dari Payung Teduh, Barasuara, Dialog Dini Hari, Bandaneira hingga Tigapagi dan masih banyak lagi. Tidak berhenti di situ saat ini generasi terbaru grup musik/musisi solois dengan lirik Indonesia yang menarik pun terus bermunculan. Meskipun saking menariknya hingga beberapa dari mereka cukup sulit dipahami maknanya. Dan ini adalah beberapa nama di antaranya. Silahkan menambahkan di kolom komentar jika ada nama-nama yang terlewat.

Baca juga:  5 Lagu Indonesia Pilihan Teza Sumendra

 

.Feast

Single pertama “Peradaban” yang dirilis Juni tahun ini,  dari album baru mereka, Beberapa Orang Memaafkan cukup menjelaskan apa yang mereka ingin sampaikan dengan lantang dan lugas. Perhatikan bagaimana pesan mereka ini bergaung dengan masif di panggung-panggung mereka. Dari panggung kecil hingga panggung besar model Synchronize Festival bulan ini yang dipenuhi sesak penonton berjubel yang serentak menyanyikan bait lagu ini.

Bawa pesan ini ke persekutuanmu |Tempat ibadah terbakar lagi | Bawa pesan ini lari ke keluargamu | Nama kita diinjak lagi

(.Feast – Peradaban)

 

 

Polka Wars  

Polka Wars | Foto: dok. Istimewa

Sebelumnya lirik di album perdana mereka Axis Mundi yang dirilis tahun 2015 berbahasa Inggris penuh. Lalu tahun 2017 mereka mengeluarkan single berbahasa Indonesia. Dan hasilnya sangat tidak mengecewakan. Nuansa ‘Paloh Pop’ terdengar secara menyenangkan. Lupakan sejenak video musiknya yang mengejutkan, coba simak lirik puitis ambigu yang sangat terbuka untuk bebas diinterpretasikan

Baca juga:  Album Mengubah Hidup: Pandu Fathoni

Malam musim semi | Raja alam rasa | Berakhir di sana | Kata rangkumkan udara
Dalam lirih perih | Berganti harapan | Berakhir di salam | Kata rangkumkan udara

(Polkawars – Rangkum)

 

 

Glaskaca

Glaskaca | foto: dok. istimewa

Dengan posisi Iga Massardi sebagai produser, kita bisa menebak rasa apa yang ditawarkan. Sebelumnya Glaskaca merilis 2 EP yang berjudul Identity di tahun 2015, dan Staedig di 2017 yang semua liriknya ditulis dalam bahasa inggris. Di album penuhnya yang dirilis tahun ini, Adendum, Glaskaca menulis semua liriknya dalam bahasa Indonesia. Dan di usaha perdananya ini Glaskaca memberi ruang buat kita menebak-nebak liriknya yang puitis dan terkias.

Diamkan ingatan | Memilih dirinya | Tengok lagi pada diri yang usang.
Tanpa meringis kita terkikis | Dengan tergelak di air yang beriak | Tanpa meringis kita terkikis | Dengan tergelak di air yang beriak

(Glaskaca – Banda)

Baca juga:  Internet dan Media Sosial Dalam Lirik Musik Indonesia

 

Sisitipsi

Sisitipsi. Foto: dok. istimewa

Gerombolan begundal IKJ ini sangat bersenang-senang dengan lirik Indonesia di dua albumnya, 73% (2016) dan ML “Mau Lagi” (2018). Bahasa sehari-hari menghiasi semua lagu-lagu brengsek milik mereka yang asik untuk dibawa bergoyang maksimal ataupun berdansa kecil. Berbagai tema seputar bersenang-senang lengkap dengan kenakalan mereka bahas. Dari alkohol dan bersulang, soal tante, soal dansa dansi dan sikap masa bodo di single terakhir mereka: BOMAT! (bodo-amat). Simak kutipan lirik lagu dari album pertama mereka yang selalu menjadi anthem di setiap panggung mereka: