Guru Pengajar Musik: Hidup dari (Mengajar) Musik

Nov 11, 2021
Guru Musik

“Dari mana inspirasi menjadi pengajar musik dan guru vokal?” tanya saya pada Indra Aziz. Mari kita mulai sedikit mengulik tentang hidup dari mengajar musik, salah satu pilihan bidang dari dunia musik.

“Yang pertama mendorong untuk ngajar waktu itu Ibu Tjut Nyak Deviana Daudsjah. Beliau meyakinkan gua bahwa profesi pengajar musik itu nggak kalah mengasyikkan dari dunia panggung. Dan memang terbukti,” jawabnya.

Indra Aziz pertama kali menjadi guru musik pada 2001, melatih saudaranya sendiri.

Kemudian pada 2005 Indra menjadi guru musik di sekolah Al-Falah untuk kelas TK hingga SMP. Pada 2007 ia mulai menjadi dosen tamu di UPH, lalu jadi dosen di IMI pada 2009.

Saat memulai menjadi pengajar musik dulu, Indra Aziz masih membarenginya dengan bermain reguler di hotel dan kafe sekitar tiga malam setiap pekannya.

Untuk menjadi guru, tentu dibutuhkan kemampuan berkomunikasi yang baik, Indra Aziz mempelajarinya justru dari pengalaman panggungnya. “Bagi gua mengajar itu sangat mirip dengan perform,” terangnya.

Saat memulai menjadi pengajar musik dulu, Indra Aziz masih membarenginya dengan bermain reguler di hotel dan kafe sekitar tiga malam setiap pekannya. Sedangkan Indra Aziz hari ini adalah nama yang dikenal sebagai pelatih vokal mumpuni, baik bagi sesama musisi maupun masyarakat luas.

Indra Aziz / dok. pribadi

“Sejak kapan mulai menjadi pelatih vokal untuk penyanyi rekaman?” tanya saya.

“Lupa, kayaknya waktu album pertama Raisa,” jawabnya. Raisa, debut album Raisa pada 2011, adalah rekaman yang melambungkan nama Raisa. Termasuk ada peran Indra Aziz di sana.

Menurut Indra Aziz, sesungguhnya setiap orang cocok untuk belajar vokal, meskipun tujuannya bisa berbeda-beda. Bagi penyanyi profesional, lebih untuk menjaga suara dengan teknik yang baik dan maintenance. Sedangkan bagi pemula atau hobi, tujuannya untuk belajar konsep bermusik, nada, improvisasi, dan sebagainya.

Indra Aziz juga pelatih vokal “langganan” untuk berbagai program kompetisi bakat di televisi, seperti Indonesia Idol, X-Factor IndonesiaRising Star IndonesiaIndonesia Mencari BakatNez AcademyThe Voice Indonesia, hingga Idola Cilik. Dari menjalankan profesi itu, “Pelajaran terbesar yang gua ambil dari pengalaman kompetisi bakat di TV adalah satu: pentingnya karakter dan ciri khas,” tegasnya.

“Lo menjadi pelatih vokal untuk Afgan, Raisa, Agnez Mo, bahkan sampai penyanyi senior Ari Lasso. Bisa ceritakan apa saja tugas atau pekerjaaan pelatih vokal untuk penyanyi profesional?” tanya saya.

“Pelajaran terbesar yang gua ambil dari pengalaman ajang kompetisi bakat di TV adalah satu: pentingnya karakter dan ciri khas,” tegasnya.

“Di sini peran gua nggak mengubah konsep musik mereka melainkan fokus pada memastikan bahwa vokal mereka prima dengan cara melatih teknik yang baik secara internal. Mungkin lo nggak akan dengar bedanya, tapi mereka bisa merasakan ketika mereka nyanyi dengan teknik yang baik, stamina mereka bagus, kelincahan vokal mereka konsisten, dan lebih jarang cedera,” jelasnya.

Indra Aziz sendiri terus berproses dan berinovasi hingga kemudian mendirikan VokalPlus, sebuah entitas pembuat konten di media sosial yang membagikan tips bernyanyi. Saat ini kanal YouTube VokalPlus adalah yang terbesar untuk topik tutorial, tips dan segala hal yang berhubungan dengan nyanyi di Indonesia, dengan pelanggan dari berbagai negara.

“Awalnya karena bikin hashtag #singingtips di Twitter. Lalu karena ramai, jadi bikin YouTube channel,” Indra Aziz menjelaskan asal muasalnya.

Saya bertanya, “Tantangan atau suka duka apa saja dalam menjalani VokalPlus?”

“Gua selalu encourage murid gua untuk coba guru lain, pelajari teknik lain. Karena gua yakin setiap guru yang asik pasti punya style dan ilmu yang bisa diambil.”

”Nomor satu adalah meyakinkan orang bahwa cedera vokal itu nyata, nyanyi itu bisa dilatih. Karena kebanyakan orang meyakini bahwa nyanyi hanya soal bakat alami saja.”

Saya bertanya lagi, “Setelah menjalani ini semua, menurut lo hal apa aja yang paling penting yang lo lakukan sampai lo bisa berada di posisi sekarang sebagai guru vokal?”

“Sama seperti halnya performer, guru vokal harus punya karakter dan brand masing-masing juga. Gua selalu encourage murid gua untuk coba guru lain, pelajari teknik lain. Karena gua yakin setiap guru yang asyik pasti punya style dan ilmu yang bisa diambil.”

Betul juga, tiap-tiap guru yang “asyik” pasti ada “sesuatu”-nya. Tapi bagaimana menurut Indra Aziz tentang pendapatan finansial menjadi guru vokal?

“Pengajar musik wajib memanfaatkan internet untuk mengembangkan usaha mereka dalam mengajar karena banyak potensi yang belum tergali. Dari jualan online course, ngajar via Zoom, jual ebook, blog, YouTube, dan lain-lain.”

“Kebetulan gua sekarang punya sekolah, bekerja sama dengan MSI. Infonya ada di indraaziz.com/iavs. Jadi ada aspek bisnisnya juga sedikit. Selain itu gua punya aplikasi pemanasan vokal, namanya 7 Minutes Vocal Warm Up di Android dan iOS, dan terakhir tentu YouTube channel. Alhamdulillah untuk hidup sehari-hari cukup,” jawabnya.

Ini pertanyaan penutup saya untuk Indra Aziz, “Bagaimana masa depan para pengajar musik di Indonesia menurut lo?”

“Pengajar musik akan terus dibutuhkan. Tapi saran gua pengajar musik wajib memanfaatkan internet untuk mengembangkan usaha mereka dalam mengajar karena banyak potensi yang belum tergali. Dari jualan online course, ngajar via Zoom, jual ebook, blog, YouTube, dan lain-lain. Jadi masa depannya akan cerah dengan syarat di atas tadi.”

***

Saya juga sedikit mengobrol dengan Asep Rohman alias Kang Othep, kini pengajar vokal di Michelle Efferin Music Centre, Bandung.  Kang Othep sempat mengajar vokal pada 1990, namun terhenti karena kesibukan main band. Kang Othep baru kembali mengajar pada 2008 di Venche Music School, berlangsung di sana hingga 2018. Di Bandung Kang Othep pernah mengajar nama-nama profesional seperti Dira Sugandi,

Asep Rohman alias Kang Othep / dok. pribadi

“Apa saja sebetulnya motivasi seseorang ikut les vokal?” tanya saya pada Kang Othep.

Menurut Kang Othep, ada macam-macam latar belakang tujuan. Salah satunya, ikut les, berada di sekolah musik, agar lebih mudah untuk bertemu dengan komunitas musik, jadi ketemu “lingkungan musik”. Selain itu, ada yang memang berniat menjadi penyanyi profesional, ada yang mengisi waktu karena hobi bernyanyi, bahkan ada juga yang karena keinginan orang tua.

“Pengalaman apa yang berkesan dari mengajar?” saya bertanya lagi.

“Buat saya, ngajar itu have fun. Hiburan ketika mendapat murid yang memang punya talenta, karena tidak semua yang belajar sudah punya talenta. Kalau di vokal, intinya harus bisa nyanyi, tetap harus ada ‘bahannya’, ada perbedaan dengan les alat musik,” jelas Kang Othep.

Menurut Kang Othep, ada macam-macam latar belakang tujuan. Ada yang memang berniat menjadi penyanyi profesional, ada yang mengisi waktu karena hobi bernyanyi, bahkan ada juga yang karena keinginan orang tua.

Ngomong-ngomong, menurut Kang Othep, bagaimanakah dengan penghasilan menjadi guru vokal hari ini?

“Penghasilan? Rezeki sudah dijamin, kitanya mau mensyukuri atau tidak,” jawab Kang Othep mantap. Memang terjadi penurunan murid yang signifikan di masa pandemi, dari biasa mengajar 40 murid, kini jadi sekitar 11-12 murid. Tapi Kang Othep sepertinya memang menikmati hari-harinya mengajar.

“Yang paling penting kita mau nemenin orang yang mau nyanyi. Inti dari ngajar vokal itu sabar,” ujarnya.

 ***

Berbeda dengan guru di tempat kursus, saya mengobrol juga dengan Aprimela Prawidiyanti, biasa disapa Mela, pemain keyboard White Shoes & The Couples Company yang juga seorang pengajar musik di sekolah umum.

Tamat dari Sekolah Menengah Musik (SMM) Jogjakarta pada 2000, mengambil jurusan major instrument viola/biola alto, di sana juga Mela belajar teori musik, komposisi lagu, orkestrasi, membaca partitur, dan wajib belajar piano.

Dari SMM, Mela melanjutkan studi di Institut Kesenian Jakarta, tetap fokus pada viola.

Mela mulai mengajar sekitar 2006 di Sekolah Internasional Jubilee School, Sunter, Jakarta, untuk kelas SMP. Kini, sudah tiga tahun belakangan, Mela mengajar di sekolah HighScope untuk siswa kelas 4 dan 5 SD.

Aprimela Prawidiyanti, alias Mela “Whiteshoes and the Couples Company” / dok. pribadi

“Gue suka main. Ngobrol. Kalau dibebanin banget, beneran deh, anak-anak benci belajar musik,” cerita Mela tentang pengalamannya mengajar.

Bagi Mela, harus hati-hati juga mengajak anak-anak bernyanyi atau belajar musik, karena bisa ada murid yang ngambek atau menangis, karena kebijakan sekolah HighScope yang juga terbuka untuk menerima anak-anak berkebutuhan khusus.

Mela melihat bahwa tugas guru untuk membuka jalan bagi mereka yang mau belajar, tapi jangan memaksa. Tugas guru adalah gimana caranya supaya anak-anak minat bermain musik.

“Gue suka main. Ngobrol. Kalau dibebanin banget, beneran deh, anak-anak benci belajar musik.”

“Anak-anak jangan langsung disuruh belajar not balok. Belajarnya bisa mulai dari perkusi, pakai alat-alat yang di rumah seperti panci atau Aqua galon. Kalau enjoy belajarnya, mereka akan senang belajar,”ujar Mela. “Mengajar musik harus mempelajari psikologi anak juga. Apa yang mereka suka, apa yang mereka tidak suka, apa yang mereka harapkan dari belajar musik.”

Mela merasa perlunya menggabungkan kurikulum dari pemerintah dengan inovasi atau terobosan baru, apalagi dengan datangnya pandemi.

“Sekolah jarak jauh, anak-anak disuruh buka kamera saja susah loh,” pengalaman Mela terhadap fenomena sekolah dari rumah. Maka pelajaran musik di sekolah hari ini, bukan hanya hal-hal oldschool seperti bermain recorder dan pianika, tapi bahkan juga musik multimedia.

“Bikin musik pakai software, bukan alat musik.  Anak-anak tertarik dengan digital music. “ Menurut Mela, digital music perlu masuk ke kurikulum sekolah.

Di kelas dengan murid berkisar 15-20 siswa, Mela juga mengajarkan digital music, menggunakan Chrome Music Lab; di dalam program tersebut terdapat fitur piano yang bisa digunakan oleh murid, bisa menyimpan musik yang dimainkan, meng-copy-nya, dan dikirimkan ke guru. Kalau punya alat musik di rumah bisa digunakan. Tapi jika tidak ada, maka bisa menggunakan perangkat digital.

“Bikin musik pakai software, bukan alat musik.  Anak-anak tertarik dengan digital music. “ Menurut Mela, digital music perlu masuk ke kurikulum sekolah.

Metode ini juga dirasa oleh Mela cocok diaplikasikan pada masa sekarang, “Ke sekolah nggak boleh buka masker, jadi nggak bisa main pianika, misalnya,” jelas Mela.

Mela mengalami bahwa menjadi guru musik hari ini juga harus bisa editing musik,  sedikit banyak bisa sound engineering juga. Mela pun mempelajarinya. “Karena suka, gak ada beban untuk ngajar,” kata Mela.

Soal pendapatan, berprofesi sebagai guru musik di sekolah, bisa dikatakan Mela  “ngantor” dengan jam kerja hari-hari dan gaji bulanan. Pilihan yang dirasakan tepat bagi Mela untuk kondisinya sekarang.

Industri musik memang terus berubah, namun rupanya menjadi pengajar—dengan suka duka, dinamika dan potensi pengembangannya—masih menjadi profesi yang menarik untuk hidup dari musik.

Selamat bekerja Bapak dan Ibu Guru!


 

Penulis
Harlan Boer
Lahir 9 Mei 1977. Sekarang bekerja di sebuah digital advertising agency di Jakarta. Sempat jadi anak band, diantaranya keyboardist The Upstairs dan vokalis C’mon Lennon. Sempat jadi manager band Efek Rumah Kaca. Suka menulis, aneka formatnya . Masih suka dan sempat merilis rekaman karya musiknya yaitu Sakit Generik (2012) Jajan Rock (2013), Sentuhan Minimal (2013) dan Kopi Kaleng (2016)
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Eksplor konten lain Pophariini

Rekomendasi: Dinamika – Bangkutaman

Menariknya di album Dinamika ini dengan masih mengusung musik retro folk rock, Acum dkk. terlihat tidak kehabisan bahan bakar dan justru terdengar fresh.

Jambi: Di Bawah Radar Musik Arus Utama, dan Independen

Sepertinya bukan rahasia umum bahwa Jambi tidak pernah masuk di radar skena musik, terlebih musik independen.