Hari-Hari Awal Efek Rumah Kaca dari Kacamata Manajer Pertama

Feb 9, 2023

Pesan masuk ke HP, dari pemimpin redaksi: “Nulis album-album awal ERK dong, dalam rangka mereka mau rilis album baru. Kayaknya lo orang yang tepat, mengingat jejak lo hehe.” Hari itu, Rimpang, album penuh keempat Efek Rumah Kaca telah siap diluncurkan. Beberapa orang telah mendengarkannya lebih awal di sebuah perhelatan.

Saya, di Leiden, Belanda, sedang beradaptasi dengan pekerjaan baru di sini. Namun tentu menyempatkan diri memutar Rimpang ketika album itu dirilis—beberapa lagu kemudian disetel lagi. Formasi personil ERK hari ini adalah Cholil Mahmud (vokal, gitar), Akbar Bagus Sudibyo (drum), Poppie Airil (bas), dan Reza Ryan (gitar).

Dan ternyata saya dapat jatah libur akhir pekan ini. Siap buka laptop. Mari menulis.

Baiklah, saya mulai dari perkenalan pertama pada (yang nantinya menjadi) musik Efek Rumah Kaca. Di teras belakang rumah seorang teman pada sebuah malam sekitar 2004. Kami sedang nongkrong. Salah seorang teman bernyanyi sambil bermain gitar. Lagunya bagus, kesan saya.

“Lagu siapa itu?” tanya saya.

“Lagunya Cholil,” jawab teman saya.

Lagu itu berjudul “Balerina”, kelak (dengan beberapa perbedaan komposisi) akan termuat dalam album kedua Efek Rumah Kaca, Kamar Gelap (2008).  Lagu “Balerina” itu ada dalam demo albumnya Lull, band-nya Cholil (tentu namanya terinspirasi dari Smashing Pumpkins), yang digandakan sangat terbatas pasca tak berhasil tembus dirilis oleh perusahaan rekaman, dan sampai di tangan teman-teman dekatnya.

Saya tahu Cholil, anak band di kompleks perumahaan teman SMA saya di Ciputat. Kebolehan Cholil bermusik memang menjadi hiburan tersendiri bagi teman-temannya; menontonnya di festival musik, panggung tujuhbelasan, atau menyerahkan gitar untuk dimainkannya sepanjang waktu duduk bersama. Bagi kami, Cholil tergolong jago, suaranya bagus.

“Cholil lagi ngapain aja sekarang?” tanya saya pada teman-teman malam itu.

“Dia ada band lagi, tuh,” jawab seseorang.

“Bagi nomernya Cholil, dong,” pinta saya. Lagu “Balerina” membuat saya ingin mengobrol dengan Cholil, entah apa nanti percakapannya.

Saya tahu Cholil, anak band di kompleks perumahaan teman SMA saya di Ciputat. Kebolehannya bermusik memang menjadi hiburan tersendiri bagi teman-temannya; menontonnya di festival musik, panggung tujuhbelasan, atau menyerahkan gitar untuk dimainkannya sepanjang waktu duduk bersama. Bagi kami, Cholil tergolong jago, suaranya bagus.

Saya hubungi Cholil. Dia cerita tentang band-nya yang berlatih sepekan sekali di daerah Pondok Labu. Nama band itu Hush. Segera saya sempatkan hadir ke studio. Di band itu, selain trio Cholil-Adrian-Akbar yang nantinya menjadi Efek Rumah Kaca, juga ada pemain gitar dan pemain piano. Formasi mereka berlima. Saya ingat beberapa judul lagu karangan mereka: “Nebula”, “Benua”, dan “Bidadariku Tuli”.  Jika dideskripsikan secara mudah, kurang lebih musik mereka seperti paduan Radiohead dan Tori Amos dengan sentuhan gitar delay a la U2.

Selesai sesi latihan itu, kami nongkrong di rumah Akbar. Lalu cukup lama jeda saya tak intens berkomunikasi, kecuali misalnya sesekali obrolan tentang khasiat minuman temulawak. Ilmu dari Cholil. Tipis-tipis saya terapkan mengingat saat itu saya bekerja di advertising agency dan cukup lumrah begadang.

Suatu hari, sekitar 2005, saya hendak berlatih bersama band saya waktu itu, C’mon Lennon. Saya sampai di studio Sinjitos agak lebih awal dari jadwal sewa.

“Ada Cholil lagi latihan,” kata Joseph Saryuf alias Iyup, pemilik Sinjitos Studio sekaligus vokalis/gitaris Sugarstar yang dikenal juga bersama Santamonica. “Sekarang mereka bertiga,” kata Iyup lagi.

Saya menaiki anak tangga, menuju ruang studio. Cholil benyanyi sambil bermain gitar. Adrian bermain bas sambil mengisi vokal latar. Akbar bermain drum. Saya jauh lebih suka formasi bertiga ini. Mereka saling memiliki ruang luas untuk saling mengisi.

Nama Hush berganti menjadi Superego. Mengambil nama dari wilayah psikologi, saya jadi langsung teringat mata kuliah Psikologi Komunikasi dulu di kuliah; tentang Ego, Superego, dan Id.

Tertarik melihat mereka latihan, kami pun mengobrol lagi. Bahasannya semakin fokus untuk bisa merilis album. Saya pikir, mereka butuh seorang manajer untuk mendukung langkah. Mencoba mencari kandidat, tapi malah saya sendiri yang akhirnya ada di sana.

Cholil-Adrian-Akbar meneruskan latihan rutin mereka, yang telah bertahun-tahun dilakoni, mengumpulkan lagu, dan kemudian mencicil merekamnya. Ada hari-hari dahulu Adrian suka naik angkot ke rumah Cholil, menulis musik “gonjrang-gonjreng” berdua, kemudian coba dilatih di studio bersama personil lainnya.

Ternyata ada band dengan nama yang sama, Cholil mulai memikirkan nama pengganti untuk Superego, tapi belum kunjung jumpa.

Setelah menimbang-nimbang, “Bagaimana kalau namanya Efek Rumah Kaca?” usul Cholil suatu hari. “Efek Rumah Kaca” adalah judul sebuah lagu mereka, karangan Akbar dan Cholil. Nama Superego berganti menjadi Efek Rumah Kaca.

Cholil-Adrian-Akbar meneruskan latihan rutin mereka, yang telah bertahun-tahun dilakoni. Tertarik melihat mereka latihan, kami mengobrol lagi. Bahasannya semakin fokus untuk bisa merilis album. Saya pikir, mereka butuh seorang manajer. Mencoba mencari kandidat, tapi malah saya sendiri yang akhirnya ada di sana.

Cholil memberikan CD demo Superego/ERK kepada saya. Bisa dibilang semua lagunya bertempo pelan, atau paling cepat medium. Cantik musiknya, bagus liriknya.

Di masa itu, saya sedang terpikir membuat indie label bersama kakak saya, Andri Boer. Saat itu saya berencana hendak menikah dan mencari kontrakan paviliun. Kakak saya justru mengusulkan nama Paviliun Records untuk label kami, dan saya pada akhirnya setelah menikah justru tidak tinggal di paviliun.

Rilisan pertama Paviliun Records adalah album kompilasi yang kami namakan Paviliun Do Re Mi pada 2006. Pengisinya adalah band/musisi di sekitar kami—di antaranya thedyingsirens, Clover, dan Blossom Diary—tiap-tiap band menyetor data rekamannya, termasuk Efek Rumah Kaca.

Album ini di-mastering oleh Aie, gitaris Room V, dengan peralatan komputer seadanya. Tapi cukup untuk memperdengarkan keindahan Efek Rumah Kaca, paduan petikan gitar-pola bas dan drum-lirik gelap—dalam nomor “Melankolia”. Kelak, dalam versi album pertama ERK, ada tambahan satu not panjang suara terompet menjelang bait “murung itu sungguh indah/melambatkan butir darah”.

Sementara itu, di tahun yang sama, lagu ERK lainnya, “Di Udara” masuk ke dalam kompilasi bertajuk Todays of Yesterdays rilisan BadSectors Records. Penggagasnya adalah Gustaf alias Gucap, yang juga suka nangkring di studio Sinjitos dan terpapar musik ERK.

Cholil memberikan CD demo Superego/ERK kepada saya. Bisa dibilang semua lagunya bertempo pelan, atau paling cepat medium. Cantik musiknya, bagus liriknya. Di masa itu, saya sedang terpikir membuat indie label bersama kakak saya, Andri Boer. Paviliun Records, yang akhirnya merilis debut album debut ERK.

Lagu “Di Udara” di kemudian hari, setelah masuk album pertama ERK, dibuat video musiknya oleh Adi Cumi, vokalis Fable dan Raksasa. Lokasi syuting di kantor saya saat itu. Adi Cumi datang bersama tim kecil termasuk D.O.P. dan editor Faesal Rizal (sutradara film dokumenter The Brandals “Marching Menuju Maut”), Art Director Oscar bersama Crew Oki, Yudi, dan Langlang, Make Up Artist Beben dan Rima Star, koki Bobi, dan balerina Adella.

 

Kami membahas sejumlah demo rekaman Efek Rumah Kaca dan membicarakan akan seperti apa kesan albumnya nanti bersuara. Untuk mencapai dinamika album yang diinginkan, Cholil-Adrian-Akbar masuk ke studio untuk mempersiapkan lagu-lagu lain yang lebih upbeat. Beberapa lagu baru ditulis. Pada periode inilah muncul lagu “Cinta Melulu”.

Saya membawa CD rekaman master Efek Rumah Kaca ke Ruangrupa, dengan maksud menemui seniman/kurator/manajer White Shoes And The Couples Company, Indra Ameng. Dia menyimak CD itu dan kemudian membuat video musik “Cinta Melulu”.

Video musik itu dibuat stop motion dalam dominasi hitam-putih. Indra Ameng membuat daftar foto yang perlu diambil, termasuk di rumah kaca Menteng, Jakarta. Fotografer Ary Sendy turut membantu mengambil gambar. Jadwalnya dari pagi hingga siang, foto-foto pun cukup dikumpulkan. Indra Ameng kemudian juga memilih beberapa bagian lirik “Cinta Melulu” untuk ditampilkan.

Ketika debut album Efek Rumah Kaca dirilis, “Cinta Melulu’ menjadi hit terbesarnya. Radio memutarnya terus-terusan. Kami memperoleh pendapatan RBT yang lumayan besar saat itu, setidaknya untuk ukuran “band indie”.

Di surat kabar, Efek Rumah Kaca juga terbaca. Denny Sakrie menulis resensi untuk Koran Tempo [begitu barunya pengalaman saat itu ERK “masuk koran”, kata Cholil, menunggu koran pagi itu seperti menunggu koran berisi pengumuman UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri)]

Ada satu lagi lagu yang ditulis Cholil, yang diperdengarkannya ke saya agak belakangan. Ia memainkan langsung kepada saya dengan gitar akustik, bukan dari rekaman demo. Lagu itu berjudul “Desember”.

Setelah digodok dalam latihan, “Desember” direkam di Studio Sinjitos.  Joseph Saryuf mengisi slide guitar di lagu itu. “Desember” kemudian menjadi hit lain dari Efek Rumah Kaca yang awet dimainkan pada pertunjukan mereka, hingga kapan saja.

 

Video musik “Desember”dibuat oleh Motulz, komikus pencipta karakter Kapten Bandung yang juga pembuat ilustrasi sampul album self-title Waiting Room (yang karena gambarnya album itu dijuluki “Buaya Ska”). Motulz mengontak teman-temannya di berbagai tempat di dunia, aneka negara, untuk mengirimkan video rekaman saat hujan turun. Terekam pula muncul pelangi. Syuting tambahan personil ERK dilakukan di rumah Akbar.

Saat itu, 2007-2008, video musik masih dikirimkan ke televisi swasta. Ada satu warung di dekat sebuah rumah produksi di Tebet, Jakarta yang menjual kaset video VHS kosong. Saya suka membeli di sana untuk kebutuhan duplikasi video-video musik Efek Rumah Kaca.

Selain ada video musik di televisi, yang seingat saya tak terlalu sering diputar, ketika ERK semakin dikenal, mereka mulai sesekali tampil di acara-acara TV.

Tapi sebelum “masuk TV”, berita debut album Efek Rumah Kaca banyak berbunyi di internet, media cetak, dan radio. Dalam penyebaran berita ini, kami juga dibantu oleh Nadia Yustina sebaga publisher (kini ia menjadi manajer Voice of Baceprot).  Saat itu Nadia, Tika, dan Ika ternaung dalam jasa publicist untuk indie label dan film bernama Vixen Impressario.

Ketika rekaman untuk debut album ERK menuju rampung, kami bertemu dengan sound engineer J. Vanco. Suatu hari, Vanco sedang main ke rumah di saat juga ada para personil ERK. Pertemuan itu langsung berbuah deal bahwa Vanco yang akan menangani kelanjutan rekaman, mixing dan mastering. Pada sentuhan akhir rekaman, ERK banyak menambah koor atau pun suara latar untuk beberapa lagu. Memberi sentuhan koor untuk memperkuat aransemen lagu maupun lirik ini yang kemudian berlanjut pada lagu-lagu di album berikutnya, Kamar Gelap.

Sementara itu, ilustrasi sampul album debut ERK dikerjakan oleh Adit “ADW”, desainer grafis kantor saya. Foto band oleh Pri, partner kantor saya saat itu. Album dirilis oleh Paviliun Records dengan bantuan distribusi oleh Demajors.

Menjelang rilis album, Agustus 2007, Efek Rumah Kaca ikut serta dalam sebuah tur Jawa-Bali besutan Evonica, promotor yang antara lain berisi Yuri dan Endy (Yuri kelak menjadi road manager pada masa album-album awal ERK, juga sempat menjadi manajer). Band yang turut serta antara lain Dear Nancy, Douet Maoets, The Kucruts, dan Reid Voltus. Dalam rombongan ini, terdapat Arif yang pasca tur ini menjadi sound engineer ERK, juga ada Poppie, gitaris-vokalis Douets Maoets yang kelak menjadi pemain bas ERK menggantikan Adrian Yunan.

Sekitar dua bulan setelah tur Evonica itu, Efek Rumah Kaca merilis debut albumnya. Musik dan siaran pers segera disebarluaskan.

Arian 13, vokalis Seringai, menulis resensi, kesannya terhadap debut album Efek Rumah Kaca di halaman Multiply-nya, dan itu sangat cukup untuk menyebarkan berita baik. Menyusul berbagai majalah; Hai, Trax, dan termasuk Rolling Stone Indonesia yang berkali-kali mengulas ERK.

Di surat kabar, Efek Rumah Kaca juga terbaca. Denny Sakrie menulis resensi untuk Koran Tempo [begitu barunya pengalaman saat itu ERK “masuk koran”, kata Cholil, menunggu koran pagi itu seperti menunggu koran berisi pengumuman UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri)]. Dan yang lebih dahsyat, justru Efek Rumah Kaca nantinya jadi pengisi kolom, membahas masalah sosial-politik seminggu sekali di harian KOMPAS.  Di sela padatnya jadwal panggung, Cholil-Akbar-Adrian rutin merapatkan tema karangan, membuat tulisan, menjadi kolumnis.

Single pertama Efek Rumah Kaca adalah “Jatuh Cinta Itu Biasa Saja”.  CD single mulai dibagikan ke radio-radio. Saya mengobrol dengan Anton “Not”, gitaris Fable, saat itu Music Director Prambors. Anton memilih “Di Udara” untuk diputar di sana.

Ledakan ERK yang besar sekali saat “Cinta Melulu” menjadi single berikutnya. Betul-betul heavy rotation di radio-radio, seperti misalnya lagu “Kepompong” dari Sind3ntosca.

 

Sementara itu, sejak ERK tampil di album-album kompilasi hingga terbit debut albumnya, mereka mulai sesekali bermain di acara-acara kecil, menjadi aksi pembuka untuk peluncuran album Planetbumi sampai Seringai, hingga membuat konser tunggal untuk pertama kalinya.

Acara konser tunggal itu dinamakan “Lagu Gambar Gerak bersama Efek Rumah Kaca”. Kami membayangkan konser Efek Rumah Kaca dengan pengantar film-film pendek yang senada (atau setema) dengan masing-masing lagu dari album Efek Rumah Kaca.

Ide besambut. Penulis skenario Prima Rusdi menjembatani saya dengan Yayasan Konfiden yang mengarsipkan film-fim pendek Indonesia. Konser Efek Rumah Kaca menjadi program khusus dalam perhelatan Festival Film Pendek Konfiden 2007 di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Kami memilih sejumlah film pendek (beberapa video art) untuk ditayangkan persis sebelum masing-masing dari 12 lagu Efek Rumah Kaca dimainkan. Pada acara ini pula video musik “Cinta Melulu” pertama kali ditayangkan, sebagai pengantar lagu tersebut dibawakan.

Beberapa film pendek yang ditampilkan adalah “Bunga Dibakar” karya Ratrikala Bhre Aditya untuk pengantar “Di Udara” dimainkan (Cholil memang terinspirasi menulis lagu itu dari menonton film dokumenter tentang peran Munir dan peristiwa kematiannya berjudul “Garuda’s Deadly Upgrade”) dan “Anniversaries” karya Ariani Darmawan sebelum “Jatuh Cinta Itu Biasa Saja” dibawakan. Juga ada video art karya Wimo Ambala Bayang. Cholil nyaris tak mengucapkan satu patah kata pun selain musik dimainkan dan ia bernyanyi setelah sebuah film pendek usai ditayangkan di layar lebar, seperti sebuah jalinan sequence.

Acho, teman kecil Cholil, salah satu kru ERK, merekam testimoni para penonton usai menyaksikan konser itu. Sambutannya sangat positif. Kami gembira dengan konser tunggal perdana itu, bahkan sampai saat “bongkaran sound”, menaikkan amplifier monitor ke mobil bak terbuka, dilakukan dengan senyum ceria.

Panggung demi panggung, wawancara dan sesi foto terus dijalankan Efek Rumah Kaca. Dalam berbagai aktivitas promosi ERK, Paviliun Records dibantu banyak sekali teman, termasuk oleh fotografer Satria Ramadhan (kemudian dia mendirikan manajemen talenta bernama SRM).  Satria pula yang pada suatu hari mengatakan pada saya bahwa Ajie dan Dini dari No Label Stuff (NLS) menanyakan kontak saya; mereka ingin meng-endorse Efek Rumah Kaca.

Saya berangkat ke Bandung. Mengobrol di toko NLS di Jl. Trunojoyo. Sejak kesepakatan itu, ERK mendapat supply pakaian dari NLS, baik untuk panggung maupun keseharian lainnya. NLS juga mencetak merchandise khusus dengan gambar kursi seperti sampul album dan tulisan “Saya Simak Efek Rumah Kaca”. NLS bahkan membuatkan sebuah konser tunggal di Bandung, ini konser tunggal kedua ERK. Acara itu diberi nama “Konser Cinta Melulu”, diadakan di Common Room.

Pada malam itu, ERK sudah memainkan lagu “Hujan Jangan Marah” yang kelak masuk ke dalam album kedua, Kamar Gelap (2008). Penonton di Bandung antusias sekali. Setelah semua lagu dimainkan, penonton masih minta tambah. Maka lagu “Di Udara” dibawakan sekali lagi.

Sembari menjalankan panggung-panggung di berbagai kota dan kegiatan promosi debut album, ERK mulai mencicil tabungan lagunya untuk direkam pada album kedua, yang sebagian besar lagu-lagunya sudah ditulis jauh hari. Album Kamar Gelap dirilis tak sampai setahun dari hari rilis debut album Efek Rumah Kaca, tepatnya 19 Desember 2008. Album ini dirilis oleh Aksara Records.

Pada berbagai kesempatan wawancara, bila ditanyakan ERK ingin berkolaborasi dengan siapa, maka jawabannya selalu Ade Paloh dari SORE. Hal itu menjadi kenyataan pada lagu “Jangan Bakar Buku” di album Kamar Gelap. Bukan hanya Ade Paloh, Mondo pun (saat itu masih tergabung bersama SORE) turut mengisi keyboard di lagu itu, juga untuk “Laki-Laki Pemalu”.

Sementara itu, seniman fotografi Angki Purbandono tampil sebagai desainer sampul album itu, menyumbangkan karya-karyanya di antaranya materi dari seri Happy Scan dan buku fotonya, Beyond Versace. Dari Yogyakarta Angki datang ke Jakarta, karya-karyanya dicetak di kertas-kertas ukuran cukup besar, dan kami memilih karya mana yang menjadi sampul depan dan karya mana saja yang menjadi sisipan di kemasan CD, juga satu foto untuk sampul belakang. Proses berlangsung cukup efisien, mengingat kami memang menggemari karya-karya Angki.

Anggun Priambodo (vokalis Bandempo, seniman video, sutradara film) hadir untuk membesut video musik singlepertama, “Kenakalan Remaja di Era Informatika”.  Masih dalam sektor video, Efek Rumah Kaca kemudian bekerjasama dengan Majalah Hai dan hai-online.com mengadakan kompetisi membuat video musik lagu-lagu ERK di album Kamar Gelap, ajang ini dinamakan “Video Melulu”. Acara Awarding dan Screening 10 video pilihan diadakan di Kineforum, Studio 1 TIM 21, Jakarta pada 18 Desember 2009. Efek Rumah Kaca tampil set akustik di acara itu. MC acara adalah duo sinar segar Ajis Doa Ibu dan Gilang Gombloh. Dari 10 finalis, terpilih tiga juara— Westu dan Reza meraih peringkat pertama dengan video musik “Balerina”.  Pada Majalah Hai edisi 11-17 Januari 2010, kesepuluh karya finalis “Video Melulu” dirilis dalam format DVD sebagai bonus majalah.

Efek Rumah Kaca terus melaju, dalam jadwal yang relatif padat. Di sisi lain, kondisi kesehatan mata Adrian (yang pada awalnya sempat tergambar pada nomor “Sebelah Mata”) semakin tidak membaik. Adrian pun mulai sering absen bermain di panggung-panggung ERK.  Walaupun begitu, workshop arah artistik untuk album ketiga sudah mulai bergulir, termasuk Adrian-Akbar berlatih bersama untuk menemukan kemungkinan-kemungkinan baru bagi musik ERK. Namun datang kemudian kesepakatan ERK untuk vakum sementara.

Dikarenakan ERK memilih vakum untuk waktu yang tidak ditentukan, saya memilih mundur dari manajer. Saat itu sekitar 2011.

Waktu kemudian mengabarkan bahwa ERK berjalan kembali: mereka membuat proyek aransemen ulang lagu-lagu ERK dengan nama Pandai Besi, membuat toko buku, kedai kopi, toko musik, dan sekaligus ruang berbagi ide-berkesenian bernama Kios Ojo Keos, merilis album Sinestesia (setelah rekaman untuk album itu Adrian Yunan digantikan oleh Poppie Airiel) dengan konser peluncuran album yang luar biasa bersama show director Irwan Ahmett, merilis mini album Jalan Enam Tiga yang direkam di Amerika Serikat—tempat Cholil bermukim sementara, dan kini merilis album penuh keempat: Rimpang.

Pada 2015, saya diminta untuk menjadi show director konser ERK di Bandung. Konser itu diberi judul “Konser Bisa Dipasarkan”—meminjam frase dari dua bagian di lagu “Biru” yaitu “Pasar Bisa Diciptakan” dan “Cipta Bisa Dipasarkan” (saat itu, single tersebut belum lama diluncurkan). Terasa keluarga besar di tubuh ERK terus berkembang. Sudah ada banyak perbedaan crew yang terlibat dalam koser, dan yang utama: jumlah anteran penonton konser yang sangat panjang mengular.

ERK semakin besar.

Di sebuah konser tunggal ERK lainnya, bertajuk “Tiba-Tiba Suddenly Konser”, dilehat oleh Ruru Radio di Gudang Sarinah, Jakarta pada 2016, mereka mengundang sejumlah bintang tamu; saya diajak untuk bernyanyi satu lagu dan memilih “Kamar Gelap”. Malam itu, seperti biasa, konser ERK dipadati penonton dan orang-orang di belakang panggung. Seperti biasa pula, penonton bernyanyi keras di setiap lagu.

Saya kembali menyaksikan perkembangan ERK. Para bintang tamu dan penonton yang hadir telah menjalar jauh lebih luas. Kalangan pendengar ERK terus bertahan dan tumbuh. Tentu ada juga penonton ERK di masa awal yang kini sudah tidak mengikuti mereka. Tapi tampaknya masih sangat banyak yang bertahan. Ditambah banyak lagi penggemar baru, yang bisa jadi “pintu masuk”-nya dari Pandai Besi berlanjut ke Sinestesia.

Meskipun belakangan Cholil bermukim di Amerika Serikat dan panggung ERK tidak terus-terusan digeber, tapi musik ERK sendiri terus berkelana.  Dua album awal ERK (terutama debut albumnya) telah kuat menancapkan suara dan posisi mereka, sementara rekaman karya-karya berikutnya berhasil berkomunikasi dengan zaman yang terus bergejolak, bergerak.

Dalam album Rimpang yang rilis tahun ini, ada kebaruan personil Reza Ryan pada  gitar, sekaligus ada bintang tamu yang familier bagi ERK; Morgue Vanguard alias Ucok “Homicide”, menyumbang lirik dan vokalnya untuk lagu “Bersemi Sekebun”. Sejak masa awal ERK merilis album pertamanya, Ucok “Homicide” salah satu teman baik yang kerap menonton pertunjukan ERK di Bandung dan berbincang bersama.

Sesuatu yang baru dan sesuatu yang dekat sepertinya akan terus berjalan bersama masa depan Efek Rumah Kaca.


Penulis
Harlan Boer
Lahir 9 Mei 1977. Sekarang bekerja di sebuah digital advertising agency di Jakarta. Sempat jadi anak band, diantaranya keyboardist The Upstairs dan vokalis C’mon Lennon. Sempat jadi manager band Efek Rumah Kaca. Suka menulis, aneka formatnya . Masih suka dan sempat merilis rekaman karya musiknya yaitu Sakit Generik (2012) Jajan Rock (2013), Sentuhan Minimal (2013) dan Kopi Kaleng (2016)

Eksplor konten lain Pophariini

Lalahuta Rilis Ulang Lagu Sheila On 7 Dan… untuk Proyek Album Mini Baru

Lalahuta tengah seru bernostalgia. Setelah membawakan ulang lagu Rio Febrian “Aku Bertahan”, kini mereka merilis ulang lagu Sheila On 7 “Dan…” hari Jumat (14/06).    Vokalis baru Lalahuta, Kevin Widaya mengiyakan band menghadirkan nuansa …

D’MASIV – 8

Dalam album 8, D’Masiv kembali ke warna yang sudah dikenal sebelumnya dan kali ini dengan pengaruh soft-rock dan pop-balada 80/90an yang jitu