“Haruskah Ke Jakarta Untuk Bermusik?” Oleh Sal Priadi

1267
Haruskah Ke Jakarta Untuk Bermusik? Sal Priadi
Sal Priadi / Foto: dok. Sal Priadi

Sebenarnya ada latar belakang saya kemudian memutuskan hijrah ke Jakarta. Selain akibat lagu “Ikat Aku di Tulang Belikatmu“ masuk nominasi ajang penghargaan Anugerah Musik Indonesia AMI 2017. Dan sebenarnya pilihan ini juga tidak akan saya ambil jika tidak menemui problematika di kota Malang sendiri.

Pertama, Malang itu potensial untuk menghasilkan banyak musisi bagus. Tapi saya merasa kurangnya kehadiran media di sana. Media yang mapan dan punya kekuatan sosial juga, apalagi yang punya dampak dalam meningkatkan pendengar lebih luas juga kurang. Kedua, kota ini dalam hal produksi punya kemampuan untuk membuat hasil produksi audio yang bagus.

Akan tetapi, untuk yang “lebih”, saya rasa Malang juga masih belum punya infrastruktur yang memadai. Dan Jakarta sangat menawarkan hal itu, terutama dalam hal untuk producing dan pengkaryaan. Ketiga, saya pernah berpikir kalau misalnya berkarya dan berproduksi di Malang saja pasti bisa, tapi setelah mendengar dan melihat banyak senior yang lebih dulu “hijrah” ke Jakarta baru setelah itu kembali lagi ke kotanya, saya jadi berfikir bahwa memang harus ada langkah hijrah itu. Hijrah ke Jakarta itu membutuhkan keberanian. Untuk bertemu banyak orang, mengobrol dan mengetahui tentang seluk-beluk Jakarta. Setelah itu, tergantung pilihannya, kembali ke kota asal atau tidak.

Ketika saya masih di Malang, dan beraktifitas dalam kancah musiknya, ada satu anggapan bahwa kami sebagai musisi Malang masih dikategorikan sebagai “local artist”. Padahal jika sebuah karya dari local artist itu telah memiliki dampak dan pendengar secara luas hingga keluar dari kota asalnya, maka sudah selayaknya musisi tersebut untuk tidak lagi dikategorikan sebagai local artist. Ironinya hal ini tidak terjadi di Malang saja, tapi juga di kota-kota lainnya di Indonesia.

jika band daerah itu memiliki dampak dan pendengar secara luas hingga keluar kota asalnya, Selayaknya musisi tersebut tidak lagi dikategorikan sebagai band daerah

Istilah artis lokal atau local artist secara terminologi memang cuma istilah. Dan untuk itu, saya masih menerima apabila mendapat julukan artis lokal asal Malang seumur hidup saya. Tapi, sepanjang artis lokal hanya sekedar terminologi. Namun, apabila kata local artist diberi muatan sebagai label pada khalayak umum bahwa musisi lokal di sini artinya hanya menjangkau area lokal, dan tidak bisa menjangkau nasional, dalam hal definisi ini saya sangat tidak bisa menerima. Ketika label artis lokal berarti mengecilkan, sehingga seakan ada kasta antara lokal dan nasional, saya sangat tidak terima.

Pelabelan ini juga saya temui di beberapa penyelenggara acara untuk mendiskriminasi perlakuan untuk artis “nasional” dan “lokal”. Baik dalam adlib maupun dalam hal teknis seperti jatah soundcheck, yang masih pilih-pilih. Malah terkadang tidak dapat jatah sama sekali. Saya dulu cukup sering punya pengalaman tidak mendapatkan jatah backstage. Untuk hal ini saya tidak peduli soal kenyamanan saya, hanya saya tidak bisa meremehkan persiapan teknis dan kenyamanan tim produksi saya untuk mempersiapkan penampilan saya.

Balik lagi ke pertanyaan, apakah bisa jika saya melakukan ini semua dari Malang, minimal bersama tim? Menurut hemat saya, Bisa! Akan tetapi akan terkendala “waktu”. Kita bisa melakukan ini semua tapi akan butuh waktu lama untuk bisa sampai sukses. Sangat logis jika ada pihak luar kota yang punya infrastruktur, medan sosial, tenaga lebih besar dan hal-hal lain yang lebih besar, maka akan memberikan kontribusi lebih besar pula ke kita. Karena itulah saya memutuskan pindah ke Jakarta.

1 Comment
Inline Feedbacks
View all comments
trackback

[…] Simak tulisan kerennya di sini […]