“Hidup Untuk Bermusik, Bermusik Untuk Hidup” Oleh Dochi Sadega

1021
Dochi Sadega. / Ilustrasi oleh Agung Abdul.

Halo, saya Dochi Sadega, mungkin kamu pernah dengar band saya, Pee Wee Gaskins, unit Pop Punk 5 personil yang pertama terbentuk di tahun 2007. Kami berasal dari komunitas lalu sedikit demi sedikit menemukan jalan kami ke panggung lebih besar, dari gigs, ke televisi, ke festival internasional, salah satunya 2012 di Summer Sonic Jepang. Tahun ini adalah tahun ke-14 kami sebagai band yang sejak rilis album pertama tidak pernah ada pergantian personil.

Dari Pee Wee Gaskins saya bisa masuk ke beberapa pintu yang sebelumnya nggak pernah kepikiran bisa diketuk, apalagi dipersilahkan masuk. Dari pembicara seminar membahas sepak terjang di dunia musik, sampai ke aula kampus berbicara tentang bisnis yang saya bangun; Sunday Sunday Co dan yang terbaru One Triple Nine shoes. Semua berawal dari kesukaan saya akan musik.

Harusnya di tahun ini kami menyiapkan album terakhir

Setahun lalu, 2 kasus Covid-19 muncul di Indonesia, tepatnya di Depok. “Covid pertama di Depok? Hmmm konspirasi…” Haha, tidak, kita bukan mau bahas konspirasi di sini, tapi bahas apa yang terjadi selama pandemi, dari sudut pandang saya. 2020 harusnya tahun terakhir Pee Wee Gaskins sebelum kami putuskan untuk hiatus. Harusnya di tahun ini kami menyiapkan album terakhir, merangkai tour farewell show, dan hiatus sampai waktu yang belum ditetapkan. Tapi pandemi terjadi. Beberapa show (terhitung 17 termasuk beberapa seminar bisnis atau talkshow) dibatalkan atau ditunda sampai tidak tahu kapan.

Ladang pekerjaan kami adalah salah satu yang paling terasa terdampak; ekosistem pertunjukan live music, mulai dari vendor rental alat, kru dan teknisi panggung yang mengandalkan ladang ini terpaksa kehilangan pekerjaan. Semua mencoba bertahan dengan semua kemampuan.

Pandemi membuat saya punya banyak waktu luang untuk berkaca dan belajar hal baru yang sebelumnya tidak punya waktu untuk belajar, seperti cara membuat kopi dalgona atau yang paling basic sebagai musisi adalah belajar recording mandiri di rumah. Sebuah skill yang selama ini diremehkan karena biasanya bisa mengandalkan orang lain.

bicara musik tidak bisa sebatas ngomongin band, ada ekosistem di dalam sana,

Sayangnya rekan seband tidak punya semangat yang sama, atau larut dalam kesibukan masing-masing sehingga untuk praktek tidak bisa. Akhirnya saya mengajak beberapa teman yang sama-sama lagi belajar recording dan membuat project bernama Distant Neighbors. Pada akhirnya kami merilis lima lagu dalam dua bulan selama masa pandemi. Ini investasi. Ilmu ini kelak akan berguna ketika pandemi berakhir, pikir saya. Selain ilmu, pelan-pelan alat recording makin lengkap, mulai dari soundcard, speaker, dan perintilan lainnya jadi semakin mumpuni. Thanks to koleksi sneakers yang satu satu dilego. Akhirnya toko offline Sunday Sunday Co bertambah fungsi, karena pengunjung terus berkurang tapi space-nya lumayan besar sehingga sebagian ruang bisa jadi studio rekaman untuk anak-anak pada ngumpul dan workshop bikin tabungan lagu baru.

Bulan April, pemasukan semakin sedikit. Musik yang biasa jadi sumber penghasilan saat ini tidak bisa menghidupi. Tapi bicara musik tidak bisa sebatas ngomongin band, ada ekosistem di dalam sana, seperti yang tadi udah saya bahas. Salah satu variabel pendukung Musik adalah komunitas. Di waktu senggang gue mengajak Joe (Summerlane) yang sebelumnya gue ajak untuk Distant Neighbors untuk membuat konten yang diberi Judul UPIL, akronim dari Ulas Pop Punk Independent Lokal, di mana kami discovering unit Pop Punk lokal dari berbagai daerah, me-react-nya sambil nonton videoklipnya dan ngobrol bareng salah satu personilnya.

Di satu episode bahkan kami undang bandnya untuk akustikan. Ternyata responnya bagus, banyak sekali anak-anak yang rekomendasi band jagoan mereka dari kotanya masing-masing, dan banyak juga yang bagus-bagus. Konsep ini lalu lewat agency dijual ke brand, dan kami dikontrak untuk bikin 10 episode, tapi dengan nama yang berbeda (tentu saja, mana ada brand yang mau kontennya namanya UPIL, dan kegiatannya disebut NGUPIL) karena brand rokok, namanya jadi menyesuaikan, konten ini lalu diberi judul UDUT; Ulas Dunia Underground Terkini, dan kegiatannya disebut NGUDUT.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments