“Idealisme?” Oleh Kamga Mo

• Dec 11, 2020
Musisi Menulis

Sering sekali saya mendengar kata idealisme diucapkan saat pembahasan tentang musik mengalir di tongkrongan. Bahkan kuping saya sendiri mungkin sudah bosan mendengar mulut saya berbicara idealisme di sekitar era tahun 2014 – 2018 an. Saat itu idealisme saya beranggapan, belum sah jadi musisi jika lagunya tidak idealis. Dan betapa malu rasanya jadi musisi musik pop.

Ada yang bilang musik idealis itu yang melawan arus pasar. Ada yang bilang musik idealis itu yang liriknya mengandung pesan sosial. Ada yang bilang musik idealis itu yang meneriakkan seruan melawan status quo. Ada yang bilang musik idealis itu yang aransemennya rumit dan tidak ketebak. Dari semua itu banyak yang bicara soal musik idealis, tapi semuanya cenderung tidak sama cara pandangnya. Jadi apa itu idealisme?

Saya besar di industri musik mainstream. Memulai karir bernyanyi sejak usia 18 tahun bergabung dengan grup vokal Tangga, idealisme saya pada saat itu adalah bisa bernyanyi setiap hari dan dapat uang buat jajan yang cukup main video game. Sebuah cita-cita sejak SD yang bisa dibilang cukup mulia. Tapi dalam beberapa tahun berjalan idealisme saya mulai berubah. Mendadak saya ingin menyanyikan lagu yang saya tulis sendiri. Kebetulan pada saat itu idealisme yang satu ini pun terpuaskan. Kanvas corat-coret berbentuk album kedua dan ketiga Tangga ini dipinjamkan untuk saya mainkan, dan saya senang.

Dari semua itu banyak yang bicara soal musik idealis, tapi semuanya cenderung tidak sama cara pandangnya. Jadi apa itu idealisme?

Namun idealisme ini layaknya binatang yang tak mampu berhenti untuk merasa lapar, selalu menginginkan hal baru untuk dilahap. Sekarang saya ingin menyanyikan lagu sendiri, yang ceritanya benar benar saya alami. Ingin musik menjadi sebuah portal hati untuk katarsis. Ingin menceritakan alasan saya marah dan menangis. Saat idealisme yang satu ini hadir, ya terang sajalah roda besar yang menaungi saya ogah. Orang mau dengar lagu cinta dari kamu nak, bukan marah marah ke dunia.

Di umur 26 tahun, saya memberanikan diri untuk melakukan sebuah perjalanan. Perjalanan memberi idealisme ini makan. Membentuk trio bernama Dekat bersama Chevrina dan Tata, aya biarkan idealisme membawa saya ke tempat-tempat yang tidak nyaman. Saya biarkan dia menggerogoti perekonomian. Saya maki sahabat saya yang khawatir karena takut saya tidak lagi bisa makan. “Kalau sampai gak bisa bayar kontrakan ya udah gak worth it lah man” katanya. “Mana bisa nulis lagu jujur kalau ga susah, man”, balas saya.

Mencapai usia 30 tahun saya mulai berkaca. Mengapa semakin tua usia malah semakin jauh dari cita-cita? Boro-boro mimpi jadi Justin Timberlake, sekarang bahkan jadi Glenn Fredly KW3 saja tidak bisa. Saya bertanya pada diri, apakah benar yang saya perjuangkan ini adalah idealisme? Atau malahan ternyata sebuah sifat busuk bernama ego. Entitas yang selalu minta dikasih makan. Hingga akhirnya saya bertanya, “Kamga Mo, idealisme kamu sebenarnya apa?”.

hanya ingin selalu bisa menulis lagu yang lirik demi liriknya ingin saya teriakkan hingga badan ini sakit, karena mengeluarkan mereka sungguh melegakan

Sebuah pertanyaan mudah yang baru saya temukan jawabannya tepat satu tahun yang lalu. Apa itu idealisme? Jawabannya sama sekali tidak butuh penjelasan panjang lebar. Tidak butuh contoh kasus. Hanya satu kalimat mudah. Idealisme adalah apa-apa yang ideal buatmu.

Yang ideal buat saya hanya bisa bermusik sampai tua, dan terus bisa menulis lagu yang diamini oleh saya. Menjalankan musik layaknya buku diary bernada, melantunkan seluruh kejadian menarik semasa hidup, hingga mungkin nanti di masa tua bisa saya dengarkan lagi sambil tersenyum mengingat pendeknya sumbu kesabaran saya di masa lalu. Saya hanya ingin bisa selalu menulis lagu yang lirik demi liriknya ingin saya teriakkan hingga badan ini sakit, karena mengeluarkan mereka sungguh melegakan.

Dulu saya berpikir karya saya harus bisa menghidupi saya, ternyata pola pikir tersebut terbalik. Apabila berkarya sebegitu pentingnya, mengapa bukan saya yang bekerja keras untuk bisa menghidupinya? Seperti sebuah ucapan dari seorang teman, “idealisme itu mahal kawan”.

Apabila berkarya sebegitu pentingnya, mengapa bukan saya yang bekerja keras untuk bisa menghidupinya?

Tepat setahun saya Kamga Mo bekerja sebagai vokal latar untuk band favorit saya sejak SMA, Maliq & D’Essentials. Di sini saya bekerja untuk bisa menghidupi karya saya. Cari uang dari mana saja. Dari menulis lagu untuk orang lain, hingga mengajar. Demi untuk punya modal buat rilis karya. Dari sini saya tahu, ternyata proses merilisnya adalah hal yang ideal buat saya, bukan kesuksesan setelahnya.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Eksplor konten lain Pophariini

PHI Tips: Memilih ‘Abang-abangan’ Skena Panutan

Sosok abang-abangan skena penting untuk kehidupan bermusikmu. PHI Tips kali ini membantu kalian memilih kriteria abang-abangan skena yang bisa jadi panutan. 

.Feast dan Narasi Multisemesta Terbarunya

Nampaknya dalam waktu dekat ini .Feast akan segera merampungkan perjalanan dari album kedua mereka, Membangun dan Menghancurkan. Hal tersebut diperjelas di hari Senin (21/06) lalu, ketika .Feast resmi mempersembahkan deretan akun Instagram yang masing-masing …