438

Lebih Dekat dengan Dekat Lewat Numbers

Kamga, Tata dan Chevrina. Foto: Rery Risgyana/Dekat

Ada beberapa hal yang berbeda pada Numbers, album penuh pertama Dekat. Kalau sebelumnya mereka mengandalkan produser untuk mengerjakan mini-album Lahir Kembali (2014) dan Meranggas (2016), kali ini semua lagu untuk pertama kalinya sepenuhnya digarap sendiri oleh Mohammed Kamga, Chevrina Anayang dan Tahir “Tata” Hadiwijoyo, dengan Kamga bertindak sebagai produser yang membuat album ini terdengar berbeda dengan apa yang pernah mereka kerjakan, baik sebagai Dekat maupun ketika masih tergabung di grup pop Tangga. Sedangkan kalau semua lagu Dekat terdahulu memakai lirik bahasa Indonesia, kini mereka memberanikan diri untuk menggunakan bahasa Inggris.

Satu hal yang tak berubah adalah lagu-lagu Dekat masih menceritakan kehidupan pribadi “tiga orang teman” menurut Chevrina. Mereka tak sungkan untuk membeberkan kisah tiga orang teman yang sangat mirip dengan para personel Dekat sendiri ini dengan cara yang dapat membuat pendengar takjub dan mungkin sedikit kurang nyaman akibat kejujurannya.

album ini berbeda dengan apa yang pernah mereka kerjakan, baik sebagai Dekat maupun Tangga

Kalau di rekaman-rekaman sebelumnya mereka banyak bernyanyi tentang meninggalkan masa lalu demi memulai karier baru yang lebih mandiri, di Numbers mereka mengungkapkan bagaimana karier baru ini tak kunjung berjalan sesuai harapan, dan bagaimana mereka berjuang untuk tetap bertahan dalam kondisi memprihatinkan walau itu berarti harus membohongi diri sendiri. Memang terkesan berat, namun karena Dekat membawakannya dengan humor yang terkadang gelap, maka album ini menjadi lebih mudah untuk dinikmati.

Baca juga:  Pop Indonesia Seputar ‘65

Numbers sudah bisa dinikmati secara digital per hari ini, 12 Oktober, namun sebelumnya sudah bisa dinikmati dalam format CD oleh para donatur yang ikut mendanai pembuatan album tersebut melalui Kolase.com. Beberapa minggu menjelang beredarnya Numbers, Kamga dan Chevrina meluangkan waktu untuk memperdengarkan albumnya dan membahas semua lagu satu per satu.

 

1. Friends

Chevrina: Bercerita tentang tiga orang teman. Kenalnya sudah lama, bertemannya sudah lama. Sempat punya kisah lama. Akhirnya mereka ketemu lagi, lebih dekat. Dan mereka akhirnya bikin karier lagi bareng. Pasti otomatis menjalankannya dengan keyakinan bahwa, “Kayaknya kita bisa berhasil, kali ini!” Tiba-tiba jalan setahun, dua tahun, tiga tahun, empat tahun, sampai akhirnya tiga orang ini mulai berpikir, “Kayaknya enggak datang, sih. Kayaknya masanya mungkin memang sudah enggak bisa kita dapat lagi.” Sampai akhirnya tiga orang ini berusaha untuk menyemangati satu sama lain dan masing-masing saja, dengan cara membohongi dirinya: “Kayaknya masih ada harapan, sih. Mungkin enggak tahun ini, mungkin tahun depan.” Supaya mimpi mereka, keyakinan mereka di awal ini enggak mati saja.
Kamga: Ya, semua lagu ini otobiografi. Tapi kami senang omongnya “mereka”.
Chevrina: [Tertawa]

Album ini mengungkapkan bagaimana karier baru INI tak kunjung berjalan, dan bagaimana mereka berjuang untuk tetap bertahan

2. John Cena

Baca juga:  Irama Dari Nusantara: Perjalanan Panjang Radio Kita

Kamga: “John Cena” ini berawal dari lagu yang gue bikin. Intinya, kalimatnya [bernyanyi], “I’m gonna sing you a song, you sing along/From tonight to early morn, I’m gonna pass you that bong/We gonna rule this island like a King Kong.” Terus gue kayak, “Wah, gila nih! Keren banget!” Terus gue bikin sampai sudah jadi, dan gue kasih dengar mereka berdua. Mereka berdua enggak ada yang suka. [Tertawa] Gue merasa kayak, “Ah, masa sih ini enggak ada yang suka?” Tata enggak suka, gue sama Chev sempat bertengkar di Senayan City gara-gara, “Kalau enggak suka, kenapa biarkan gue bikin lagunya sampai beres, bukannya dari awal?” Akhirnya lagu ini dirombak lagi, terus kami tetap coba kerjakan dari satu mood yang sama dan tema yang sama. Dan gue tipe orang yang ketika bikin lagu, itu bukan tema dulu, tapi ada kalimat yang memang “ganggu”. Tiba-tiba gue dapat [bernyanyi], “We smack it down, John Cena.” Dan kayak, “Ini harusnya John Cena, nih.” Gue sudah coba buat ganti ke Godzilla, apa yang ujungnya “a”, tapi, “Kayaknya enggak enak, nih. Ini harus John Cena.” Akhirnya bagaimana caranya kami bikin lagu ke arah sana. Pokoknya intinya si “John Cena” ini tentang si Chev yang merasa kayak gue bohongi.
Chevrina: [Kepada Kamga] Kita pakai bahasa orang ketiga.
Kamga: Oke. Ini tentang seorang cewek yang merasa dibohongi sama pacarnya, ketika pacarnya selalu omong kalau, “Suara lu bagus dan lu akan berhasil di industri musik.” Dan dia merasa kayak, “Kayaknya lu sudah mulai buang waktu gue. Kalau gue memang sebagus itu, kenapa ini enggak datang-datang?”
Chevrina: Kayak lu menghibur saja karena lu pasangannya. Jadi kalau pasangan mungkin enggak berani terlalu jujur, “Kayaknya lu biasa saja deh,” atau apa. Takut drama. Jadi akhirnya kayak, “Lu pasti bisa, lu pasti bisa,” sampai si wanita ini berkata, “Ah, enggak. Kayaknya lu mulai berbohong demi kelancaran perhubungan ini.”
Kamga: Sementara si dua laki-laki ini yakin banget sama kemampuan satu perempuan ini buat jadi frontman di band, dan kami berharap kami bisa sama-sama smack it down, John Cena.

1
2
3
Comments
Previous articlePesta Suara Disko dan Diskoria Di Tokyo
Next articleGinda Bestari Buat Kompetisi Gitar Online
mm
Hasief Ardiasyah mungkin lebih dikenal sebagai salah satu Associate Editor di Rolling Stone Indonesia, di mana beliau bekerja sejak majalah itu berdiri pada awal 2005 hingga penutupannya di 31 Desember 2017. Sebenarnya beliau sudah pensiun dari dunia media musik, namun kalau masih ada yang menganggap tulisannya layak dibaca dan dibayar (terutama dibayar), kenapa tidak?