240

Gelombang Terakhir

Irwin Ardy
Gelombang Terakhir, EP dari Irwin Ardy

Mendengarkan EP terbaru dari Irwin Ardy ini terasa menyejukkan. Bisa menjadi teman beristirahat di hari Jumat, teman melepas penat pasca digempur dengan banyaknya jadwal rapat yang ketat.

Seharusnya bagian tersebut ditulis di akhir tulisan, namun saya rasa ‘disclaimer’ ini harus diberikan tempat di awal tulisan.

Mari kita sedikit berkenalan ulang dengan Irwin Ardy. Di ‘skena’ musik lokal saat ini, dirinya dikenal dengan perannya memetik gitar di Bangkutaman, unit folk-rock lawas asal Yogyakarta yang sudah wara-wiri di ‘skena’ semenjak 1999. Tarik ke 2017, dirinya merilis sebuah album solo yang berjudul Bread and Butter. Album tersebut mengikuti dua solo EP dirinya yang sudah lebih dahulu dirilis pada 2007 (Hymn For a Friend In The Sky) dan 2008 (Local Heroes).

Sekarang saatnya kembali ke 2020. 13 Mei lalu, Gelombang Terakhir resmi Irwin lepas di berbagai layanan streaming musik yang tersedia. Datang dengan enam nomor, dimana beberapa nomor tersebut ternyata adalah hasil ‘ngoprek’ Irwin terhadap beberapa materi-materi lama yang kebetulannya belum sempat ia rilis.

Baca juga:  Resensi : Polka Wars - Bani Bumi

Pun ternyata, entah ini bisa dibilang mukjizat atau tidak, tapi salah satu berkah dari self-quarantine ini adalah, Irwin menjadi punya waktu lebih yang akhirnya menuju ke kegiatan ‘ngoprek’ tersebut.

Gelombang Terakhir dibuka oleh “Bermuda”, sebuah single yang sudah lebih dulu ia rilis pada 2018 lalu. Setelahnya, diikuti oleh “Standard Pop Song”, “What Matters The Most”, “I Believe”, “Please Wait, Linda Lee!” dan ditutup dengan “Surat Buat Teman”.

Salah satu fun-fact dari Gelombang Terakhir, dimana “What Matters The Most” menjadi lagu yang paling tua diciptakan, yakni pada 2014 lalu.

Sejujurnya, agak sulit mendengarkan keseluruhan dari Gelombang Terakhir ini tanpa melepas embel-embel Bangkutaman dari pundak Irwin, yang mana akhirnya menjadi sebuah ucapan terima kasih dari saya berkat isian serta kocokan gitarnya semasa dirinya di Bangkutaman dulu.

Baca juga:  Resensi : Jono Terbakar - Warisan

Namun kembali ke paragraf awal yang sudah saya tulis lebih dahulu, dimana sudah menjelaskan bagaimana perasaan saya setelah mendengarkan Gelombang Terakhir ini. Sebuah deretan indie-pop super ringan, tidak perlu mengeluarkan banyak effort untuk memikirkan akan seperti apa bebunyian yang keluar dari pertama hingga nomor terakhirnya.

Sekarang saatnya yang membayangkan untuk kembali beraktifitas menjajal Commuter Line sepanjang Jurang Mangu – Bogor dengan mendengarkan Gelombang Terakhir, dengan harapan bahwa ini bukanlah menjadi gelombang terakhir dari Irwin.

Dengarkan Gelombang Terakhir oleh Irwin Ardy disini:

_____