Jaydawn – Sekte Air Mata Odin

Aug 14, 2023

Di skena hip hop, ada sebuah fenomena menarik dimana karya-karya masterpiece lahir tak hanya hanya dari rima-rima yang keluarkan dari kerongkongan seorang rapper, namun dari ramuan beat yang ditumbuk dan diaduk dari kuali seorang ‘tukang mutilasi musik’ atau yang beken disebut sebagai beatmaker.

Di beberapa literatur tulisan yang saya kerap baca, profesi beatmaker bukan opsi yang banyak digeluti. Agree to disagree, tapi jika saya lihat, kehadiran beatmaker di panggung mungkin hanyalah sebagai ‘wing-man’ dari seorang rapper ketika mereka perform. Meksipun menurut saya, keduanya mengambil peranan penting dalam suksesnya pementasan atau lahirnya karya-karya hip hop dari jaman ke jaman. Ini mengapa saya begitu mengapresiasi keberadaan orang-orang seperti Densky9, Madsure dari Jogja, WAYS,  SicknessMP sampai kali ini seorang Fajar Nurmanto a.k.a Jaydawn yang menggarap musiknya dengan sebuah album berkonsep serta dirilis proper dalam bentuk digital dan fisik.

Menekuni dunia mutilasi musik, Jaydawn bukan orang sembarangan. Sosok di balik Eye Feel Six dan Krowbar ini pernah berperan di Homicide dalam karya klasik “Belati Kalam Profan” termuat di EP Pathos. Lahir dari tangan dingin Jaydawn, “Belati Kalam Profan” menyajikan grimmy boombap beat bertempo lambat empat menit tigapuluh detik yang ketika dimainkan bersama rentetan peluru-peluru kata yang ditembakkan dari kerongkongan Ucok, menjadi sebuah karya yang provokatif sekaligus menakutkan.

Di ranah musik populer, kita bisa mendengarkan Jaydawn lewat karya remix, “Jatuh Cinta itu Biasa Saja” dari Efek Rumah Kaca. Track yang terambil dari album ERK RMX ini disulap menjadi karya trip hop yang gelap dan dahsyat. 

Menelusuri kepingan-kepingan karya Jaydawn yang tersusun rapih, mulai single “Dawn By Law” (2019) sampai debut EP Darker Dawns Ahead (Grimloc Records, 2020), saya menemukan semacam eskalasi luar biasa di debut album Sekte Air Mata Odin (Grimloc Records, 2023). Mengapa demikian? Jika di Darker Dawns, Jay hanya menampilkan lukisan-lukisan musik dan beat yang spektakuler, namun di Sekte, lukisan ini justru menjadi sesuatu yang lebih menarik ketika direspon oleh banyak rapper dengan suguhan kata dan rima. 

Suguhan musik yang dihasilkan Jay dari EP sampai di album ini sangatlah menarik. Dari sebuah kanvas kosong, ia bisa mengambil banyak palet dari funk, rock sampai musik-musik tradisional dalam setiap beat, bass dan sample menjadi lukisan musik gaya klasik boom bap dengan unsur gelap dan garang.

Coba tengok “Cek TKP”, dengar bagaimana Al Smith merespon beat-beat Jaydawn yang berkolaborasi dengan Nartok, menjadi sebuah puisi musikal hip hop yang garang, atau bagaimana kolektif rap Madness On Tha Block memberi amunisi kepada beat Jay di “Mulut Silet”, “Departemen Kegelapan” tangkapan swag diekspresikan lewat rima-rima Krowbar dan Insthinc menjadi sebuah jalinan yang menarik. 

Ada dua track favorit saya di album ini, pertama adalah kolaborasi Jay, Morgue Vanguard dan Pangalo! berbagi mikrofon dan kata dengan sangat cantik di “Babad Sangit”, anthem hip hop yang wajib diberikan pengeras suara untuk lebih terdengar, mungkin di Senayan atau Istana Negara. Yang kedua adalah kolaborasi Jay dengan Doyz dan Xaqhala di “Kalam Demagog”, sentilan-sentilan provokatif, menggelitik dan mencubit sakit kepada siapa saja yang mendengar dan merasa tersindir. 

Di luar track-track kolaboratifnya, kita juga bisa menikmati karya-karya Jaydawn di album ini lewat track-track solonya seperti “Showdown”, Phuck The Ho-lice”, “Anyir”, “Valkryrie Cicaheum” dan “Jamuan Odin”. Yang menarik dari menyimak track-track ini adalah bagaimana cermatnya Jay meramu sample dan mendudukannya menjadi sebuah konteks yang tajam seperti yang sudah dikerjakannya di debut Darker Dawns Ahead, membuat saya geleng-geleng kepala sambil tersenyum.   

Boleh dibilang, Sekte Air Mata Odin adalah kumpulan respon di atas kanvas beat menjadi sebuah display sempurna yang menguatkan pentingnya sosok Jay di lini depan karya hip hop tanah air. Di satu sisi, kita bisa mengenal Jay dari beberapa track kolaboratif, namun di balik 10 track kolaborasi yang ada, Jay menyisakan 5 komposisi yang bukan sekadar filler, saya melihat ini adalah cara Jay agar orang bisa lebih mengenal dan mengapresiasi dirinya lebih dalam. 

Pada akhirnya lewat album keduanya, pecinta musik terkhusus hip hop bisa mengapresiasi lebih dalam hip hop, bukan hanya dari rapper-rapper yang mereka kenal, namun dari beatmaker potensial, salah satunya Jaydawn. 


 

Penulis
Wahyu Acum Nugroho
Wahyu “Acum” Nugroho Musisi; redaktur pelaksana di Pophariini, penulis buku #Gilavinyl. Menempuh studi bidang Ornitologi di Universitas Atma Jaya Yogyakarta, menjadi kontributor beberapa media seperti Maximum RocknRoll, Matabaca, dan sempat menjabat redaktur pelaksana di Trax Magazine. Waktu luang dihabiskannya bersama bangkutaman, band yang 'mengutuknya' sampai membuat beberapa album.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Eksplor konten lain Pophariini

5 Musisi Indonesia Favorit Bambang Pamungkas

Pophariini berkesempatan untuk melakukan peliputan Prambanan Jazz tanggal 5-7 Juli lalu di Candi Prambanan, Jawa Tengah. Salah satu yang menarik perhatian kami saat itu melihat legenda penyerang Timnas Indonesia Bambang Pamungkas (Bepe) bersama keluarganya …

5 Pertunjukan yang Wajib Ditonton di We The Fest 2024

We The Fest akan berlangsung beberapa jam lagi. Festival garapan Ismaya Live ini menghadirkan sejumlah musisi lokal maupun internasional selama tanggal 19-21 Juli 2024 di GBK – Sports Complex, Jakarta Pusat.    View this …