KaleidosPOP 2020: Wawancara Romantic Echoes

858
KaleidosPOP 2020: Wawancara Romantic Echoes

Menarik bagaimana di tengah pandemi dan musik Indonesia yang masih bergema isu kesehatan mental, sebuah album kemudian dirilis dan hanya membicarakan soal rasa, asmara serta hal-hal sekitarnya dalam balutan musik pop yang cerdas. Ia menyebut dirinya dengan nama Romantic Echoes.

Adalah Muhammad Fadel Alfredo alias  J. (Jakjek) Alfredo, yang biasa dipanggil dengan Jakjek. Vokalis dari trio garage rock revival asal Medan, Pijar yang memutuskan hijrah dari Medan ke Jakarta. Setelah sangat produktif sejak terbentuk di 2013, Pijar rajin merilis mini album setiap tahun, hingga album soundtrack, di tahun 2020 akhirnya Jakjek memutuskan untuk keluar sejenak dari musik rock, dan mencoba mengeksplor sisi musik pop pada dirinya dengan merilis proyek solo. Dan mengambil pengaruh dari Dewa, Chrisye dan tentu saja musik pop itu sendiri.

Jakjek adalah pria pertengahan 20an dengan gaya fesyen yang eksentrik. Baik di Pijar maupun Romantic Echoes. Di proyek terbarunya, ia memilih gaya fesyen yang jauh berbeda dari di Pijar. Dengan kutek hitam yang mewarnai semua jarinya ia datang siang itu ke kantor Pop Hari Ini memakai kalung besi yang menjuntai di atas kausnya. Dan memakai jaket kulit bikers yang beberapa sudutnya dihiasi gambar-gambar yang ia buat sendiri. Ditambah aksesoris khas punk berupa rantai besi kecil yang ia sematkan di bahu melingkari area ketiak jaket kulit hitamnya. Bagi saya gaya itu mengingatkan pada sosok dalam film robot Jepang 80an, Retsu Ichijouji alias si polisi luar angkasa Gavan.

Underrated singer/songwriter mungkin layak disematkan pada pria ini yang melepas album solo perdananya di tengah era pandemi. Bahkan melangkahi unit trio garage rock-nya sendiri Pijar, yang sudah tujuh tahun berkipirah, tapi urung merilis album penuh. Meskipun secara sangat produktif malah konsisten dan aktif merilis mini album. Bayangkan dua tahun terakhir, trio ini bisa merilis 2 mini album tiap tahunnya.

Produktif dan konsistentsi itu juga terjadi pada dirinya sebagai seniman yang serba bisa. Sejak dengan Pijar ia mengerjakan hampir semua materi promosinya. Dari menulis lagu, membuat artwork, logo type, desain untuk merchandise, hingga menyutradarai video musiknya sendiri. Tidak heran bila kini kita bisa menikmati Romantic Echoes dalam satu bingkai besar audio, visual beserta video secara utuh.

Simak obrolan Pop Hari Ini dengan pria penggemar berat film yang gemar bergaya fesyen eksentrik ini di sebuah sore di ruang kantor Pop Hari Ini tentang debut albumnya yang berhasil duduk di berbagai daftar album terbaik 2020, salah satunya di Pop Hari Ini.


 

Jadi kenapa merilis proyek solo album penuh Romantic Echoes? 

Jadi ada situasi dimana gue mungkin terlalu bablas kali ya di Pijar. Jadi ketika Pijar sedang ngeproduksi terus EP, singel dan segala macam, gue eksplor terus tuh. Bikinnya diginiin, digituin. Makin lama makin gue takut ilang nih karakter Pijar-nya. Karena meski anak-anak si Aul sama si Ican nurut-nurut aja, tapi mereka tetap aja di ruang mereka.

Menurut gue, kalau dipaksain terus hasilnya kaya EP terakhir Pijar (Perpetual, 2019). Yang menurut gue udah mulai rada slow untuk ukuran Pijar. Gue akhirnya mikir, wah kayaknya udah harus nih gue buat satu project untuk ngelampiasin isi hati gue mulai dari sound, sampai lirik-lirik yang nggak bisa gue keluarin di Pijar. Lengkap sama cerita-cerita dan segala macamnya.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments