10 Album Indonesia Terbaik 2020 Versi Pophariini

Jan 1, 2021

Akhirnya, sampai juga kita di penghujung tahun. Sebuah tahun – yang tentu saja tidak ada yang pernah menduga bahwa akan mengalami hidup di masa pandemi. Narasi-narasi positif yang sempat bertebaran di awal tahun pun seperti menguap tak berbekas.

Semua babak belur. Semua dipaksa menerima pukulan tanpa ada ancang-ancang untuk membalas – atau setidaknya bertahan. Namun tahun ini tak melulu awan gelap, masih terbit pelangi yang kehadirannya tak diduga-duga.

Dari industri musik Indonesia, walaupun sama-sama babak belur, namun masih ada harapan-harapan yang muncul. Mulai dari berbagai siasat yang mereka lakukan selama masa pandemi, berbagai garapan konsep dari deretan konser virtual, hingga dari rilisan-rilisan lokal –yang bagusnya bukan main.

Sepanjang tahun 2020 pula, Pophariini masih tetap konsisten untuk memberikan resensi dari album-album yang kami anggap menarik, juga dengan harapan agar makin banyak telinga yang menyimak album-album tersebut. Sebuah tradisi, yang selalu kami lakukan sejak tahun 2017 lalu hingga tahun 2019 lalu.

Namun, walaupun dengan pola konsisten seperti itu, kami masih mengalami kesulitan – terima kasih atas karya-karya yang berkualitas – saat harus memilih 10 nama untuk daftar ini.

Setelah melalui perdebatan sengit, berikut ini adalah 10 Album Indonesia Terbaik 2020 Versi Pophariini. Selamat menyimak.


  1. Nadin Amizah – Selamat Ulang Tahun.

Bagaimana bisa seorang penyanyi belia berbicara soal kegamangan dan ketakutan memasuki usia dewasa ketika musik dan bait liriknya justru menyatakan sebaliknya? Ini yang terjadi pada album perdana miliknya. Di balik kekhawatirannya menjelang usia ke-20, justru Nadin berhasil merilis album perdana yang sangat puitis dan kontemplatif, dibalut musik pop kelam namun indah dan menenangkan.

Album ini juga jadi pembuktian sosoknya sebagai penyanyi dan penulis lirik yang cemerlang. Selain piawai bermain kata-kata puitis yang tak tertebak, Nadin juga berhasil menghadirkan emosi sangat dalam, dalam nyanyiannya ditambah dengan vibra berat yang menggantung di tiap ujung bait yang ia nyanyikan.

Simak resensi lengkapnya di sini.


 

2. BAPAK – Miasma Tahun Asu.

Kalau ada rasa penyesalan soal satu-dua album keren di tahun 2020 yang lewat di rotasi rekomendasi kami, Miasma Tahun Asu adalah salah satunya. Sebuah album yang lahir dari gagasan emosional generasi muda hari ini, dibungkus kanvas musik yang penuh dengan kekacauan dan tingkat kecerdasan eksperimentasi yang tinggi. Benar-benar asu!


 

3. Romantic Echoes – Persembahan Dari Masa Lalu.

Proyek solo dari sang vokalis Pijar, J.Alfredo ini langsung saja merebut perhatian kami, tidak lama setelah albumnya muncul. Persembahan Dari Masa Lalu, menjadi puncak penantian setelah dalam beberapa bulan sebelumnya, Romantic Echoes secara konsisten merilis ‘cicilan’ lagu-lagunya, hingga akhirnya ditutup di album ini.

Entah disengaja atau tidak, Persembahan Dari Masa Lalu menawarkan pengalaman yang sesuai dari judulnya, ‘masa lalu’. Sejak nomor pertama hingga terakhir, Romantic Echoes dengan lihai membalut kisah-kisahnya (yang banyaknya bertemakan seputar cinta, tentunya) dengan nuansa-nuansa lawas era 60-70an, yang dirinya padukan dengan beberapa sentuhan modern.

Simak resensi lengkapnya di sini.


 

4. Joe Million – Vandal.

Nama yang satu ini menjadi penyebab mengapa daftar album terbaik tahun ini terlambat rilis di Pophariini. Datang di tenggat terakhir di penghujung tahun, Vandal tanpa basa-basi langsung mengambil tempat di daftar ini, dan bahkan di hati kami.

Joe Million, dengan beringas dan lugas membungkus perjalanannya dalam sebelas nomor.


 

5. Hondo – The Hike to Kamadela.

Tidak banyak penyanyi – yang betul bernyanyi – mampu menulis lagunya sendiri, memproduseri dan memproduksi lagu-lagunya dengan sangat baik. Semua itu terjadi dalam album The Hike to Kamadela. Tapi, untuk yang terbiasa dengan instrumen lazim musik popular akan perlu kesabaran yang lebih dalam menyimak The Hike to Kamadela ini.

Untungnya, Hondo tidak terjebak menggunakan progresi kord nyeleneh dan memilih kord sederhana, tentunya dengan sesekali melebar sehingga terdengar berwarna dan menarik. Makanya, lagu-lagu di The Hike to Kamadela menjadi menarik. Angkat topi untuk peran Kamga sebagai produser lagu-lagu Hondo.

Simak resensi selengkapnya di sini.


 

6. Sajama Cut – GODSIGMA.

Album kelima dari Sajama Cut ini menawarkan sesuatu yang sudah lama tidak ditawarkan oleh mereka, yakni lagu-lagu yang orientasinya adalah untuk dimainkan di panggung, bukan seperti album-album terdahulu yang berorientasi ke studio.

Maka dari itu, tidak kaget jika GODSIGMA hadir dengan energi maksimum, lagu-lagu yang ngebut, seperti sebuah jaminan bahwa panggung mendatang mereka akan penuh keringat dari mereka yang turut sing-along dari nomor-nomor di GODSIGMA.

Simak resensi lengkapnya di sini.


 

7. Ras Muhamad – Satryo

Di album internasional ketujuhnya ini, Ras memadukan unsur Jawa, Arab, dan filosofi Islam dalam balutan musik Jamaika, tepatnya dancehall (reggae hip-hop) yang menjadi khasnya. Ras berhasil meleburkan isu-isu di Indonesia, gejolak religius dirinya dengan tanpa melupakan akar musik reggae dan di depan audiens internasional.

Semua itu, menjadikan sosoknya orisinal sebagai musisi reggae baik di Indonesia, maupun kancah internasional. Semua itu ditunjang oleh karakter vokal dan cengkok Ras yang terdengar semakin matang, baik saat bernyanyi ataupun melakukan toast (rapping Jamaika).

Simak resensi lengkapnya di sini.


 

8. Pamungkas – Solipsism

Banyak surat yang tak sampai di tangan kekasih. Hanya terlihat melayang di udara selama tahun 2020. Pamungkas menuliskan segalanya di darat. Tanpa ragu mempresentasikan apa yang dirasakan, itu pula yang disampaikan dengan musik dan lirik yang tepat pada sasarannya. Lagi-lagi perasaan. Ia memakai teori atas diri sendiri yang sesungguhnya. Suka dan duka, kehidupan, keseharian hati, maka yang terbaik soal pandemi adalah kenangan mendengarkan album ini.

Simak resensi lengkapnya di sini.


 

9. Rollfast – Garatuba

Garatuba bukan sekadar pamer kekuatan dan agresivitas musik, bukan juga sebuah upaya menjadi aneh atau snob. Ada semacam penyampaian pesan bahwa anak-anak muda ini memang sedang meleburkan batas yang dimainkan oleh stereotip sebuah album rock.

Simak resensi lengkapnya di sini.


 

10. Mamang Kesbor – Album Terbaik di Tata Surya

Secara keseluruhan, Mamang Kesbor dengan jenaka (serta brilian, tentunya) membalut problematika dan fenomena anak muda yang tidak jarang kita temui dalam setiap fase kehidupan. Lirik-lirik super sederhana, tanpa berusaha terlihat menjadi yang paling keren, menjadi satu lagi ‘masterpiece’ terbaru dari Mamang Kesbor.

Rasanya menyenangkan, mendengarkan mendengarkan lagu-lagu dengan lirik-lirik ‘sompral’ seperti ini, seperti yang bagaimana Mamang Kesbor suguhkan di Album Terbaik di Tata Surya ini.

Simak resensi lengkapnya di sini.

 


 

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Eksplor konten lain Pophariini

Gavendri – Should I | GOODLIVE Sessions

Di akhir bulan Agustus lalu, Gavendri kembali melepas satu lagi nomor yang membawa warna terbaru dari perjalanan bermusiknya, peralihan dari pop ke R&B.

Tiga Nama di Edisi Kedua Album Kompilasi Sun Eater

Setelah melepas edisi perdananya di bulan Agustus lalu, kali ini Sun Eater kembali melepas edisi keduanya dari album kompilasi ini.