KaleidosPOP 2020: Wawancara Romantic Echoes

• Jan 7, 2021
KaleidosPOP 2020: Wawancara Romantic Echoes

Dulu gue punya Opung (Kakek), dia tuh doktor filsafat yang dapat gelarnya juga dari Amerika langsung. Selama gue masih kecil, gue tuh nggak ngeh ternyata ada perpustakan punya dia yang lengkap dan ada di rumah gue sendiri. Akhirnya ketika gue mulai gede dan dia sudah meninggal, gue baru ngeh. Kenapa gue dulu waktu dia masih hidup gue nggak banyak bertukar pikiran sama dia ya. Gue yakin dia pasti banyak mau menyampaikan sesuatu sama gue.

Terus gue banyak ngabisin waktu baca-baca di perpustakaannya dia. Udah ga perlu ke toko buku itu. Karena di rumah gue ada banyak buku yang udah the best menurut gue. Secara ga langsung Opung ngaruh banget ke penulisan lirik gue. Lagu “Rindu Membawa” gue ciptakan untuk dia. Lagu Romantic Echoes yang panjangnya cuma dua menit.

Terus juga ada Om gue. Dia salah satu personil band Purgatory. Pada saat itu teman-teman gue nggak ada yang punya kemewahan kayak gue. Gue mungkin beruntung banget, di rumahnya vinyl dan CD-nya banyak. Walaupun kebanyakan lebih ke hard rock dan metal. Om gue kan ga tinggal di Medan kan, karena Purgatory di Jakarta. Kalau balik ke Medan sering banget nyekokin musik musik baru.

Tapi baru pas gue SMA, gue ketemu band The Strokes. Dah selesai tuh. Fase musik metal-nya selesai. Baru gue ketemu sama yang baru kerasa, ini gue banget.

Band yang berpengaruh buat elo?

The Strokes, Blur, satu laginya susah banget sih sebenarnya. Dewa lah era Once. Terutama album Bintang Lima

Ada musisi lokal yang berpengaruh buat Romantic Echoes?

Sedikit banyak Guruh Soekarnoputra. Terus Yockie dengan segala macam karyanya. Kalau yang paling populernya, Dewa. Dewa tuh lumayan buat gue ‘anjinglah bisa ada yah yang kaya gini’. Apalagi kemarin gue ketemu Ahmad Dhani kan. Gue kayak star struck gitu. Gue ngasih denger lagu “Menutup Mata Untuk Melihat Dunia” yang durasinya sembilan menit sama dia. Selama itu diem aja tuh menyimak, nggak ada ngomong sama sekali. Diam aja.

Taunya dia komentar “Liriknya bagus. ini kamu sendiri yang buat? Dengan segala macam orkestra, aransemen, dinamika dan lain-lainnya? Masa sih! Nggak percaya aku rekkk”. (menirukan ucapan Ahmad Dhani kepadanya)

Gue di situ ngeliatnya, anjing! Lagu gue yang panjang banget ini didengar sama idola gue. Terus dari situ kita lumayan ngobrol banyak sih, mulai dari segi teknis, segi sound, segi lirik gitu, dan so far dia kayak senang lah. “Seneng gue masih bisa dengar musik-musik kayak gini sekarang gini senanglah”. Dia bilang kayak gitu.

Lo ngerasa seromantis itu memakai nama Romantic Echoes berdasarkan apa?

Sebenernya harapan sih. Gue tuh berharap ngebawa hal itu menjadi romantis. Kalau ditelaah tuh isi liriknya di album ini nggak ada yang romantis-romantis banget sebenarnya. Kebanyakan malah kecewa. Hal-hal sedih dan kecewa. Tapi gue berharap itu menjadi romantis. Jangan sampe tenggelam di situ. Itu sih misi gue. Nah, Romantic Echoes datang untuk meromantiskan itu, meromantiskan kenangan buruk itu.

Soal lirik, yang paling dirasa pencapaian terbaik atau prosesnya terlama ada di lagu apa?

Lagu “Persembahan Dari Masa Lalu”. Itu sebenarnya inspirasinya dari orang gila waktu gue masih SD. Nama orang gilanya, Mamang. Tapi ini konsep doang ya. Jadi Mamang itu, dulu waktu gue masih SD, di jalan, dia sering ngelemparin gue dan temen-temen pake batu. Trus dia kaya nyesel gitu, dan ngomong  ke diri sendiri “Kau jangan gitu”. Monolog kayak Smeagol gitu (karakter dari Lord of the Ring. Red). Wah keren juga. Sendiri tapi ngomong berdua gitu.

Akhirnya gue dapat konsep tuh di lagu “Persembahan Dari Masa Lalu” yang sebenernya adalah monolog. Lirik awalnya “Dan semua kujalani penuh salah, berilah sekali lagi rasa percaya. Mungkin kah kumiliki yang dahulu pernah ada. Yang lalu biarlah berlalu”. Ini dia tuh ngomong sama dirinya sendiri yang satu lagi. “Apakah itu kecewa yang kau rasakan? Dengarkanlah, ini dengerin sumpahku yah akan kupastikan. Aku ingin kau tau hatiku hanya untukmu. Kau nggak perlu takut. Aku akan selalu ada untukmu. Yang lalu biarlah berlalu”.  Jadi pada akhirnya hati kita, diri kita sendiri yang maafin diri kita.

Romantic Echoes datang untuk  meromantiskan kenangan buruk itu

Misalnya kita dulu kayak, mungkin segila apa kita dulu. Hati kita pasti maafin diri kita. Gue mikirnya gitu. Baru terakhirnya kayak “Amarah, ku dibunuh malam, dicumbu kecewa, maafkanlah hati”. Ini kayak penyesalan gitu. “Kekasih lupakan sejenak”, ‘Kekasih ini’ sebenarnya adalah ditujukan ke Allah. Jadi kayak “Kekasih, lupakan sejenak semua yang terjadi maafkanlah diri”

1
2
3
4
5
6
7
Penulis
Anto Arief
Suka membaca tentang musik, subkultur anak muda dan gemar menonton film. Pernah bermain gitar untuk Tulus nyaris sewindu, lalu bernyanyi dan bermain gitar untuk 70sOC.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Eksplor konten lain Pophariini

SIVIA Merilis Lagu Hening dalam “Serene”

Memasuki pertengahan bulan keenam, SIVIA kembali hadir dengan single terbarunya, “Serene”. Ini merupakan single kedua menuju peluncuran mini album yang akan datang, setelah dibuka nomor pertama “Are You My Valentine?” pada Februari 2021 lalu. …

Perjalanan Panjang Basboi dalam Album Debutnya

Setelah melalui rangkaian single-single yang dilepas secara eceran di beberapa waktu ke belakang, akhirnya Basboi resmi menutup rangkaian tersebut dengan album debutnya, Adulting For Dummies. Resmi dilepas pada hari Jumat (18/06) ini, Basboi menyuguhkan …