KaleidosPOP 2020: Wawancara Romantic Echoes

• Jan 7, 2021
KaleidosPOP 2020: Wawancara Romantic Echoes

Seberapa banyak orang yang merhatiin kalau lo punya fesyen statement tersendiri?

Gue lumayan banyak dapat perhatian justru dari pendengar Pijar. Mereka malah justru suka sama gayanya dulu pas lihat Pijar manggung. Baru sama musiknya. Karena orang dengar nama Pijar tuh mikirnya adalah ‘Pijar tuh musiknya kayak folk senja gitu yah?’. Ada beberapa orang yang malas soalnya (tertawa). Penting juga ya sebuah nama.

Lo dari drummer lalu vokalis. Sebenarnya makna jadi penyanyi buat lo apa?

Kalau makna jadi seorang penyanyi tuh ditambahin seorang penulis lirik yah. Gue mungkin ingin berarti aja. Maknanya mungkin menjadi sesuatu bagi orang-orang contohnya lo bermakna bagi hidup orang. Lo bukan cuma sebatas lo bikin lirik, nyiptain musik bagus, misi lo selesai. Bukan seberapa banyak orang yang dengerin lagu gue, tapi seberapa berartinya karya gue untuk mereka. Gue lebih ke situ sih.

Kapan sadar kalau ternyata suara lo bagus?

Di Pijar saat album Ekstase. Karena dulu gue pas mau nyanyi, Aul tuh salah satu orang yang paling benci kalau gue nyanyi. Karena dia kenalnya gue drumer dulu. Aul juga sering bilang “Kalau mau bikin band, ya nyari vokalis yang bener vokalis. Jangan drummer jadi vokalis”. Gue sendiri yang ngeyakinin ‘Percaya deh’. Ya udah akhirnya gue bikin Pijar.

Ada momen juga Noh Salleh yang sempet nonton Pijar komentar pas gue lagi check sound. Dia nanya, “Itu pake efek apa bro?”. Padahal ngga ada pake efek apa-apa. Di situ gue langsung nangkep. Trus ketika gue nyanyi sama Rendy (Nidji/Steve-Smith. produser Pijar) dia juga muji “Wah suara lo kayak ada reverb-nya sendiri yah”. Di situ gue langsung nyadar dan ngulik lagi karakter vokal gue itu.

Waktu dibilang Aul nggak usah nyanyi, apa lo sempat latihan nyanyi terus?

Nggak. Gue sama sekali nggak latihan. Bahkan sampai sekarang nggak pernah latihan karena bandnya (Pijar) gue yang buat. Jadi ya gue cuek aja bertahan jadi vokalis (tertawa).

Apa yang elo dapet ketika bernyanyi di Romantic Echoes?

Gue banyak banget eksperimen, eksplor gitu. Album ini kan semuanya home recording. Vokal, gitar dan segala macam sampai ada beberapa track drum. Itu segala macam hal lah gue coba termasu tae vokal. Ada lagu yang nyantai, gue nyanyi sambil duduk. Ternyata beda posisi beda hasil. Kalau take vokal profesional pasti nggak bisa karena kalau nyanyi pasti harus berdiri. Nah gue di album Romantic Echoes ada yang sambil tiduran. Malah lebih dapat feelnya. Seru juga. Kalau di Pijar kan ngga bisa sebebas itu. Ada produsernya, ada vocal director-nya.

Apa respon orang mendengar lo bernyanyi lagu-lagu yang lebih ngepop di Romantic Echoes?

Awalnya pengin banget vokal gue bisa terdengar halus dan dekat sama pendengar. Tapi ternyata dari komentar di media sosial dan Youtube responnya positif dan macem-macem. Sampe ada yang bilang “wah ini titisan Chrisye” (tertawa).

Gue seneng-seneng aja. Ya karena reference gue emang ke situ. Berarti gue berhasil ngulik cara Chrisye nyanyi waktu pada saat itu. Meskipun ampe sekarang masih gue kulik juga.

Gue juga sering dibanding-bandingin sama Noh Salleh (vokalis indie Malaysia) sama Ade Paloh (band Sore). Dibilang “kayak Paloh pop nih”. Ya gue terima aja lah karena emang Sore tuh soundtrack gue SMA juga. Ngefans banget lah. Tapi sejujurnya gue nyiptain album ini nggak ada sama sekali ke arah situ. Tapi kalau misalnya lo notice ke situ ya mungkin alam bawah sadar gue yang bawa gue ke situ. Bikin tarikannya vokalnya terdengr mirip.

Apa pencapain tertinggi yang didapat dari Romantic Echoes?

Kepuasan batinnya sih lumayan banget. Alhamdullahnya sejauh ini Romantic Echoes dapet banyak pujian. Rata-rata pada bilang “wah satu album enak semua ya”. Happy sih rasanya. Jadi mungkin, walaupun ngga dapet panggung, gue happy happy aja karena batin udah puas.

Gue nyiptain musik untuk diri sendir dan orang banyak. Dua-duanya berhasil terpuaskan tuh. Untuk diri sendiri terpuaskan karena udah puas sama musik gue. Yang kedua feedback orang banyak yang juga positif. Nilai plusnya di situ. Gue kadang bingungkan masak gue ke sini. Masak fase gue selanjutnya musik seperti ini sih ketika udah menjadi satu kesatuan ya albumnya. Tapi gue percaya ini fase yang harus gue lewati harus begini. Gue nggak menutup kemungkinan, tiba-tiba di depan Romantic Echoes menjadi rock. Gue nggak itu, bunglon juga. Ibaratnya, album keduanya Romantic Echoes gue jamin pasti beda banget.

1
2
3
4
5
6
7
Penulis
Anto Arief
Suka membaca tentang musik, subkultur anak muda dan gemar menonton film. Pernah bermain gitar untuk Tulus nyaris sewindu, lalu bernyanyi dan bermain gitar untuk 70sOC.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Eksplor konten lain Pophariini

SIVIA Merilis Lagu Hening dalam “Serene”

Memasuki pertengahan bulan keenam, SIVIA kembali hadir dengan single terbarunya, “Serene”. Ini merupakan single kedua menuju peluncuran mini album yang akan datang, setelah dibuka nomor pertama “Are You My Valentine?” pada Februari 2021 lalu. …

Perjalanan Panjang Basboi dalam Album Debutnya

Setelah melalui rangkaian single-single yang dilepas secara eceran di beberapa waktu ke belakang, akhirnya Basboi resmi menutup rangkaian tersebut dengan album debutnya, Adulting For Dummies. Resmi dilepas pada hari Jumat (18/06) ini, Basboi menyuguhkan …