KaleidosPOP 2020: Wawancara Romantic Echoes

• Jan 7, 2021
KaleidosPOP 2020: Wawancara Romantic Echoes

Elo memilih bicara hal simpel tentang asmara dan rasa. Pendapat lo tentang tema mental health di musik kita?

Kalau ngomongin itu sebenarnya pasti semua orang juga ngerasain dan punya cerita masing-masing. Tapi gue memilih nggak mau berlarut-larut di situ. Gue rasa karena social media, yang bikin orang gampang berbagi jadinya makin banyak. Kalau dibilang jenuh, pasti jenuh sih. Tapi gue milih ga mau berlarut-larut di situ.

Pijar apa kabarnya?

Baik. Cuma tadinya bayangan gue tahun 2020 si Romantic Echoes akan maksimal promo dan manggung gitu. Di akhir tahun beres deh. Itu yang ada di dalam pikiran gue. Jadi tahun 2021 gue udah bisa seru-seruan lagi sama Pijar. Tapi ya kondisinya begini gimana ya (tertawa)

Diskografi Pijar. Gambar: Twitter.com/pijarmusic

Setelah tujuh tahun, sekian rilisan album dan video musik serta manggung di panggung-panggung besar gimana elo ngelihat pencapaian Pijar sekarang?

Dari awal kita bareng berempat. Ekspetasi kita tuh sebenarnya pada saat dibentuk di Medan tahun 2013 nggak ada yang muluk-muluk. Kita bikin EP (album mini) aja dulu. Bikin EP tuh dulu di Medan susah banget. Band Medan punya EP tuh hampir nggak mungkin. Karena mindset- nya kalau di Medan nge-band itu ya untuk waktu senggang. Pada saat umur lo tiba, lo harus kerja ya lo tinggalin band. Udah selesai.

Fase itu begitu terus tuh. Sampai akhirnya ke Pijar. Gue nggak mau begitu. Gue pengen setelah bikin EP setidaknya, orang Makasar, orang Palembang, orang Bandung, orang dari luar Medan tau ada band dari Medan bernama Pijar. Itu doang sebenarnya misi utama gue. Jadi kalau sekarang ditanya pencapaian sejauh mana. Sudah terlaksanakan.

Dari album mini pertamanya Pijar, The Sound Of Youth”, Exposure, Ekstase, Lunar Biru, EP soundtrack “Antologi Rasa”, abis itu gue pribadi udah mulai ngerasa gue ‘ngebawa’ Pijar terlalu jauh. Kebetulan Ican pada saat yang kemarin lagi lumayan sama seleranya. Yang kita suka lumayan mirip. Tapi akhirnya gue sadar bahwasanya di EP terakhir, Perpetual (2019) si Pijar ituu bukan begini. Akhirnya kita mutusin selesai yang EP terakhir ya udah kita nyantai-nyantai aja dulu. Kalau ada live, ada manggung yang cocok harganya kenapa nggak.

Sebenarnya kami lagi asik sama mainan masing-masing. Gue dengan Romantic Echoes, si Ican sama Waltz Dialog dan Turbo Kidz-nya, si Aul lagi jadi barista di kedainya. Gue nggak mau buat Pijar jadi gue banget. Maunya Pijar kayak dulu lagi. Seandainya bikin album kayak Exposure lagi. Itu karakter aslinya Pijar tuh begitu, garage rock revival  sebenernya. Bukan musik pop tropis atau gimana gitu. Makanya akhirnya gue bikinlah Romantic Echoes.

Ada beban ngga sih dengan nama besar Pijar di belakang Romantic Echoes?

Gue termasuk takut. Soalnya si Pijarnya itu, apa ya? Gue nggak bilang ‘udah keren’. tapi image nya udah baik di mata orang. Gue nggak mau buat orang jadi ilfeel. Tapi balik lagi, gue nggak yang “Anjing kalau gue buat kayak gini, fans di Pijar jadi males”.  Tapi lebih penting buat gue ini sejauh mana seorang Jakjek bisa eksplor. Eksplor di sisi sound, lirik, musik dan lain-lain. Trus bonusnya lagi orang-orang yang udah suka Pijar dari dulu ternyata suka juga. Begitu juga yang baru mengenal gue sebagai Romantic Echoes bukan Pijar. Jadi senang sejauh ini tinggal manggungnya aja (tertawa)

Romantic Echoes nggak ambisius?

Iya. Bisa jadi malah lebih ambisius. Bukan daripada Pijar. Pijar ambisius juga. Balik lagi, di fase umur gue segini gue Romantic Echoes gue pengin apa yah. Ada musik pop lagi seperti ini, itu yang gue pengenin.

Apa pertimbangan merilis singel “Menutup Mata Untuk Melihat Dunia” belakangan, terpisah dari album?

Gue butuh sesuatu di album gue setelah dirilis. Tadinya mau dimasukin langsung 13 lagu total. Tapi karena ngga ada panggung di tahun ini, dijadikanlah si lagu ini “cerita tersendiri” sebagai penutup album, tapi terpisah dari album utamanya. Lagunya soalnya 9 menit! Sayang kalau ngga dapet perhatian khusus. Tapi yang jelas lagu ini juga akan termuat di CD Romantic Echoes nanti.

1
2
3
4
5
6
7
Penulis
Anto Arief
Suka membaca tentang musik, subkultur anak muda dan gemar menonton film. Pernah bermain gitar untuk Tulus nyaris sewindu, lalu bernyanyi dan bermain gitar untuk 70sOC.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Eksplor konten lain Pophariini

SIVIA Merilis Lagu Hening dalam “Serene”

Memasuki pertengahan bulan keenam, SIVIA kembali hadir dengan single terbarunya, “Serene”. Ini merupakan single kedua menuju peluncuran mini album yang akan datang, setelah dibuka nomor pertama “Are You My Valentine?” pada Februari 2021 lalu. …

Perjalanan Panjang Basboi dalam Album Debutnya

Setelah melalui rangkaian single-single yang dilepas secara eceran di beberapa waktu ke belakang, akhirnya Basboi resmi menutup rangkaian tersebut dengan album debutnya, Adulting For Dummies. Resmi dilepas pada hari Jumat (18/06) ini, Basboi menyuguhkan …