Kareem Soenharjo, Hikayat Pagebluk Si Nerdy Jaksel

1830

Bila Miasma Tahun Asu harus dijelaskan dalam adjektiva, itu berarti Pure, Honest & Destructive. Tiga kata yang bisa dipadatkan dalam satu lagu berbunyi Dogma Milenial Provinsi Yggdrasil. Pure karena kita bisa mendengar nafasnya terengah bahkan sebelum lagunya dimulai. Menunjukkan beban misantropik seorang pemuda menyaksikan dunianya berjalan terhimpit di antara ketakutan dan kemarahan. Kemudian memuntahkan ironi; sering kali Honesty hanya bisa berguna jika dia bernada sinis. ‘Aku muda, aku tak berguna/Aku menari di atas sentimen berduka/Dari pagi, sampai malam/Kupijak kakiku pada bumiku yang banal.’ Dan Destruktif ketika tahu hal yang ingin saya kerjakan seusai mengulang lagu itu sebanyak dua kali adalah . . .     

. . . mengulanginya lagi. Kali ini diiringi oleh tendensi konyol ingin menghapus seluruh 3224 kata yang sudah saya ketik untuk merangkai artikel sepanjang ini. Percuma. Toh, kalian juga tidak akan tahan membacanya, kan? Rasa frustrasi di lagu itu beresonansi dengan kuatnya sampai-sampai berhasil menelanjangi kepercayaan diri seseorang yang terlalu primitif untuk cukup bodoh menelan lirik-lirik lagu rock secara literal. Tapi beruntung dalam sekejap saya dapat menguasai diri, sehingga sewaktu kalimat pada verse kedua masuk: ‘Aku sudah tua, aku ingin berguna/Aku bertapak di atas sentimen masa muda/Tiada pagi, tiada malam/Kugali bumiku selagi tunggu kiamat,’ hal yang saya lakukan berikutnya adalah meludahkan uranium berbentuk reak ke depan monitor sambil menyelesaikan paragraf yang sungguh renta, sia-sia dan sentimental ini.

DMPY mengambil perspektif dualitas ‘tua & muda’ yang menjadi sumber ketakutan serta kekuatan Kareem Soenharjo. Dogma dirinya adalah mantra bagi generasinya. Generasi Ketiak, katanya, yang terjepit di sebuah periode yang terus melaju dengan atau tanpa adanya keikutsertaan mereka. “Kami ini generasi tengah di mana ada inovasi teknologi, ada advancement in maybe agriculture atau budaya. Gue merasa generasi ini akan menjadi generasi yang tertinggal,” ujarnya.

Lagu itu ditulis sebagai cerminan milenial dalam melihat kehidupan, yaitu dengan menertawakan tragedi. “It’s masking your sadness dengan tarian di atas sentimen berduka,” lanjutnya.

Baca juga:  Buruk Muka, Warganet Dibelah: Tanggapan Untuk Anto Arief Soal PP 56/2021

Provinsi Yggdrasil mengacu kepada pohon kehidupan yang menghubungkan sembilan dunia dalam kosmologi Nordik. Penggunaan analogi mitologi merupakan sebuah ketertarikan tersendiri. Ia memanfaatkannya sebagai petunjuk untuk menjawab segala macam misteri kehidupan. “Yggdrasil adalah suatu paradoks. Kita tinggal di zaman serba maju, we’re going to the better future, we’re sending rocket to Mars. But for me deep down, it’s too late for the Millenials to be anything about it because the generation before us susah untuk melepaskan legacy mereka buat kami lanjutkan. Dan generasi setelah kamilah yang bakal merasakan buah usaha dari generasi sebelumnya. Kami milenial just stuck on global warming and climate change,” jelasnya.

Di Orpheus LIVE From The Underworld giliran mitologi Yunani yang diadaptasi. Lakon bucin dari seorang musikus dan penyair bernama Orpheus, anak pasangan dewa sungai Oiagros dan dewi seni Kalliope. Kareem Soenharjo menafsirkan sekilas maksud lagu itu, “Ketidakpastian itu harus dijalani. And with love everything is uncertain. Especially in love. Love is so complicated, menurut gue. Most of the time you don’t know where you headed, but i guess that’s the beauty of it. Sometimes you just have to take the risks for love. Ini lagu tentang kehilangan sesuatu, and the regrets that come after it.”

Satu kata lagi yang pas disandingkan dengan Miasma Tahun Asu, sensitif. Itu yang membuat lagu-lagunya berkarang personal. Semi otobiografikal. Dimulai dari ayahnya. Nama ‘Bapak’ dipetik dari sosok yang pertama kali mengajarkannya bermain gitar; kord per kord lagu Wish You Were Here-nya Pink Floyd, dan membelikannya CD Led Zeppelin ketika anak bungsu lelakinya menunjuk sebuah adegan van film School of Rock yang memasang Immigrant Song. Mengilhami Zeppelin di waktu dini secara langsung mengasah bakat prog rock-nya. Kita tahu Zeppelin menulis lagu-lagu rock 70-an yang relatif lebih sulit (baca: imajinatif) dibanding, katakanlah AC/DC atau Black Sabbath atau Rolling Stones. Mengutip Chuck Klosterman dalam bukunya Killing Yourself To Live: ‘Led Zeppelin sounds like who they are, but they also sound loke who they are not. They sound like an chiosaur. They sound like Hannibal’s assault across the Alps. They sound sexy and sexist and sexless. They sound dark but stoned; they sound smart but dumb; they seem older than you, but just barely. You will hear the opening howl of Immigrant Song, and you will imagine standing on the bow of a Viking ship and screaming about Valhalla.’

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments