Kareem Soenharjo, Hikayat Pagebluk Si Nerdy Jaksel

1829

Apa Kareem Soenharjo merasakan hal yang sama seperti itu ketika naluri bocah SMP-nya tersentak begitu mendapati lengkingan Robert Plant merudapaksa telinganya? Yang jelas sejak saat itu hidupnya tak sama lagi. Ia mengalami apa yang disebut dengan momen rock & roll epiphany, dan mulai membentuk band. Tapi kunci dari selera musiknya hari ini, hingga mampu menghasilkan Miasma Tahun Asu terpantul dari kalimatnya berikut ini, “Dorongan buat untuk bikin lagu datang dari bokap, tapi dorongan untuk jadi berbeda selalu datang dari kakak gue.”

Adalah seniman erotika, Ula Zuhra Soenharjo yang menularkan referensi ekstrem kepadanya. Saat semua orang tengah menggandrungi Lamb of God atau Devils Wear Prada, ia pilih mengikuti band yang lebih minor, Pig Destroyer atau Nechropagist. Dari kakaknya pula ketertarikannya terhadap dongeng mitologi mengelotok.

Hal itu menumbuhkan mentalitas orisinal yang pernah dikoarkannya dalam sebuah wawancara dengan Kudeta Mag. “I see a lot of kids who are more confident in (putting out) their art, but I don’t see a lot of idealism and mentality in them. Posers die faster. Be Weird, it gets the job done. Strive for longevity rather than short fame,” jawabnya tatkala diminta memberi opini soal perkembangan kultur kreativitas anak muda Jakarta.

kunci dari selera musiknya hari ini, hingga mampu menghasilkan Miasma Tahun Asu terpantul dari kalimatnya berikut ini, “Dorongan buat untuk bikin lagu datang dari bokap, tapi dorongan untuk jadi berbeda selalu datang dari kakak gue.”

Saya memintanya mengelaborasi pernyataan tersebut sekarang. Menurutnya, manfaatkanlah teknologi untuk menulis inovasi musik, bukan sekadar meniru, apalagi melakukan plagiasi. Tidak ada lagi yang orisinal di bawah gelincir matahari, memang, tapi sadarilah bahwa tujuan berkarya adalah untuk menantang peradaban budaya yang sedang kita tinggali saat ini. Hidangkan sesuatu yang baru ke atas meja.

“Seperti kata Nina Simone,” ujarnya, “tanggung jawab setiap seniman itu hadir untuk bisa mencerminkan sejarah generasi mereka. Kalau bukan kita, lalu siapa yang akan melakukannya? Lebih mudah buat orang-orang untuk mempelajari kehidupan masa lalu melalui musik daripada membaca buku sejarah.”

Baca juga:  ‘Nusantara Forever!’: Kehidupan Generasi Muda Setelah Pandemi Covid-19

Dengan emosi yang begitu telanjang Kareem Soenharjo khawatir kalau lagu-lagunya ternyata salah diintepretasikan oleh para pendengarnya sebagai mantra negatif. Ia sadar, adalah sebuah ironi untuk memahami album ini hanya dalam spektrum yang sepenuhnya positif. Miasma Tahun Asu dicetak di atas prasasti kerapuhan generasi milenial, angkara kebingungan, ketakutan dan kesedihan menatap masa depan, pil depresif, tantrum kesehatan mental yang membuat mereka cengeng, uber sensitif. Tapi justru di situlah pokok albumnya, musik Bapak ditulis sebagai terapi eksorsis bagi diri Kareem Soenharjo.

“Pada akhirnya gue cuma ingin menjalani kehidupan yang sederhana. Biar musik gue yang berantakan,” ucapnya.

Okay, folks, teman-teman indie-shit yang berbahagia. Kita sudahi saja permainan ini. Kegilaan dan kebencian telah memberikan saya kata-kata: ‘We do something with our life what we can do and then we die.’ Ingat, jangan pernah terlalu gampang menyenangkan publik dan berkompromilah sesedikit mungkin, because you can’t be something that you are not.

___

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments