Karma Baik 20 Tahun Epic Symphony, Album Debut Homogenic

Apr 18, 2024
Homogenic Epic Symphony

Epic Symphony album perdana Homogenic; trio electronica asal Bandung. Telah berusia 20 tahun. Mendengarkannya kembali di masa ini ternyata masih terasa relevan dan masih segar seperti saat pertama mendengarkannya. Namun, seiring waktu dan berkembangnya referensi dan obrolan-obrolan, saya mendapatkan perspektif baru album ini yang dituangkan dalam tulisan berikut.

Pada Awalnya

“Suatu hari nanti, gue harus bikin band tu kayak gini” – Dina Dellyana.

Saat ia terekspos video klip besutan Michel Gondry. Sebuah video klip sureal, menampilkan truk dengan gigi bau jigong dan dokter gorila, seperti masuk kedalam mimpi buruk. Dirilis tahun 1995, sebagai visualisasi single “Army of Me” album kedua Björk yang berjudul “Post”.

Lagu dengan sentuhan industrial rock dan trip hop ini sedang heavy rotation di MTV, bersama-sama dengan “Only Happy When It Rains” dari band alternative rock: Garbage.

Terekspos video klip sureal besutan Michel Gondry. Menampilkan truk dengan gigi bau jigong dan dokter gorila, seperti masuk ke dalam mimpi buruk. Dirilis tahun 1995, sebagai visualisasi single “Army of Me” album kedua Björk yang berjudul “Post”.

Kedua band ini dapat disebut sebagai inspirasi pertama Dina, sang mastermind untuk bermusik dan bukan kebetulan Ia mengambil nama, Homogenic, judul album ketiga Björk yang rilis 1997, sebagai nama band.

Kemudian

Beranjak dewasa, Dina mulai menggali musik lebih dalam lagi. Ia sering berkunjung ke toko kaset bekas di Dago dan Dipati Ukur. Berkenalan dengan Jerry seorang pengelola lapak kaset dan CD bekas. Di masa itu album-album Portishead, Everything but the Girl, Mandalay, Telepopmusik, Saint Etienne dan Massive Attack menjadi asupan musik yang bergizi.

Dari lapak tersebut juga Dina mendapatkan kaset pertamanya: Björk album Homogenic.

Album Björk, Homogenic sering disebut puncak kreatifitasnya di dekade 90-an. karena pendekatan musikal yang mendalam dan menyentuh sisi spiritualitas. Beat-nya tidak umum untuk musik mainstream masa itu. Liriknya pun disebut “maju” pada masanya. Meskipun ternyata ketika disimak baik-baik liriknya tidak sepenuhnya mengikuti kaidah bahasa Inggris yang baik dan benar.

“Gue pernah dikomentarin Arian (Vokalis Seringai saat masih di majalah Trax) ini lagu “Hope, Meanness & Decision apa artinya?” Saat itu Dina merasa tidak apa  bahasa Inggrisnya tidak 100% benar. Karena Björk juga secara tata bahasa, bahasa Inggrisnya tidak sepenuhnya benar.

Hal yang sama terjadi di dalam beberapa lagu di album perdana Homogenic. Hal ini diungkapkan oleh seorang “penasihat” bahasa dari London, saat Dina berkonsultasi untuk memperbaiki lirik bahasa Inggrisnya di beberapa lagunya. Pada akhirnya Dina memposisikan sebagai penulis lagu yang penting idenya tersalurkan.

Saat itu Dina merasa tidak mengapa  jika bahasa Inggrisnya tidak 100% benar. Karena Björk juga secara tata bahasa, bahasa Inggrisnya tidak sepenuhnya benar. Beberapa penulis musik memaknakan kalau lagu ini tentang ditinggalkan pasangan. Tetapi menurut Dina, semua lagu di album itu lebih tentang perasaan tidak menentu saat harus menentukan jalan hidup di waktu jelang dewasa. Bukan soal pasangan.

Inspirasi

Di Bandung tahun 2002, Arini Dharmawan dan Oky Kusprianto membuka Rumah Buku (kemudian menjadi Kineruku)  di Jalan Hegarmanah, Bandung. Sebuah perpustakaan bernuansa rumah yang menyediakan berbagai buku sastra dalam bahasa Inggris maupun Indonesia. Salah satu buku berjudul “Kill the Radio, Sebuah Radio, Kumatikan” karya Dorothea Rosa Herliany (DRH) rupanya menarik perhatian Dina.

Buku puisi bernuansa personal ini hadir dengan karakter feminisme yang kuat. Banyak tema berlatarkan pengalaman hidup DRH menghadapi ketidakjelasan situasi sosial politik Indonesia.

Duka, luka dan kekhawatiran DRH dalam memahami realitas tersebut rupanya terasa relevan bagi Dina, yang juga menulis seluruh lirik di album debut Homogenic, Epic Symphony. Saat itu ia sedang menghadapi persimpangan hidup.

Sebagai anak tunggal, Dina merasa sendirian dalam menghadapi tanggung jawab. Orang tuanya sibuk bekerja dan tidak ada adik atau kakak untuk bercerita. Ia juga tidak berkuliah di jurusan yang diinginkan, juga tidak siap menjadi dewasa. Lirik-lirik di Epic Symphony jadi banyak terinspirasi dari puisi DRH dan situasi yang Dina hadapi saat itu.

Proses

Dina bertemu Juang, teman lama yang juga seorang yang suka membuat musik elektronik. Mereka saling berbagi referensi dan mulai menulis lagu bersama. Di masa itu, Dina sangat produktif menulis lagu. Ia sangat bersemangat mewujudkan proyek musik impiannya.

Biasanya proses dimulai dengan merekam senandung dan lirik, kemudian Juang akan mengaransemen bagian musik lagu tersebut. Seiring waktu, Dina mulai belajar software seperti Fruity Loops dan menulis sendiri beat dan aransemen lagu.

Kemudian mereka mengajak Risa Saraswati untuk bernyanyi dalam rekaman. Risa adalah teman lama yang sudah beberapa kali satu band bersama Dina untuk tampil di cafe maupun panggung punk rock.

Hasilnya adalah demo lagu yang sampai ke meja FFWD Records. Ketiga orang penggerak FFWD Records; Helvi, Didit dan (alm) Marin sepakat untuk membantu Homogenic untuk merilis album. Dengan syarat; mereka harus kuat secara musik dan konsep.

Homogenic formasi awal (ki-ka: Juang, Dina dan Risa) / Foto: dok. Homogenic

Konsep

Homogenic lalu mengajak Dada dan (alm.) Lukman Gunawan bergabung sebagai tim manajemen. Menurut Dina kedua orang ini sangat berpengaruh, terutama Lukman yang merupakan seorang konseptor ulung.

Bagi Lukman, Homogenic sebagai band harus berkonsep sebagai manusia, memiliki karakter yang menyeluruh dan bukan cuma musik.

Lukman lalu mendorong trio musisi muda elektronik ini memikirkan konsep; mulai dari cara berkomunikasi saat bertemu fans, pakaian saat manggung sampai kebiasaan yang perlu diperhatikan di saat mereka ngantor. Misalnya Dea pernah ditegur Lukman karena hanya pakai sandal rumah di saat mereka ngantor.

Dorongan-dorongan inilah yang kemudian menghidupkan karakter Homogenic sebagai projek yang menyeluruh.

Lukman seringkali menjadi  orang pertama yang diperdengarkan lagu-lagu baru. Proses lagu biasanya baru lanjut kalau sudah mendapat pengakuan darinya. Fakta menarik di kemudian hari Lukman menikahi dengan Maradilla, adik dari Amandia Syachridar (vokalis Homogenic saat ini). Di Homogenic, Maradilla sering mengisi sebagai backing vocal dan kadang sebagai penari di kemudian hari. Maradilla juga penari di kover album kompilasi terbaru Homogenic, Aurorae: The Best of Homogenic yang rilis tahun 2023.

Peran almarhum Lukman Gunawan begitu besar dalam membentuk konsep Homogenic sampai saat ini. Hasilnya adalah pengalaman menikmati Homogenic secara menyeluruh dan solid yang bisa kita alami sampai sekarang.

Komitmen

Suatu siang di Universitas Katolik Parahyangan, saya duduk santai di pelataran kampus FISIP. Grahadea Kusuf (Dea), teman angkatan saya, lalu datang menghampiri dengan sumringah.

“Ric, gue join Homogenic lho”

“Oh wow, mantap” kemudian kita toss.

Momen ini menjadi core memory saya sampai sekarang. Saat itu saya tahu Dea baru berhenti sebagai pemain synthetizer di band pop-punk; Disconnected. Ia menggantikan Juang, yang memutuskan berhenti karena tidak dapat berkomitmen lebih lanjut untuk Homogenic. Dea sendiri adalah teman lama Juang dan Dina, sehingga chemistry di antara mereka mudah terbentuk.

Saat itu Homogenic sudah mulai sibuk, potensi menjadi besar sudah terlihat jelas, maka mereka membutuhkan tim yang siap berkomitmen.

Karena bagi Homogenic; hidup, kerja dan musik itu semua harus jadi prioritas dan masing-masing mendapat 100%. “Work Life Integration” kalau istilah Dea. Karena komitmen itulah, masing-masing bekerja keras untuk mencapai integrasi yang diinginkan.

Demi mencapai itu Dina mengambil S2 agar bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih fleksibel. Sementara Dea mendirikan startup audio Kuassa bersama Arie Ardiansyah, vokalis Disconnected.

Dengan bergabungnya Dea, maka akhirnya Homogenic yang kita kenal sekarang dimulai. Dina, Dea dan Risa mulai persiapan rekaman untuk rilisan pertama mereka bersama FFWD Records.

Homogenic formasi kedua (ki-ka: Dea, Dina dan Risa) / Foto: dok. Homogenic

FFWD Records

FFWD Records tidak pernah merilis band berkonsep setengah-setengah. Beberapa roster mereka baru rilis setelah berbulan-bulan, bahkan bertahun setelah menandatangan kontrak.

Setiap pendiri FFWD Records memainkan perannya masing-masing dengan baik. Didit dan Helvi lah yang bertanggung jawab atas bertambahnya referensi band ini. Sementara Marin lebih banyak berperan membangun jaringan dan menjadi bapak yang baik yang penuh akal dan solusi.

Saya mengenal Homogenic pertama kali juga dari Marin. Ia dengan antusias bercerita tentang band baru bergenre elektronik yang akan dia rilis lewat FFWD Records

Lalu karena lagu-lagu hasil aransemen Juang dan Dina dirasa cukup solid, ditambah waktu yang sudah mepet. Sehingga Dea tidak merasa perlu mengubah yang sudah jadi. Namun di album tersebut Dea memiliki peran di beberapa lagu, seperti “Kekal”, “Hilang” dan “Spread of the Light”.

Dibantu beberapa teman, misalnya Anto Arief (70s Orgasm Club, Pophariini) yang memainkan gitar di “Spread of the Light” dan “Taste of Harmony”. Mereka merekam 12 lagu terpilih untuk album pertama menggunakan pita analog, Studer.

Ide merekam album ini menggunakan pita analog datang dari Helvi (FFWD), karena ia ingin album elektronik ini tetap ada rasa analognya. Hasilnya album ini terdengar lebih meruang dan magis saat didengar setelah proses mixing dan mastering.

Kover album ini dilayout oleh Ryoichi, seorang desainer grafi yang juga mendesain banyak sampul album band-band rilisan Bandung. Difoto di Kebun Raya Bogor yang rimbun, turut memberikan nyawa dalam musik yang didominasi mesin. Di kover tersebut mereka menggunakan kostum dominasi putih yang memberi kesan elegan. Dipadu dengan ilustrasi karya Lukman.

Revisit

Tidak lama setelah album ini dirilis, saya sempat menulis review di Deathrockstar. Ini excerpt-nya:

Album ini bagus. secara musikal sangat top dan lebih hebatnya lagi karakter yang sudah terbentuk sejak debut album ini.. musik mereka sangatlah Homogenic, ya walaupun masih ada rasa rasa dari para pendahulu elektro pop with female vocal seperti Dubstar, Everything but the Girl (EBTG). Tapi musik Homogenic memiliki kedalamannya tersendiri yang sudah bisa didapat di album ini.

Kini 20 tahun kemudian saya masih merasa kalau album ini adalah album yang brilian dengan musik dan tema yang masih relevan.

Tema tentang persimpangan hidup pun ternyata masih relevan. Memang pada awalnya ditulis karena krisis seperempat hidup, tetapi rupanya hidup memang selalu dihadapkan pada pilihan.

Misalnya lagu “Kekal” yang bertema perjalanan tanpa akhir. Mengenai kita akan selalu menghadapi persimpangan dalam hidup dan kita dituntut untuk mahir mencari celah untuk berlari. Lagu “Spread of The Light” sama halnya seperti “Kekal”. Lagu ini ingin menggambarkan mengenai banyaknya tekanan, tidak tahu arah jalan hidup. Ingin kabur tapi malah jadi gelap.

Hilang adalah lagu yang membedah perasaan yang tidak menentu.

Lagu-lagu di album ini memang diberi benang merah: “Meragu”, “Letih” “Celah” “Jalan” dan pada akhirnya coba untuk menerima dan menjalani.

Bagi Homogenic, efek album ini secara musikal maupun personal begitu besar. Mereka melakukan tur ekstensif ke berbagai panggung dan media di luar kota.

Mereka terus berjejaring dengan berbagai pelaku pergerakan musik berdikari di berbagai kota. Seperti Bejo dan Aleks di Surabaya, Manfux, Nishkra, Venza, juga di Jakarta dengan Hanin di Aksara Records, sampai Henry Foundation aka Betmen dan Anggun Priambodo. Sepasang sutradara yang waktu itu dikenal sebagai The Jadugar.

The Jadugar ini kemudian menjadi sutradara video klip single “Kekal”.

Sebelum menulis artikel ini, saya meminta waktu untuk ngobrol-ngobrol bareng. Kegiatan yang menjadi kebiasaan kami jika kebetulan berjumpa di persimpangan hidup. Mereka ini termasuk sekumpulan orang yang suka ngobrol sampai dalam dan seringkali filosofis. Tambah seru saat alm. Lukman dan Marine terlibat, pasti banyak ide dan inspirasi yang bergulir.

Di obrolan kemarin, saya bertanya mengenai kesan-kesan mereka di usia sekarang saat mendengarkan lagi album perdana Homogenic, Epic Symphony.

Lagu “Amaze”:

“Gue kagum pada diri gue sendiri, bisa bikin lagu kayak gitu, chord progressionnya begitu. Dulu gue ga pede, soalnya di kumpulan pertemanan ga ada yang musiknya kayak kita. Waktu itu music electronica Bandung masih didominasi musik-musik rave. Rock n’ Roll Mafia, Mobil Derek, atau Electrofuxx. Karena beda, jadi susah, di club ditolak di panggung rave ga nyambung”. Kenang Dina.

“Album kedua kita lebih diterima, mungkin karena waktu itu sudah lebih banyak temannya”. Sambung Dea.

Setelah 20 tahun aktif bermusik, membuktikan komitmen mereka untuk memberikan 100%. Komitmen ini ditularkan juga ke Amandia Syachridar sebagai vokalis “baru” yang bergabung di tahun 2010. Saat ini Amandia telah lebih banyak dan lama berkarya dan memberikan karakternya bersama Homogenic.

Full Circle

Alm. Lukman berpesan kalau musik itu perlu makna dan band juga perlu totalitas. Kalau mereka sedang melakukan sesuatu maka harus make the most of it. Misal semua tim harus harus presence dan fokus di setiap mungkin. Lalu salah satu yang paling berkesan adalah setiap personel diharapkan bisa menunjukkan spektrum, tidak sekedar menerima lagu.

Komitmen ini tentu saja berhasil membuat Homogenic menjadi band yang kuat secara karakter. Baik musik maupun konsep sehingga walau kita bisa menelusuri jejak inspirasi dan referensi, tetapi Homogenic adalah Homogenic dan Epic Symphony adalah Epic Symphony.

Sebuah band berkarakter kuat tentu akan menjadi inspirasi bagi orang lain. Di antaranya adalah duo elektronika yang sedang menjadi perbincangan, White Chorus.

“Album Homogenic, Epic Symphony menjadi salah satu referesi White Chorus dalam pembuatan album LIMBO. Sound nya yang terdengar futuristik dan familiar. Untuk rilisan tahun 2000 an kerasa nya ahead of its time. Seperti masih relate di 2024 ini yang belakangan ini kena demam Y2K.” Emir, White Chorus.

Dan saya percaya, di satu sudut dunia, ada yang berkata:
“Gue kalau ngeband, harus bisa sekeren ini konsepnya”.

Album debut Homogenic, Epic Symphony direncanakan untuk dirilis ulang dengan menyertakan beberapa lagu demo. Termasuk diantaranya lagu “Epic Symphony” yang menjadi judul album tapi lagunya sendiri tidak terpilih.

 


 

Penulis
Eric Wirjanata
Membuat, mendesain dan menulis untuk Deathrockstar dan Bakmi Club.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Eksplor konten lain Pophariini

Band Pop Punk Bulukumba, Filthy Muck Beri Motivasi di Single Baru

Band pop punk asal Bulukumba, Sulawesi Selatan, Filthy Muck merilis single ke-2 tahun ini dalam tajuk “Dreams and Fantasies” hari Kamis (23/05). Di bulan Februari lalu, mereka merilis sebuah lagu kolaborasi bersama ENKO1995 berjudul …

Wawancara Arswandaru ALI: Tur Eropa dan Permintaan Global

“Kami berusaha untuk tidak ‘yang penting main aja di luar negeri’, tanpa mendiskreditkan venue mana pun di luar negeri,” ujar Arswandaru, basis ALI.