414

Kenapa Bandung Pop Darlings*?

Foto-foto: IG @bandungpopdarlings

*Catatan pribadi penulis atas rilisnya buku Bandung Pop Darlings. Catatan Dua Dekade Skena Indie Pop Bandung (1995-2015)

Jujur saja, hingga hari ini saya tak menyangka kalau buku Bandung Pop Darlings akan beroleh apresiasi yang luar biasa dari berbagai kalangan. Ada yang melihatnya sebagai ajang romantisme, ada pula yang menyebutnya sebagai sebuah refleksi lengkap untuk menilai skena (terutama pop) Bandung. Saya sendiri enggan terhanyut pada penilaian bagus ini, karena sedari awal: Saya hanya hendak mencatat, mengumpulkan kesan atas skena yang saya suka (dan berulang kali saya sebut) saya percaya. Tak heran kalau buku 400 halaman yang diterbitkan oleh EA Books itu terasa personal.

Buku Bandung Pop Darlings / foto Instagram. com/eabooks/

Dan hari itu sampai juga. Dimulai pada 2016, Bandung Pop Darlings terbit dalam bentuk buku tiga tahun setelahnya. Tepatnya tahun ini, September 2019. Meski saya akui, ketika saya melangkah, ini adalah perjalanan yang tak mungkin mundur lagi. Saya terlanjur banyak cakap menyebar proses hingga bocoran buku ini via medsos yang syukurnya juga selalu mendapat respons baik. Lalu saat Pop Hari Ini menawari saya untuk menulis tentang ini. Saya pikir, kenapa tidak.

Baca juga:  Musik Pop di Indonesia dan Kontrol Negara

Oke, maka saya akan mengurai tentang kenapa Bandung Pop Darlings? Ya, sejatinya saya juga bukan indiekid yang sahih-sahih amat. Proses saya menyenangi musik pun tidak ujug-ujug menambatkan saya pada jenis musik yang “katanya” lahir pada 1986 ini. Saya pernah memulainya lewat reggae, hiphop, metal, hingga nasyid (yang terakhir saya tidak bohong, karena saya pernah juga membentuk kelompok Nasyid bernama Azzam).

Tapi indiepop adalah apa yang mewakili saya di masa muda. Cupu, sensitif, pergaulan terbatas, obsesi kiri, dan keamatiran memainkan musik tapi punya hasrat main band dijawab oleh indiepop. Celakanya, Maritime Records menyambut saya. Dimulai saat gelaran Tribute Sarah Records pada 14 Februari 2009, saya yang saat itu baru masuk kuliah dan hanya punya beberapa folder mp3 indiepop-random berkenalan dengan Joz, founder Maritime Records. Acara ini kelak pivotal bagi saya pribadi karena dari sini saya berkenalan dengan sejumlah pelaku skena Bandung dan yang paling penting: mengenal etos indiepop.

Baca juga:  Pertemuan Gang Potlot dan Gemuruh Pembatalan RUU Permusikan


Astrolab – Popkiss (Blueboy) Live at Let’s Call and Love Sarah, 14 Feb 2009

Maka dimulailah hari-hari indiepop itu. Ketika menghabiskan waktu di warnet hanya untuk mengunduh banyak lagu, tulisan di fanzine, menerjemahkan artikel tentang indiepop dari bahasa Inggris ke Indonesia hingga merangkumnya pada banyak folder di komputer. Selain itu jaringan maya pun dirintis. Myspace, facebook, last.fm, apapun itu. Indiepop dikejar sebagai identitas. Seiring waktu, skena Bandung bergeser. Romantisme pada banyak hal yang berbau 90-an mulai tercium. Ini cukup mengena termasuk pada skena pop minor. Britpop kembali berjaya dan menjadi masukan baru pada saya yang saat 1995, baru masuk TK. Maka kisah tentang para generasi awal skena adalah hal yang mindblowing. Semangat indiepop terdistorsi oleh halusinasi selebritas Britpop.

Baca juga:  Kilas Balik Konser dan Festival Musik Indonesia Di 2018
Sugar Coated Iceberg, Kongkow Cafe 2010 / dok. Lirih Prakasa

Tapi di situ pula saya paham, kalau indiepop di Bandung lebih dari sekadar perjalanan musik semata. Bagi sebagian kalangan dia adalah pegangan, yang didapat lewat sejumlah proses pencarian. Bentuknya pun tak melulu baku tetapi terus bertransformasi. Lengkap dengan dinamika dan bintang-bintang yang tak selalu sama terang. Ide untuk menulis pun disemai sejak lama, meski baru terlaksana pada 2016 dan Bandung Pop Darlings jadi muaranya.