Kenapa Bandung Pop Darlings*?

Sep 22, 2019
Poster Cafe

*Catatan pribadi penulis atas rilisnya buku Bandung Pop Darlings. Catatan Dua Dekade Skena Indie Pop Bandung (1995-2015)

Jujur saja, hingga hari ini saya tak menyangka kalau buku Bandung Pop Darlings akan beroleh apresiasi yang luar biasa dari berbagai kalangan. Ada yang melihatnya sebagai ajang romantisme, ada pula yang menyebutnya sebagai sebuah refleksi lengkap untuk menilai skena (terutama pop) Bandung. Saya sendiri enggan terhanyut pada penilaian bagus ini, karena sedari awal: Saya hanya hendak mencatat, mengumpulkan kesan atas skena yang saya suka (dan berulang kali saya sebut) saya percaya. Tak heran kalau buku 400 halaman yang diterbitkan oleh EA Books itu terasa personal.

Buku Bandung Pop Darlings / foto Instagram. com/eabooks/

Dan hari itu sampai juga. Dimulai pada 2016, Bandung Pop Darlings terbit dalam bentuk buku tiga tahun setelahnya. Tepatnya tahun ini, September 2019. Meski saya akui, ketika saya melangkah, ini adalah perjalanan yang tak mungkin mundur lagi. Saya terlanjur banyak cakap menyebar proses hingga bocoran buku ini via medsos yang syukurnya juga selalu mendapat respons baik. Lalu saat Pop Hari Ini menawari saya untuk menulis tentang ini. Saya pikir, kenapa tidak.

Oke, maka saya akan mengurai tentang kenapa Bandung Pop Darlings? Ya, sejatinya saya juga bukan indiekid yang sahih-sahih amat. Proses saya menyenangi musik pun tidak ujug-ujug menambatkan saya pada jenis musik yang “katanya” lahir pada 1986 ini. Saya pernah memulainya lewat reggae, hiphop, metal, hingga nasyid (yang terakhir saya tidak bohong, karena saya pernah juga membentuk kelompok Nasyid bernama Azzam).

Tapi indiepop adalah apa yang mewakili saya di masa muda. Cupu, sensitif, pergaulan terbatas, obsesi kiri, dan keamatiran memainkan musik tapi punya hasrat main band dijawab oleh indiepop. Celakanya, Maritime Records menyambut saya. Dimulai saat gelaran Tribute Sarah Records pada 14 Februari 2009, saya yang saat itu baru masuk kuliah dan hanya punya beberapa folder mp3 indiepop-random berkenalan dengan Joz, founder Maritime Records. Acara ini kelak pivotal bagi saya pribadi karena dari sini saya berkenalan dengan sejumlah pelaku skena Bandung dan yang paling penting: mengenal etos indiepop.


Astrolab – Popkiss (Blueboy) Live at Let’s Call and Love Sarah, 14 Feb 2009

Maka dimulailah hari-hari indiepop itu. Ketika menghabiskan waktu di warnet hanya untuk mengunduh banyak lagu, tulisan di fanzine, menerjemahkan artikel tentang indiepop dari bahasa Inggris ke Indonesia hingga merangkumnya pada banyak folder di komputer. Selain itu jaringan maya pun dirintis. Myspace, facebook, last.fm, apapun itu. Indiepop dikejar sebagai identitas. Seiring waktu, skena Bandung bergeser. Romantisme pada banyak hal yang berbau 90-an mulai tercium. Ini cukup mengena termasuk pada skena pop minor. Britpop kembali berjaya dan menjadi masukan baru pada saya yang saat 1995, baru masuk TK. Maka kisah tentang para generasi awal skena adalah hal yang mindblowing. Semangat indiepop terdistorsi oleh halusinasi selebritas Britpop.

Sugar Coated Iceberg, Kongkow Cafe 2010 / dok. Lirih Prakasa

Tapi di situ pula saya paham, kalau indiepop di Bandung lebih dari sekadar perjalanan musik semata. Bagi sebagian kalangan dia adalah pegangan, yang didapat lewat sejumlah proses pencarian. Bentuknya pun tak melulu baku tetapi terus bertransformasi. Lengkap dengan dinamika dan bintang-bintang yang tak selalu sama terang. Ide untuk menulis pun disemai sejak lama, meski baru terlaksana pada 2016 dan Bandung Pop Darlings jadi muaranya.

 

*****

Pada kenyataannya, ide sederhana untuk mencatat jalannya skena ini tak pernah semudah yang saya bayangkan. Dari yang yang saya pikir hanya dimulai lewat Pure Saturday, ternyata mempertemukan saya pada banyak penaruh batu bata pertama skena ini di Bandung. Di situ ada Nishkra, ada Helvi, ada Uci, dan mungkin nama-nama lain yang luput saya telusuri.

Dari nama-nama ini saya akhirnya terhubung dengan salah satu kelompok punk pertama di Jakarta (bahkan mungkin Indonesia), Young Offender. Tentang bagaimana mereka menrasformasikan musik tak umum di Jakarta yang tengah gandrung metal, dan kemudian memboyongnya ke Bandung hanya untuk satu alasan: iseng. Keisengan yang kemudian jadi momen penting bagi sebagian pelaku awal kancah.

Young Offender di Diskotik NASA, 1993 / dok.Ondy Rusdy

(Ah, jika mengingat momen ini, lagi-lagi saya tak percaya Bandung Pop Darlings bisa selesai juga)

Lantas Bandung Pop Darlings bercerita tentang banyak pergumulan ide dan sensasi keakuan masa muda. Saat Pure Saturday, Cherry Bombshell, dan Kubik dapat sorotan utama, skena dari generasi yang lebih muda mulai menggeliat. Bertepatan dengan meledaknya britpop di paruh kedua dekade 90, di situ ada New Market, Peanuts, Kamehame, ETA, Pocket Monster, The Bride, dan banyak lagi yang menginterpretasikan diri sebagai duplikasi dari band Inggris tertentu. Jalannya memang tak melulu mulus. Seringkali ada rivalitas antar-tongkrongan, impian jadi superstar, atau dibidik ancaman drugs yang tentu berbahaya.

The Bride circa 90an di Poster Cafe / dok. Gingin Ginanjar

Tahun 1999 meredup, sebagian dari generasi ini kemudian digantikan oleh generasi yang lebih muda. Mereka mengakses musik lebih jauh lewat internet yang mulai mudah diakses. MiRC, cokro, datang jadi jawaban atas keterbatasan mereka menggali referensi. Acara Poptastic! digelar oleh Sutuq dan Nishkra dan jadi momentum munculnya satu karakter baru di skena pop minor Bandung. Indie pop menjadi pilihan lain bagi mereka yang mencari jejak Britpop lebih dalam.

Perkembangan indiepop generasi ini pun semakin riuh dengan ekosistem yang  berkecambah. Maka lahirlah hari-hari emas bagi skena ini. Ketika ekosistem tidak hanya dibangun oleh band, acara, dan pendengar saja tetapi juga label rekaman dan edukasi yang dihantarkan oleh media. Kesadaran untuk menghasilkan, memainkan, dan merekam lagu sendiri pun mulai marak menggerus kultur cover version yang sebelumnya menjadi gaya permainan umum band indies di Bandung. Pesatnya perkembangan ini lantas menuai sorotan pihak-pihak besar. Ketika kerjasama dibangun dan membuat kancah yang mulanya ekslusif menjadi inklusif.


Perkembangan ini tentu disambut oleh banyak pihak dengan ragam pendapat baik yang pro maupun yang kontra sehingga menciptakan dinamika baru di skena pop lokal yang saat itu sedang hangat-hangatnya. Ibarat Creation kontra Sarah.

Lantas perjalanan skena ini pun berlanjut dengan banyaknya arus informasi yang masuk ketika internet semakin massif. Ada plus ada minus. Semangat yang tak lagi sama hingga kemunculan beberapa genre baru yang dengan mudahnya dikategorikan indie ini, indie itu. Imbas dari semakin umumnya penggunaan istilah ini di publik bersanding dengan buruknya perkembangan musik nasional arus utama. Sementara indie pop tetap ada meski tak selalu di permukaan. Akhirnya Bandung Pop Darlings bercerita tentang banyak dinamika yang mengikuti kelahiran dan perkembangan skena ini di Bandung. Tentang kutub A dan B yang sejatinya harus tetap ada, berjalan beriringan meski kadang ada gesekan. Menciptakan harmoni, agar skena tetap berkembang dengan ragam pilihan tanpa menjadi perdebatan usang yang membahas hal yang itu-itu saja.

Dan ya, indiepop di Bandung tak pernah datang tiba-tiba. Dia adalah sejarah panjang.

 

*Bandung Pop Darlings adalah tajuk yang digunakan oleh sejumlah pelaku skena untuk merepresentasikan geliat inde pop dari Bandung. Sepengetahuan saya istilah ini pertama kali digunakan oleh Arian 13 sebagai judul artikel tanya jawab dengan La Luna untuk Majalah Trolley terbitan tahun 2001. Bandung Pop Darlings juga digunakan oleh Dimas Ario untuk satu episode PopCircle RaseFM, Desember 2008. Di episode ini Dimas mengangkat kisah perjalanan skena pop Bandung mulai tahun 1994 sampai 2008. Di acara JakMusik, Oktober 2011, Andri LMS juga menggunakan istilah ini merujuk pada kesuksesan debut Pure Saturday di tahun 1995.

 

____

Penulis
Irfan Popish
Irfan Muhammad adalah jurnalis asal Bandung yang gemar musik. Sejak tiga tahun terakhir dia bertugas di Ibu Kota untuk desk Polhukam. Di luar aktivitas liputannya, Irfan sesekali masih menangani Yellowroom Records, label kecil yang dia mulai bersama sejumlah teman di Bandung sejak 2014 dan bermain untuk unit alternative, MELT.

Eksplor konten lain Pophariini

Nostalgia Semu: Alasan Tembang Lawas Bisa Dinikmati Generasi Kami

Mengapa saya kelahiran 1999 yang nggak pernah merasakan euphoria trio Warkop DKI tayang bisa menikmati musik era-sebelum-saya-lahir itu

Tamasya Kota: Ujung Penantian Kolaborasi Jon Kastella dan Pusakata!

Hari Jumat (30/07) lalu, Jon Kastella dan Pusakata resmi mempersembahkan “Tamasya Kota”, sebuah tembang kolaborasi yang sudah digarap sejak dua tahun lalu.