Kenapa Bandung Pop Darlings*?

1011

 

*****

Pada kenyataannya, ide sederhana untuk mencatat jalannya skena ini tak pernah semudah yang saya bayangkan. Dari yang yang saya pikir hanya dimulai lewat Pure Saturday, ternyata mempertemukan saya pada banyak penaruh batu bata pertama skena ini di Bandung. Di situ ada Nishkra, ada Helvi, ada Uci, dan mungkin nama-nama lain yang luput saya telusuri.

Dari nama-nama ini saya akhirnya terhubung dengan salah satu kelompok punk pertama di Jakarta (bahkan mungkin Indonesia), Young Offender. Tentang bagaimana mereka menrasformasikan musik tak umum di Jakarta yang tengah gandrung metal, dan kemudian memboyongnya ke Bandung hanya untuk satu alasan: iseng. Keisengan yang kemudian jadi momen penting bagi sebagian pelaku awal kancah.

Young Offender di Diskotik NASA, 1993 / dok.Ondy Rusdy

(Ah, jika mengingat momen ini, lagi-lagi saya tak percaya Bandung Pop Darlings bisa selesai juga)

Lantas Bandung Pop Darlings bercerita tentang banyak pergumulan ide dan sensasi keakuan masa muda. Saat Pure Saturday, Cherry Bombshell, dan Kubik dapat sorotan utama, skena dari generasi yang lebih muda mulai menggeliat. Bertepatan dengan meledaknya britpop di paruh kedua dekade 90, di situ ada New Market, Peanuts, Kamehame, ETA, Pocket Monster, The Bride, dan banyak lagi yang menginterpretasikan diri sebagai duplikasi dari band Inggris tertentu. Jalannya memang tak melulu mulus. Seringkali ada rivalitas antar-tongkrongan, impian jadi superstar, atau dibidik ancaman drugs yang tentu berbahaya.

The Bride circa 90an di Poster Cafe / dok. Gingin Ginanjar

Tahun 1999 meredup, sebagian dari generasi ini kemudian digantikan oleh generasi yang lebih muda. Mereka mengakses musik lebih jauh lewat internet yang mulai mudah diakses. MiRC, cokro, datang jadi jawaban atas keterbatasan mereka menggali referensi. Acara Poptastic! digelar oleh Sutuq dan Nishkra dan jadi momentum munculnya satu karakter baru di skena pop minor Bandung. Indie pop menjadi pilihan lain bagi mereka yang mencari jejak Britpop lebih dalam.

Perkembangan indiepop generasi ini pun semakin riuh dengan ekosistem yang  berkecambah. Maka lahirlah hari-hari emas bagi skena ini. Ketika ekosistem tidak hanya dibangun oleh band, acara, dan pendengar saja tetapi juga label rekaman dan edukasi yang dihantarkan oleh media. Kesadaran untuk menghasilkan, memainkan, dan merekam lagu sendiri pun mulai marak menggerus kultur cover version yang sebelumnya menjadi gaya permainan umum band indies di Bandung. Pesatnya perkembangan ini lantas menuai sorotan pihak-pihak besar. Ketika kerjasama dibangun dan membuat kancah yang mulanya ekslusif menjadi inklusif.


Perkembangan ini tentu disambut oleh banyak pihak dengan ragam pendapat baik yang pro maupun yang kontra sehingga menciptakan dinamika baru di skena pop lokal yang saat itu sedang hangat-hangatnya. Ibarat Creation kontra Sarah.

Lantas perjalanan skena ini pun berlanjut dengan banyaknya arus informasi yang masuk ketika internet semakin massif. Ada plus ada minus. Semangat yang tak lagi sama hingga kemunculan beberapa genre baru yang dengan mudahnya dikategorikan indie ini, indie itu. Imbas dari semakin umumnya penggunaan istilah ini di publik bersanding dengan buruknya perkembangan musik nasional arus utama. Sementara indie pop tetap ada meski tak selalu di permukaan. Akhirnya Bandung Pop Darlings bercerita tentang banyak dinamika yang mengikuti kelahiran dan perkembangan skena ini di Bandung. Tentang kutub A dan B yang sejatinya harus tetap ada, berjalan beriringan meski kadang ada gesekan. Menciptakan harmoni, agar skena tetap berkembang dengan ragam pilihan tanpa menjadi perdebatan usang yang membahas hal yang itu-itu saja.