499

Pemilu 2019: Kenapa Seniman Harus Netral?

“Seniman sejatinya di tengah”

Itu kata seseorang yang mengirimkan pesan buat saya di Instagram. Saya tak membalas kembali pesan orang itu. Saya seringkali malas berdebat di media sosial. Buat saya, perdebatan di media sosial tak ada manfaatnya. Orang-orang cenderung sudah punya pendapatnya sendiri dan tak akan mau terbuka juga kalau dikasih pendapat lain. Kalau ada yang bilang, netizen harus diluruskan supaya tercerahkan atau terdidik, ah saya tak peduli. Saya tak merasa punya kewajiban mendidik orang yang tak saya kenal. Lagian, belum tentu juga mereka terdidik dengan penjelasan saya. Yang wajib saya didik ya cuma anak-anak saya. Kan, saya bukan guru atau dosen. Hehe.

Nah, kalaupun ada yang mau saya ungkapkan, mending saya bikin tulisan yang agak lebih panjang dari sekadar reply di Twitter atau Instagram. Jadi, tak perlu berdebat. Orang tinggal baca, syukur-syukur sependapat. Kalaupun tak sependapat, ya tak apa-apa. Yang penting, saya tak perlu melayani atau membaca komentar orang-orang. Kan saya juga seperti netizen pada umumnya: sudah punya pendapat dan tak mau mendengarkan pendapat lain. Haha.

Baca juga:  PHI Kaleidospop: Cuplikan Promosi Band Indonesia 2018

Ah, sungguh bertele-tele tulisan saya. Padahal, tadi kan mau ngomongin soal keberpihakan seniman di dunia politik.

Saya menganggap sah-sah saja seniman berpihak. Seniman tak harus selalu netral. Lagipula, Netral saja sudah tak netral, tapi sekarang jadi NTRL (Maafkan lawakan standar ini). Yang seharusnya tak berpihak, ya media massa, karena media massa tugasnya memberi informasi kepada masyarakat. Ini pun, kalau diteliti sebenarnya nyaris ditemukan media massa yang tak berpihak. Ada yang terang-terangan menunjukan keberpihakan. Ada yang seakan-akan tak berpihak, tapi sebenarnya malu-malu kucing menunjukan dukungannya.

Seniman bukan media massa. Seniman bukan yang bertugas menyampaikan informasi atau kebenaran. Seniman ya orang yang berkesenian, alias menghasilkan karya seni. Sebuah karya seni yang bagus biasanya datang dari hati. Umumnya kita mengharapkan seniman berkarya dari hati. Dan biasanya, semakin keren itu seniman, dia melakukan sesuatu bukan karena omongan orang, alias tak diatur-atur.

Baca juga:  20 Tahun Album The Groove “Kuingin” Bergoyang

Lantas, kenapa kalau pilihan politik, kita cenderung ingin mengatur seniman?

Siapa tau, memang yang mereka lakukan itu datang dari hati. Tak semuanya yang gencar koar-koar di media sosial memberi dukungan itu adalah buzzer yang dibayar timses. Kalau sudah datang dari hati, siapa kita mau mengatur kata hati orang lain? Banyak orang menuduh Pandji, ketika jadi juru bicara buat Anies Baswedan, mendapat bayaran sejumlah uang yang sangat besar. Maklum, yang dilakukan Pandji seperti menghancurkan yang telah dia bangun bertahun-tahun. Ya Anda paham maksud saya lah. Nasionalis seperti Pandji sepertinya cukup mengagetkan mau kompromi dan merapat ke sisi yang sepertinya jaman dulu termasuk yang dikritisi Pandji.

Baca juga:  Album Ketiga Plastik Membungkus Kesepian, Melepaskan Kesalahan

Saya beberapa kali menanyakan soal ini dan jawaban dia selalu sama: dia tak mendapat uang sepeser pun. Pada akhirnya, alasan Pandji yang selalu konsisten adalah: bahwa dia cinta Anies. Argumen soal menjembatani atau ngobrol dengan orang yang berseberangan sih masih bisa diperdebatkan. Tapi, soal cinta Anies, itu sudah susah diperdebatkan. Pandji bilang bahwa dia tak ingin jadi teman yang meninggalkan Anies di saat dibutuhkan. Itu salah satu alasan yang sering diucapkan Pandji, bahwa ketika baru maju pencalonan, teman-teman Anies meninggalkannya, dan Pandji tak ingin jadi teman yang seperti itu.

Yah intinya mah, cinta. Orang kalau sudah cinta, tak bisa diberi argumen apapun sama orang lain. Kita pasti punya pengalaman lah, melihat teman yang cinta mati pasangannya, padahal menurut pendapat kita, si pasangan itu tak layak diperjuangkan. Hehe.