378

Koes Plus, Lima Dekade

Kalau masih eksis, grup band pop legendaris Koes Plus mungkin sudah berusia 50 Tahun. Ironisnya, tak ada yang tahu pasti kapan band yang digawangi Tonny, Yon, Murry dan Totok A.R. (sebelum digantikan Yok) ini berdiri. Menurut banyak sumber, bila mengacu kepada debut album Deg Deg Plas di Melody Records, maka 1969 adalah tahun berdirinya band yang digawang anak-anak Jawa Timur ini. Namun mengacu kepada waktu dimana Murry (eks drummer band PATAS) bergabung di Oktober 1968, maka juga sangat mungkin Koes Plus telah berusia 51 tahun.

Di luar itu, sebagai band pop yang terkenal lintas jaman, Koes Plus punya banyak sesuatu hal menarik yang layak dicatat dalam perjalanan band tanah air: mereka merilis 22 album sepanjang tahun ’74, itu berarti rata-rata satu bulan mereka merilis 2 album. Kedua, untuk ukuran band, mereka dibayar sangat mahal. Tahun 1975, mereka dibayar 3 juta saat pentas di Semarang. Sebuah angka yang mahal mengingat harga mobil Corona tahun 75 adalah 3.75 juta. Bila dikurs hari ini, bayaran Koes Plus mungkin ratusan juta.

Baca juga:  16 Pertanyaan : Dea Dalila

Dan cerita-cerita lainnya yang menjadi dongeng nina bobo para musisi hari ini tentang cerita musik di masa lalu. Buat orang yang mungkin meneliti soal Koes Plus, perlu diteliti ketika mereka pernah dikritik oleh kritikus perihal musik mereka yang gampangan, ‘tiga kunci’ atau yang menurut kritikus sebagai lagu-lagu ‘kacang goreng’

Tapi bagaimanapun tak ada yang bisa menandingi lagu-lagu Koes Plus. terlepas dari lagu-lagu ‘kacang goreng’ tadi yang termuat di hampir seribu buah lagu di dalam hampir 100 album, ternyata ada beberapa lagu Koes Plus yang menurut kami layak untuk diberikan credits sebagai sebuah gagasan musikal yang baik, terlebih dari sekadar lagu tiga kunci.

Di edisi 50 tahun Koes Plus yang tanggal bulannya tidak tahu kapan, kami memberikan 7 perwakilan lagu Koes Plus favorit ‘non-kacang goreng’ atau ‘tiga kunci’ beserta ulasannya.

Baca juga:  5 Bakat Baru di Skena Penyanyi Perempuan 90s Soul/R&B Indonesia

Simak baik-baik.

1. Pentjuri Hati
Dari album: volume 2 (Mesra, 1970)

Tak ada yang bisa terhubung dengan lagu Koes Plus yang satu ini kecuali bagi mereka menyuka musik rock garasi ala The Count Five (you know, lagu seperti “Psychotic Reaction”) dan punk-punk lawas. Sebuah lagu yang mungkin Kelompok Penerbang Roket atau siapapun band punk dan rock tak terpikirkan untuk membuatnya.

2. Jemu
dari album: Hard Beat (Remaco, 1976)

Kalau ada lagu pop rock dengan groove paling enak sepanjang masa, maka pilihan puncak adalah lagu ini. Lagu yang berbicara soal kebosanan karena beban hidup ini dibangun dengan kunci bluesy dan ryhthm section yang paling menyentuh semua organ tubuh untuk bergoyang.

3. Sweet Memories
dari album: volume 3 (Mesra, 1971)

Album ketiga Koes Plus menurut saya (mungkin juga berdasarkan ulasan pada masa itu) dibuat untuk menjawab kritikan banyak orang soal stigma mereka sebagai band tiga kunci. Sebagian besar lagu di album tersebut dibuat dengan kunci dan aransemen yang non standar, termasuk “Sweet Memories” ini. Sebuah lagu singkat bernafaskan swing jazz dan grip-grip meliuk alias ‘miring’. Gagasan menarik!

Baca juga:  16 Pertanyaan: Tika Pramesti (Indische Party)

4. Kereta Api Pagi
dari album: Bersama Lagi (Remaco, 1978)

Era Remaco adalah era dimana Koes Plus menemukan sound terbaiknya yang mereka tak bisa temukan di Melody dan Mesra, dua label mereka terdahulu. Ironisnya, di label inilah Koes Plus mencurahkan seluruh ide mereka untuk menulis lagu dan membuat banyak album, meski ada kesan (atau benar?) bahwa mereka seperti sapi perah, tapi kami tak mempersoalkan ini. Yang kemudian menarik adalah dari sekian banyak album dan lagu ‘kacang goreng’ yang lahir di era Remaco ini, terselip satu dua lagu yang ‘beda’ dan menarik perhatian. Seperti lagu ini, lagu rock 70-an dengan kunci minor dengan pendekatan bass line dan cowbell (?) yang mengejutkan.