150

Kompilasi Tribute to Mocca: Kado Dua Puluh Tahun Hingga Jadi Legenda

Dua dekade ke belakang, Arina, Riko, Indra, dan Toma nampaknya tak pernah membayangkan kalau apa yang mereka mulai pada 1999 akan bertahan hingga hari ini. Pada prosesnya, membawa empat kepala berbeda tetap ada di satu rumah yang sama juga tentu tak adem-adem saja. Kita semua tahu kalau unit musik Mocca yang mereka rintis lewat persahabatan di kampus sempat menggelar konser perpisahan pada 2011. Belum kebosanan dan cerita lain di luar sorot lampu yang mungkin tak semua orang tahu.

Dua puluh tahun memang usia yang bisa dibilang matang. Di fase ini, manusia mulai hidup dengan proyeksi. Begitu juga kiranya sebuah band. Dua puluh tahun bukanlah usia yang lagi muda. Di dekade kedua rasanya hidup di persimpangan zaman mulai semakin terasa. Mau terjebak di kejayaan masa lalu atau mencoba banyak kemungkinan baru? Mocca nampaknya tegas memilih nomor dua.

Setidaknya itu yang saya pikirkan saat Mocca merilis sebuah album kompilasi. Mengajak band/musisi yang sedang hangat di kancah, kompilasi bertajuk You and Me Against The World: A Tribute to Mocca ini menyajikan sejumlah lagu Mocca yang diinterpretasikan ulang oleh mereka yang terlibat.

Baca juga:  Bukan City Pop Indo, Tapi Indo Pop Urban

Secara umum, sebetulnya musisi yang ikut andil dalam kompilasi besutan Lucky Me Music bersama Berita Angkasa, UNKL, dan ALS Studio ini banyak bermain di ranah aman. Meski ada juga yang berani bereksperimen lebih sehingga menghasilkan lagu yang agak berbeda, hampir separuhnya tetap bermain dengan template a la Mocca. Tapi sejujurnya ini tak membuat hambar, karena ternyata personel Mocca piawai mencari siapa saja yang dirasa tepat.

Meski ada juga yang berani bereksperimen lebih sehingga menghasilkan lagu yang agak berbeda, hampir separuhnya tetap bermain dengan template a la Mocca

Setahu saya, masing-masing personel Mocca memilih dua jagoannya untuk disertakan di album ini. Arina misalnya memilih Asteriska dan Nona Ria, Riko mendapuk The Panturas dan Sky Sucahyo, Toma dengan Coldiac dan Mardial, serta Indra yang mendelegasikan solois Bilal Indrajaya dan unit folk Mustache and Beard. Sementara satu trek lagi dipersilakan untuk “diacak-acak” oleh Swinging Friends yang tergabung dalam Kelas Mocca. Bayangkan bagaimana meriahnya.

Baca juga:  PHI Kaleidospop 2018: Meramu Mantra Kunto Aji

Tak heran kalau kemudian kompilasi ini tetap jadi sajian yang banyak warna dan kaya rasa. Menembus banyak segmentasi atas nama Pop serupa pesta keluarga di belakang rumah yang mana hiburannya adalah penampilan dari anggota keluarga itu sendiri.

Pembukaan yang khusyuk serupa syukur misalnya tersaji dalam “On the Night Light This” oleh Coldiac yang kemudian dihantam oleh ajakan berkumpul dalam dansa sederhana yang dipandu Asteriska dengan “My Only One”. Musik Pop yang mengalun pun berdinamika, dari yang megah seperti ketika Bilal Indrajaya membawakan “The Object of My Affection” dengan wibawa, syahdunya “Ketika Semua Telah Berakhir” oleh Mustache and Beard, atau kesederhanaan Sky Suchayo pada trek klasik “Secret Admirer”.

Baca juga:  PHI Kaleidospop: Potret Jurnalisme Musik di 2018

Imaji pesta keluarga semakin lekat dengan “Do What You Wanna Do” yang dibuat ramai oleh Kelas Mocca hingga minimalisnya “Teman Sejati” di tangan trio NonaRia. Ya, meski ada saja anak muda bengal seperti The Panturas yang keukeuh mengajak rusuh dalam “You and Me Against The World” atau Mardial yang membawa bola disko ke arena saat “Lucky Man” dimainkan. Maka rasanya, semua tetap bisa berpesta bukan?

Tapi sejujurnya ini tak membuat hambar, karena ternyata personel Mocca piawai mencari siapa saja yang dirasa tepat.

Eksperimentasi Mocca memang bukan kali ini saja. Selain diberkahi talenta, Mocca piawai membaca momen. Di tengah masifnya musik pop alternatif di TV, Mocca berani ambil langkah swing pop manis yang ternyata bisa mencuri dua pasar sekaligus: arus pinggir dan utama. Tak heran kalau kemudian sejak awal kemunculannya, kuartet ini langsung menarik perhatian. Dan semuanya tak pernah berhenti sampai di situ.