148

Kompilasi Tribute to Mocca: Kado Dua Puluh Tahun Hingga Jadi Legenda

Mocca menjadi lebih dari sekadar pembawa lagu. Bagi beberapa orang, karya-karya Mocca adalah trek latar masa muda. Tak heran kalau kemudian kerap diwariskan. Dari generasi yang mendengarkannya sejak 2002 hingga kemudian menjadi orang tua. Melahirkan generasi baru yang diperdengarkan lagi lagu Mocca, hingga kini, sampai entah kapan lagi. Dan rasanya kini Mocca sadar akan hal itu!

Maka tak heran kalau kemudian band ini selalu memperpanjang nafasnya. Bukan hanya lewat You and Me Against the World ya, tapi juga lewat kolaborasi dengan Ardhito Pramono misalnya, Indrakustik yang membawa lagu Mocca ke njelimetnya permainan enam senar klasik, atau album kolaborasi dengan Aldin, putra dari sang drummer.

Baca juga:  Feast, Para Pembawa Pesan

Mocca ada di mana-mana.

Begitu pun akrabnya pertemanan mereka dengan fans yang mewujud wadah Swinging Friends. Arina sempat ke Amerika? Oh tentu Mocca tak tumbang juga. Karena muncul kemudian kelas Mocca, sebuah proyek tribut rutinan dari fans-fans Mocca yang berkumpul dengan alat musiknya sambil membawakan lagu-lagu Mocca di taman. Ya, sebegitunya memang.

Lalu You and Me Against The World? Ini adalah penegas!

Sebetulnya proyek serupa juga sudah dilakukan oleh band-band yang lebih dulu ada. Ekspresi fans Koil misalnya, pernah terwadahi dalam kompilasi Kami Peracaya Kau Pun Terbakar Juga (2009). Themilo pernah dibuat versi remix-nya dalam Interpretation: Themilo Remixes pada 2007, sementara Naif, mahsyur dengan proyek kompilasi Mesin Waktu: Teman-teman Menyanyikan Lagu Naif (2007).

Ini adalah sebuah konsep yang dibangun menjadi kepanjangan jembatan generasi yang sudah mulai terbentang sejak Swinging Friends, Kelas Mocca, Indrakustik, Aldin, dan Ardhito Pramono tadi

You and Me Against The World pun boleh jadi bakal punya jejak yang sama. Tapi rasa-rasanya dengan zaman yang sudah semakin berbeda, kompilasi ini kok kayaknya lebih dari sekadar sebuah perayaan ulang tahun ya. Ini adalah sebuah konsep yang dibangun menjadi kepanjangan jembatan generasi yang sudah mulai terbentang sejak Swinging Friends, Kelas Mocca, Indrakustik, Aldin, dan Ardhito Pramono tadi. Jembatan yang menjadi sarana generasi lama mengenal kebaruan dan sebaliknya menjadi sebuah ziarah bagi mereka yang mengenal Mocca belum lama. Dan titiannya nampaknya akan semakin panjang ke depan.

Baca juga:  Ibu Kartini di Dekade Musik Indonesia

Dengan sejumlah pandangan tersebut, saya akui kalau Mocca memang piawai merangkul banyak hal dan tak main-main untuk jadi legenda . Kita ketahui bersama, banyak band yang dulu besar namun tak bisa bertahan lama karena ketidakmampuan membaca zaman. Sementara Mocca, di samping kuatnya karakter, mereka seolah tak pernah mau terjebak di satu kotak saja. Sejak lama Mocca membuktikan: Kalau mereka bukan hanya milik kami, tapi kita semua.

 

____