31

Konferensi Musik Indonesia 2019, untuk Kesejahteraan Musisi Indonesia

Pemberian plakat sesi 1 Konferensi Musik Indonesia, Bandung/ foto: Jojo.

“Skena musik Indonesia tergolong yang paling dinamis di Asia Tenggara, namun tak banyak kesempatan bagi para musisi dari berbagai genre dan aktor industri musik lainnya untuk bertemu dan bertukar pendapat,” Ujar Glenn Fredly saat memberikan kata sambutan di acara Konferensi Musik Indonesia 2019 yang bertempat di Gedung Budaya Sabilulungan, Soreang pada 23 November 2019 kemarin. Seperti pada 2018, Konferensi Musik Indonesia kali ini juga diselenggarakan KAMI bersama Yayasan Ruma Beta, Dyandra Promosindo, dan Koalisi Seni.

Ridwan Kamil berpidato dalam Konferensi Musik Indonesia / foto: Jojo

Setelah forum yang pertama kali diadakan di Ambon pada tahun lalu, kali ini Bandung berkesempatan untuk menjadi tempat penyelenggaraan Konferensi Musik Indonesia.

Pembukaan secara resmi Konferensi Musik Indonesia dengan angklung / foto: jojo.

“Semoga konferensi kali ini bisa menghasilkan momentum yang membuat industri musik semakin adil dan berkelanjutan. Jika tata kelola industri musik menjadi lebih baik, diharapkan musik juga bisa lebih efektif membantu sektor lainnya, seperti film, pariwisata, hingga merajut perdamaian,” ujar Glenn.

Baca juga:  Burgerkill Gelar Tur ke 16 Kota di Amerika Serikat
Glenn Fredly memberikan sambutan di Konferensi Musik Indonesia / foto: jojo

Fokus konferensi ialah tata kelola industri musik yang lebih adil dan berkelanjutan. Konferensi dibuka oleh Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil; Bupati Bandung, Dadang M. Nasser; Wakil Walikota Ambon, Syarif Hadler; Direktur Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf), Robinson Sinaga; Glenn Fredly, dan Michael Bayu A. Sumarijanto, Direktur Dyandra Promosindo. Berikutnya, ada tiga sesi diskusi yang mempertemukan aktor-aktor penting industri musik dengan pemerintah, pihak swasta, dan masyarakat sipil.

kika: idhar resmadi, robinson sinaga, kadri mohammad, nova ruth, nadia yustina, candr adarusman / foto: jojo.

Sesi pertama, Pekerja Musik Berserikat, membahas tentang urgensi pembentukan serikat pekerja musik dan peranannya. Pembicaranya adalah Robinson Sinaga, Direktur Kemenparekraf/Baparekraf; Kadri Mohamad dari Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta Lagu, dan Pemusik Republik Indonesia (PAPPRI); musisi Candra Darusman dan Nova Ruth; serta Nadia Yustina, Direktur Amity Asia Agency dan anggota Koalisi Seni.

Baca juga:  #TolakRUUPermusikan Bergema Dari Berbagai Daerah Indonesia
Dikusi sesi 2; kika: Glenn Fredly, Irfan Aulia Irsa, Sari Koeswoyo, Andi Malewa, Sabartua Tampubolon / foto: Jojo.

Berikutnya ialah sesi diskusi Panen Royalti dan Sosialisasi Undang-undang (UU) Ekonomi Kreatif (Ekraf). Sesi ini mendiskusikan tantangan dan solusi dalam royalti bagi musisi, serta peran UU tersebut untuk perihal royalti. Narasumber sesi ini ialah Sabartua Tampubolon, Direktur Kemenparekraf/Baparekraf; Irfan Aulia Irsal dari Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN); musisi dan politisi Sari Koeswoyo; serta Andi Malewa dari Institut Musik Jalanan.

Sesi 3 Konferensi Musik Indonesia / foto: jojo.

Dalam sesi ketiga, konferensi akan membahas soal Membangun Kota Musik. Empat pembicara mumpuni akan berbicara di sini. Yakni, Ari Juliano Gema, Deputi Kemenparekraf/Baparekraf; Ronny Lopis dari Ambon Music Office; Arief Budiman, pendiri Rumah Sanur dan anggota Indonesia Creative Cities Network; serta Djaelani Jay dari Jendela Ide dan Komite Musik Dewan Kesenian Kota Bandung.

Baca juga:  Kelompok Penerbang Roket: Tinggal Landas ke Galaksi Baru
pertunjukan musik dari Kafin Sulthan / foto: jojo

Selain Konferensi, acara hari itu juga diisi oleh pertunjukan musik dan pameran. Adapun musisi yang tampil sepanjang acara datang dari beragam genre, ada Kafin Sultan, Karinding Attack, Institut Musik Jalanan, D’Cinnamons, JMT, Orkes Hamba Allah, Serdadu Bambu, dan Tuan Tiga Belas yang bergantian mengisi panggung.