Lorjhu’ – Paseser

Apr 4, 2022

Salah satu hal terbaik yang saya temukan di industri musik selama masa pandemi ini adalah munculnya nama-nama potensial di musik yang itu datang dari berbagai daerah di Indonesia. Bahkan bukan dari daerah yang diperhitungkan sekalipun, seperti Madura misalnya. Hari ini saya menemukan Lorjhu’, solois muda dari pulau ini yang menampar saya dengan debut albumnya, Paseser.

Lorjhu’ sendiri adalah moniker dari Badrus Zeman. Musisi kelahiran Sumenep, 26 November 1990 tepatnya di desa Prenduan. Dari informasi yang saya baca, sebelum ia membuat Lorjhu’ , Badrus telah melakukan pengembaraan musikal sejak muda. Membuat duo instrumental Duo Gentong, membuat band bernama Sponge Rock yang kemudian menjadi Red Lizard. Red Lizard pun bubar karena Badrus harus hijrah ke Jakarta karena diterima menjadi mahasiswa jurusan film. Di Ibukota, ia masih membuat band bernama Badzem yang fokus ke Thrash Black Etnik Metal. Ia bahkan sempat memulai proyek solonya dengan genre glam rock di tahun 2012, namun kurang diminati. Di 2016 ia kembali memnuat solonya kali ini dengan warna musik folk pop dan merilis EP bertajuk Majang dengan hit “Saling Merindu”. Petualangan belum berakhir, Badrus pernah membuat karya yang berbeda, yaitu sebuah karya lagu religi yang dibuat dengan nuansa viking, dibantu kawannya Gaharaiden Soetansyah (drummer Gribs-red).

Dan semua pengembaraan Badrus akhirnya bermuara kepada sebuah tribute kepada semilir pantai Madura, pulau yang membesarkannya dengan lahirnya Paseser. Berisi 9 nomor baru yang membuka cakrawala audio kita kepada sebuah fusi indierock dengan unsur tradisional pesisir pantai Madura yang menjadikannya sesuatu yang eksotis, out of the box.

Melibas Beberapa killer tracks dari “Kembang Koning”, “Can Macanan”, “Lakonah Orang Manceng” sampai “Malem Pengghir Sereng” dan “Nemor”, terlihat sekali bahwa ini adalah set album guitar-driven yang jika ditampillkan secara langsung, bisa memicu luapan dance psikedelia bagi saya dan melupakan kendala bahasa yang mungkin masih menjadi isu di permusikan hari ini. Nomor-nomor lainnya seperti “Toron” dan “Romassanah Kerrong” lebih sebuah lagu untuk mengobati kerinduan terhadap kampung halaman dan segenap kenangan masa kecil.

Perasaan yang sama sempat saya temukan ketika delapan tahun lalu menemukan Omar Khorhid dengan albumnya Guitar El Chark hasil referensi seorang sahabat. Omar adalah gitaris kelahiran Kairo yang telah membuat banyak rekaman yang mengeksplorasi segenap musik dari tanah kelahirannya. Gaya musik timur dan barat yang diusungnya kurang lebih membekas dan kini terlihat lagi oleh Lorjhu’ di album Paseser.

Sebuah keputusan tepat buat demajors untuk merilis album ini. Meskipun masih banyak catatan baik segi sound yang masih perlu ditingkatkan. Namun untuk mengapresiasi sebuah project mandiri dimana semuanya direkam sendiri memakai smartphone dan laptop, ini adalah langkah yang tepat. Paling tidak, Lorjhu’ telah memiliki golden ticket untuk bermain di festival-festival bergengsi dari RRREC Fest sampai Synchronize.

Penulis
Wahyu Acum Nugroho
Wahyu “Acum” Nugroho Musisi; penulis buku #Gilavinyl. Menempuh studi bidang Ornitologi di Universitas Atma Jaya Yogyakarta, menjadi kontributor beberapa media seperti Maximum RocknRoll, Matabaca, dan sempat menjabat redaktur pelaksana di Trax Magazine. Waktu luang dihabiskannya bersama bangkutaman, band yang 'mengutuknya' sampai membuat dua album.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Eksplor konten lain Pophariini

Menggemparkan! Ini 8 Line Up Terbaru Soundrenaline 2022

Festival musik terbesar di Tanah Air, Soundrenaline 2022 baru saja mengumumkan lagi delapan line up terbarunya

Earhouse Songwriting Club Bernyanyi Bersama di “Karya-Karya”

Earhouse Songwriting Club akan merayakan hadirnya mini album ini di gelaran Synchronize Festival, tepatnya pada hari terakhir penyelenggaraan (09/10).