Mamang Kesbor – Album Terbaik di Tata Surya

536
Mamang Kesbor
Album mamang Kesbor: Album Terbaik di Tata Surya

Artis: Mamang Kesbor
Album: Album Terbaik di Tata Surya
Label: Ugly People Association / re;BOOST

“Siapa nih? Mardial ya?”
“Iye, mas. Caur ye.”

Dengan diakhiri tawa, kira-kira begitulah obrolan dan juga respon salah satu pimpinan redaksi saya, Wahyu ‘Acum’ Nugroho ketika kami berdua mendengarkan Album Terbaik di Tata Surya dari Mamang Kesbor, moniker dari Mardial di kantor beberapa waktu yang lalu.

Sebelum kita mulai membahas mengenai album ini, baiknya saya bercerita sedikit mengenai konsep hubungan antara sebuah lagu dengan diri saya yang selama ini saya anut.

Saya selalu memberikan nilai lebih bagi sebuah lagu apabila muatan lirik di dalamnya terasa ‘related’ dengan kehidupan yang saya jalani, entah itu yang sudah terlewat atau sedang berjalan. Jika kebetulan saya menemukan sebuah lagu yang memenuhi kriteria seperti itu, saya pasti selalu bergumam “Lah ini mah gue lagi ngalamin.” Ujungnya? Lagu tersebut pasti setidaknya akan bertahan selama sebulan dalam playlist saya.

Belakangan ini, salah satu yang kembali heavy rotation dalam playlist saya adalah “Takkan Pernah Bisa”, nomor mutakhir dari Alexa. Potongan lirik “Bersamamu / Ku takkan pernah bisa” menjadi lebih menyesakkan ketika diputar di kereta saat perjalanan pulang dari Bintaro ke Bogor.

Atas dasar latar belakang tersebut soal ‘related’ atau tidaknya lirik sebuah lagu terhadap perjalanan hidup saya, maka tentu saja beberapa nomor dari Album Terbaik di Tata Surya mendapatkan tempat di hati saya.

Jika bicara mengenai Mardial atau monikernya, Mamang Kesbor, perhatian saya dicuri ketika munculnya “Digital Love” bersama Ramengvrl beberapa tahun yang lalu. Setelahnya, saya tidak terlalu mengikuti diskografinya, juga hanya selewat ketika beberapa teman me-retweet cuitan-cuitannya yang akhirnya berujung pada wara-wiri di linimasa saya.

Kembali ke Album Terbaik di Tata Surya, ini adalah lanjutan dari Album Terbaik di Dunia yang lahir pada tahun 2017 lalu. Hadir dengan 12 nomor, album terbaru Mamang Kesbor ini memuat beberapa nomor juga sudah sempat diperdengarkan terlebih dahulu, seperti “Soto Ayam Bu Karti”, “Amer”, “Emo Night”, juga “Sebat Dulu” dan “Kebelet”.

Mari kita kesampingkan fakta bahwa album ini lebih dulu rilis di sebuah situs dewasa, bagaimana menjadi satu lagi sebuah bentuk ‘promosi’ musisi lokal di luar nalar, setelah teman-teman Panturas juga sempat melakukannya via dating apps pada tahun 2018 lalu. Memang jenius, tapi kali ini mari kita coba untuk sedikit ‘ngulik dalemannya’.

Dari 12 nomor yang hadir, “Amer” dan “Emo Night” menjadi jagoan saya. Kenapa menjadi jagoan pun, ya sebenarnya karena kembali ke beberapa paragraf di awal mengenai lirik yang ‘related’. Toh sepertinya juga bukan saya saja yang merasa “Gue pernah nih sh*t” disertai tawa yang kencang ketika mendengar penggalan lirik “Ku suka minum amer / Terus dipamer-pamer.”

Tawa pun berlanjut ketika masuk kepada “Upload di Instastory / Naikin reputasi”. Jika kalian yang membaca ini juga merasakan hal yang sama, maka selamat, anda sudah pernah menjadi bahan tertawaan society dan juga Mamang Kesbor sendiri. Tapi jangan khawatir dan jangan overthinking, fase pencarian jati diri tersebut memang selayaknya hinggap di perjalanan kalian yang kelam itu.

Jagoan selanjutnya dari saya, berlanjut kepada “Emo Night”. Bukan penggalan lirik “Dulu play MCR / Sekarang Kendrick Lamar” yang menjadi related dengan saya, namun bagian “Kalau kangen pengen sad / Tinggal datang ke Emo Night” tentunya.

Honorable mention jatuh kepada “Rancak Bana”, saya terlalu cinta kepada ‘ayunan’ “Neng geulis” yang super ngayun (maafkan saya karena tidak terlalu mengerti istilah-istilah yang saya yakin pasti ada istilahnya itu) itu. Oh iya, video musik dari nomor ini juga menjadi satu yang mesti kalian simak.

1 Comment
Inline Feedbacks
View all comments
trackback

[…] Mamang Kesbor – Album Terbaik di Tata Surya […]