Masa Indah Banget Sekali Pisan: Gairah Underground Bandung 1990an

2467
Kompilasi Masaindahbangetsekalipisan / Ilustrasi: @abkadakab

Full of Hate dengan lagunya “I Know” mengisi track pertama dari 15 lagu dalam CD kompilasi ini. Gaya music old school hardcore a la Gorilla Biscuits, Youth of Today, langsung menyapa, dan kita memang benar-benar sedang mendengar produk rekaman dari bawah tanah (underground) Kota Kembang pada 1997.

Pertengahan 1990an, musik underground di kota-kota besar seperti Bandung dan Jakarta sedang sangat semarak bersama seabrek sub genre, sub culture, counter culture, apa pun itu, yang saling berbagi suara dan ruang. Ini adalah episode lanjutan dari bibit-bibit pada 1980an, pecah pada awal 1990an, dan jadi semakin membesar, beragam, dan menyebar pada pertengahan ke ujung dekade itu. Mahsyur bahwa GOR Saparua menjadi ajang band-band tersebut beraksi, acara digelar seharian di akhir pekan. Di Jakarta, kurang lebih kejadian serupa berlangsung di Poster Café.

Salah satu musik yang mencuat adalah suara band-band dari Revelation Records (juga Victory Records) seperti yang dimainkan Full of Hate, yang dari nama band-nya kita boleh curiga itu dipengaruhi oleh  judul lagu Sick of it All, “World Full of Hate”.  Selain itu ada sangat banyak hal lagi di scene: punk rock, Oi!, ska, indie pop/Britpop, indie rock, industrial, electronic, apa saja!

Cuplikan maut geliat dan gairah tersebut diedarkan oleh 40.1.24, sebuah indie label dengan orang-orang di belakangnya adalah Richard Mutter (pemain drum Pas Band) dan Helvi Sjarifuddin (manajer Puppen, kemudian dikenal mendirikan indie label Fast Forward Records, membidani Trolley Magazine, menjadi gitaris Teenage Death Star, hingga turut menjadi promotor sejumlah konser).

Cd Masaindahbangetsekalipisan / Dok. Istimewa

Bukan hanya isinya yang terdengar baru, Masa Indah Banget Sakali Pisan, nama judul album kompilasi itu, bahkan dicetak dalam format Compact Disc yang juga “baru”, ketika kaset masih jadi menu umum rekaman indie/underground di Indonesia pada saat itu.

Pada lembaran CD, dengan wajah anak dari Richard Mutter sebagai sampulnya, tertulis sebuah pertanyaan (Q) dan jawaban (A) berikut ini:

About early these years there are really upset because my band helping a famous artist (as additional players) for some songs… the fans that are a high school students says that “The artist is already famous and still be a famous artist either your help or not.., if you really wanna help, why won’t you “help” your underground friends?

I got my own reasons to help any artist or band that I like and yes if I can, I like to “help” regarding to the question above…

Richard Mutter

Saya pertama kali mendapatkan album ini dari format yang berbeda dari rilisan sebenarnya, yaitu kaset rekaman dengan sampul fotokopian.

Pada 1997, selain underground/indie sedang sangat semarak, kami juga bertemu dengan kriris moneter. Naiknya harga-harga secara pesat membuat anak-anak muda semakin berat untuk mengeluarkan biaya rekreasi seperti nongkrong di café-café yang kala itu juga sedang marak-maraknya. Dolar naik tinggi sekali, dan kelak ini juga yang turut memengaruhi tutupnya toko Reverse, juga dikelola oleh Richard dan Helvi, karena beratnya memesan dan menjual barang-barang impor seperti kaos, poster, bahkan buku, yang menjadi andalan toko tersebut, selain juga menjual rilisan-rilisan indie/underground lokal (saya mendapatkan kaset-kaset Turtles Jr. dan Nasi Putih ½ di sana).