Menakar Kekuatan Lagu “Jelek” Untuk Bisa Viral

Sep 30, 2022

Begitu syulit, lupakan Rehan. Apalagi Rehan baik…

Sebagian besar pengguna medsos tentu pernah mendengar potongan lirik yang dikenal dengan fenomena “Rehan” tersebut. Bermula dari akun Tiktok @binirehan1 yang mengubah lirik lagu milik The Junas Monkey feat, Yasmin berjudul Cukup Dikenang Saja, konten “Rehan” ditonton hingga 38 juta kali. Tidak hanya itu, fenomena “Rehan” juga melahirkan ragam konten kreatif yang merespons video nyanyian dari pemilik akun yang aslinya bernama Intan Sriastuti tersebut.

Ini bukan pertama kalinya konten yang berisi lagu di Tiktok kemudian menjadi viral dan merambat hingga ke media sosial lainnya seperti Twitter dan Instagram. Tahun lalu, viral juga lagu yang tak kalah hebohnya yakni Yamete Kudasai yang dinyanyikan oleh Dewi Isma Hoeriah dengan potongan liriknya yang terkenal: “Yamet kudasi, yamet kudasi, bang Yamet parake dasi…”

“Rehan” dan “Yamete Kudasai” bisa dikatakan bukan lagu-lagu yang dinyanyikan oleh seseorang dengan suara istimewa dan bahkan dengan kasar bisa kita katakan “jelek”

Hal yang menarik, lagu-lagu yang viral tersebut bukan berasal dari artis yang sudah mapan dan terkenal. Bahkan jika mengacu pada standar lagu-lagu populer yang kita akrabi sehari-hari, “Rehan” dan Yamete Kudasai bisa dikatakan bukan lagu-lagu yang dinyanyikan oleh seseorang dengan suara istimewa dan bahkan dengan kasar bisa kita katakan “jelek”. Pertanyaannya, mengapa lagu-lagu demikian bisa viral? Bukankah yang “sebaiknya” viral itu adalah lagu-lagu yang jelas bermutu dan dinyanyikan oleh orang yang bersuara bagus?

Kenyataannya, fenomena viral tampak tidak mempunyai formula yang baku. Sebagian konten yang menjadi viral mungkin menimbulkan pertanyaan pada diri kita: kok viral ya? Sebelah mana bagusnya?

Istilah viral awalnya digunakan untuk menunjuk segala hal yang berhubungan dengan virus dalam konteks mikrobiologi. Istilah yang sama kemudian digunakan dalam kultur internet yang diartikan oleh Tony D. Sampson sebagai akumulasi dari peristiwa dan objek yang menyebar melalui diskursus populer.

Kenyataannya, fenomena viral tampak tidak mempunyai formula yang baku. Sebagian konten yang menjadi viral mungkin menimbulkan pertanyaan pada diri kita: kok viral ya? Sebelah mana bagusnya?

Pada dasarnya, istilah “viral” dalam konteks mikrobiologi sudah dengan sendirinya menjelaskan apa yang dimaksud dengan “viral” dalam konteks internet: seperti halnya penyebaran epidemik, konten “viral” artinya konten yang menular dengan cepat dari satu orang ke orang lainnya hingga terjadi ke banyak orang dalam waktu relatif singkat.

Konten viral awal-awal di internet salah satunya adalah lagu “Gangnam Style” yang diunggah oleh penyanyi Korea Selatan, Psy pada tahun 2012. Konten tersebut ditonton satu milyar pengguna hanya dalam waktu satu bulan! Bahkan hingga Desember 2021, jumlah penonton video tersebut sudah mencapai lebih dari empat milyar pengguna.

Kriteria viral atau tidaknya sebuah konten memang tidak memiliki ukuran yang jelas. Misalnya, Kevin Nalty menyebutkan bahwa sebuah konten dikatakan viral jika menyentuh lima juta penonton dalam waktu tiga sampai tujuh hari. Namun di sisi lain, kita juga bisa menyebut suatu konten menjadi viral cukup berdasarkan replikasinya yang cepat dan penyebarannya yang luas tanpa mempertimbangkan jumlah tertentu yang spesifik.

Konten dikatakan viral jika menyentuh lima juta penonton dalam waktu tiga sampai tujuh hari. Namun juga bisa cukup berdasarkan replikasinya yang sangat cepat dan penyebarannya yang luas tanpa jumlah tertentu yang spesifik

Dalam buku berjudul Viral Marketing and Social Network, Maria Petrescu menyebutkan beberapa kajian terkait alasan mengapa suatu konten dapat menjadi viral. Alasan paling umum adalah faktor emosional. Orang cenderung menyebarkan konten yang menyentuh secara emosi ketimbang konten berisikan informasi yang mesti dicerna oleh pikiran. Saat pengguna menerima konten yang membuatnya senang, optimis atau terharu, ia akan cenderung meneruskannya agar orang lain juga merasakan hal yang sama.

Secara lebih spesifik, konten humor merupakan konten yang sering menjadi viral, selain konten yang menghadirkan nuansa seks, ketelanjangan dan kekerasan. Meski memberi kita sedikit petunjuk, tetap saja pada kenyataannya, suatu konten menjadi viral seringkali tidak melulu mengacu pada unsur-unsur yang disebutkan oleh Petrescu tersebut.

Untuk lebih menjawab pertanyaan kita mengenai viralnya “Rehan”, mungkin kita bisa menemukan petunjuk lewat penjelasan berkenaan dengan fenomena meme internet. Istilah meme pada mulanya berasal dari tulisan Richard Dawkins dalam bukunya yang berjudul The Selfish Gene (1976). Dawkins menyebut meme sebagai unit terkecil dari transmisi budaya, hampir menyerupai gen, yang menyebar dari orang ke orang dengan cara saling menyalin atau mengimitasi.

Untuk lebih menjawab pertanyaan kita mengenai viralnya “Rehan”, mungkin kita bisa menemukan petunjuk lewat penjelasan berkenaan dengan fenomena meme internet yang berasal dari tulisan Richard Dawkins dalam bukunya yang berjudul The Selfish Gene (1976)

Contoh dari meme ini misalnya artefak kultural seperti melodi (dalam musik), slogan, dan fesyen, termasuk juga kepercayaan akan sesuatu yang abstrak (misalnya, konsep Tuhan). Kata “meme” dimodifikasi dari bahasa Yunani mimema, yang artinya “sesuatu yang diimitasi”. Dawkins membuatnya menjadi “meme” agar penyebutannya mirip dengan “gene”.

Para pengguna internet menganggap meme internet sebagai konten audio visual yang dapat diamati, yang umumnya berupa video di Youtube atau gambar-gambar yang mengandung humor. Meski cenderung ringan dan populer, tetapi meme internet juga dapat menghadirkan isu-isu yang cukup serius. Meme internet memang terkesan sepele dan sangat keseharian, tetapi sebenarnya merefleksikan kedalaman sosio-kultural dari masyarakat.

Meski cenderung ringan dan populer, tetapi meme internet juga dapat menghadirkan isu-isu yang cukup serius. Meme internet memang terkesan sepele dan sangat keseharian, tetapi sebenarnya merefleksikan kedalaman sosio-kultural dari masyarakat

Mengapa meme dapat mudah sekali menjadi viral? Uraian berikut ini barangkali dapat menjadi penjelasan:

  • Secara visual tidak perlu orisinil dan estetik. Perhatikan bagaimana meme internet seringkali hanya mengambil gambar yang sudah beredar untuk kemudian dimodifikasi seperlunya. Selain itu, memeinternet bahkan memang secara sengaja dibuat “jelek” dan justru dengan demikian menjadi muncul sisi humornya.
  • Menggunakan kekuatan citra audio-visual yang dihubungkan melalui prinsip asosiasi. Seringkali kita terhibur dengan meme internet karena membayangkan orang yang ada pada gambar kemudian mengucapkan apa yang tertulis pada teks. Misalnya, sebuah meme internet menggunakan wajah motivator Indonesia, Mario Teguh, dengan tambahan teks “payah kalian semua” akan menimbulkan kesan menarik karena kita membayangkan Mario Teguh dengan suara dan wibawanya mengatakan demikian padahal tidak akan terjadi pada dunia nyata.
  • Bersifat anonim. Meme internet menyebar begitu saja tanpa perlu diketahui siapa yang membuatnya pertama kali. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa meme internet lebih mementingkan pesan ketimbang siapa yang menyampaikan.
  • Dapat direspons secara massal. Meme internet biasanya terbuka untuk dikreasi ulang oleh para pengguna internet sehingga jumlahnya menjadi banyak dan beragam.

Dengan mengecualikan butir ketiga, kita bisa menjelaskan viralnya “Rehan” lewat alasan-alasan mengapa meme internet relatif mudah untuk menjadi viral. Lagu “Rehan” tidak orisinil dan hanya mengubah satu atau dua kata dari lagu yang sudah ada. Selain itu, lagunya tidak bisa dikatakan estetik karena terdapat beberapa nada yang fals atau sumbang. Dalam konteks ini, prinsip asosiasi juga digunakan: lagu yang tadinya dinyanyikan oleh kelompok musik bernama The Junas, tiba-tiba dinyanyikan oleh orang “tidak dikenal” yang membuat asosiasinya menjadi “berantakan” karena lagu yang tadinya cukup bernuansa serius, menjadi agak satir. Terakhir, konten dan potongan lagu tersebut juga dianggap cukup simpel dan catchy untuk direplikasi dan dikreasi ulang oleh para pengguna internet sehingga melahirkan konten-konten baru yang kreatif.

Secara lebih kritis dapat kita kaji lebih dalam: mungkin kita bosan dengan “lagu bagus” yang mengepung kita dari mulai musik iklan di Youtube, playlist yang diputar di kafe-kafe, atau berbagai menu yang disediakan Spotify. Tentunya jarang di antara kita yang dengan sengaja “mencari lagu jelek”, sampai akhirnya fenomena “Rehan” dan Yamete Kudasai mendadak tampil di hadapan, sekaligus menyadarkan kita bahwa lagu-lagu ternyata tidak harus selalu “bagus”.

Bahwa penyebaran suatu fenomena yang viral tidak lagi bisa ditentukan semena-mena oleh pihak industri, melainkan bisa datang dari pergerakan organik para netizen tanpa disetir siapapun

Hal yang lebih kita perlukan adalah semacam terobosan, yang tidak sekadar berkubang dalam pola-pola musikal yang seolah sudah ditetapkan oleh media arus besar. Kreativitas yang dilakukan oleh “Rehan” dan Yamete Kudasai mungkin hanya “sedikit”, tapi cukup untuk membangunkan kita dari formulasi musik industri yang seakan-akan tidak bisa diganggu gugat lagi.

Namun untuk sekadar mengingatkan, fenomena viral yang membuat suatu konten begitu cepat tersebar luas, biasanya cepat juga meredupnya. Dalam hitungan hari ke depan, fenomena “Rehan” mungkin tidak akan terdengar lagi dan bahkan mereka yang masih membahasnya akan dianggap ketinggalan.

Watak timbul – tenggelam tersebut tidak perlu menjadi masalah, selama kita bisa memaknainya dengan sigap: bahwa penyebaran suatu fenomena tidak lagi bisa ditentukan semena-mena oleh pihak industri, melainkan bisa datang dari pergerakan organik para netizen tanpa disetir siapapun. Tentu apa yang organik ini nantinya cepat lambat dikomodifikasi lagi oleh industri, tapi tenang, publik selalu punya cara untuk melahirkan kreativitas secara tak terbatas.

 


 

Penulis
Syarif Maulana
Pengajar di Fakultas Filsafat, Universitas Katolik Parahyangan dan Mahasiswa doktoral di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Buku yang ditulisnya antara lain "Kumpulan Kalimat Demotivasi: Panduan Menjalani Hidup dengan Biasa-Biasa Saja" (Buruan & Co., 2020), "Nasib Manusia: Kisah Awal Uzhara, Eksil di Rusia" (Ultimus, 2021) dan "Kumpulan Kalimat Demotivasi 2: Panduan Hidup Bahagia untuk Medioker" (Buruan & Co., 2021). Di waktu senggangnya, Syarif adalah pengajar gitar klasik dan tampil bermusik di sejumlah kafe dan hotel.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Eksplor konten lain Pophariini

RRREC Fest Siap Kembali di Akhir Pekan Ini

Tidak berhenti hanya di penampilan musik saja, karena RRREC Fest juga menyuguhkan ragam kegiatan lain seperti talkshow hingga penayangan film dan teater.

5 Aksi Berkesan di Soundrenaline 2022

Di gelaran Soundrenaline 2022 lalu, kami mencatat setidaknya lima nama yang aksi panggungnya mencuri perhatian. Siapa sajakah mereka?