Menerka Citayam Fashion Week: Dari Subkultur sampai Musik

Jul 21, 2022
Citayam

Sekumpulan anak remaja yang sering nongkrong di kawasan Sudirman, Jakarta, belakangan jadi sorotan. Berawal dari video wawancara berseri yang tayang di aplikasi TikTok, eksistensi mereka mulai terendus secara luas. Media menyebut fenomena ini sebagai Citayam Fashion Week.

Citayam diambil dari nama daerah di Depok yang merupakan tempat asal sebagian remaja-remaja itu. Sementara “fashion week” merujuk pada gaya berbusana mereka yang dianggap tidak biasa saat nongkrong. Istilah tersebut memang tidak sepenuhnya tepat. Tidak semua anak-anak ini berasal dari Citayam. Ada juga yang datang dari daerah lain seperti Bogor atau Tangerang. Beberapa di antaranya malah masih berasal dari kawasan Jakarta Raya. Begitu juga dengan penambahan kata “fashion week” yang entah maksudnya apa.

fenomena anak-anak remaja di Sudirman ini tidak hanya dipandang sebagai ekspresi anak muda belaka tetapi juga hak atas kota, hak untuk ikut berpartisipasi dalam kebudayaan, dan yang hendak saya tawarkan: Menimbangnya sebagai subkultur

Bisa jadi istilah ini muncul begitu saja di kolom komentar kemudian diduplikasi terus menerus oleh media untuk menjelaskan fenomena yang lagi jadi perhatian ini.

Menimbangnya Sebagai Subkultur

Keberadaan fenomena anak-anak remaja di Sudirman ini memang telah memantik diskusi panjang. Ia tidak hanya dipandang sebagai ekspresi anak muda belaka tetapi juga hak atas kota, hak untuk ikut berpartisipasi dalam kebudayaan, dan yang hendak saya tawarkan: Menimbangnya sebagai subkultur.

Mereka, anak-anak remaja ini, mengguncang citra kawasan Selatan Jakarta yang selama ini dikenal sebagai “pusat budaya populer nasional yang didominasi oleh kalangan kelas-menengah atas”. Kedatangan mereka dari wilayah “yang sering disebut sebagai kota penyangga” menjadi semacam resistensi kalau hak untuk bergaya dimiliki oleh semua. Di sisi lain mereka juga menunjukkan realita baru dari sisi lain Selatan Jakarta yang mungkin selama ini luput dari perbincangan.

Anak-anak remaja ini, mengguncang citra kawasan Selatan Jakarta yang selama ini dikenal sebagai “pusat budaya populer nasional yang didominasi oleh kalangan kelas-menengah atas”. Kedatangan mereka dari wilayah “yang sering disebut sebagai kota penyangga” menjadi semacam resistensi kalau hak untuk bergaya dimiliki oleh semua

Apakah ini hal baru? Saya kira tidak. Apa yang dilakukan para remaja dari Citayam, Bojong Gede, hingga Parung Panjang di kawasan Sudirman ini adalah hal yang sama yang dilakukan oleh banyak anak remaja lain dari berbagai zaman di berbagai belahan dunia sejak subkultur dikenal di kalangan remaja.

Dalam subkultur pasca-perang dunia kedua, di Indonesia kita juga mengenal apa yang disebut sebagai fenomena ‘cross-boy’. Ini adalah sekumpulan remaja yang sering kumpul di persimpangan jalan dengan motor dan dandanan ‘aneh’ pada masanya. Mereka meniru tatanan rambut a la Elvis atau James Dean, menggunakan jaket kulit, hingga terlibat aksi kriminal ringan yang dicontohkan oleh film-film Amerika di tahun 1950-an.

Di awal, fenomena ini memang hanya menjangkiti mereka yang tinggal di kota-kota besar seperti Bandung, Jakarta, dan Medan. Namun tidak perlu waktu lama buat subkultur ini menyebar ke wilayah kabupaten seperti Tasikmalaya, Ciamis, atau Garut. Dalam pemberitaan di koran Pikiran Rakjat, Oktober 1957, di SMP Trisila Ciamis bahkan sempat ada kericuhan antara seorang guru dengan siswanya yang merupakan seorang anggota cross-boy.

Apa yang dilakukan para remaja dari Citayam, Bojong Gede, hingga Parung Panjang di kawasan Sudirman ini adalah hal yang sama yang dilakukan oleh banyak anak remaja lain dari berbagai zaman di berbagai belahan dunia sejak subkultur dikenal di kalangan remaja

Di era lain pun saya kira sama. Subkultur remaja yang kita ikuti dan diimpor dari Inggris, seperti punk misalnya, adalah juga hal aneh yang dinilai “mengganggu” oleh kalangan tua di Inggris pada masanya. Merunut ke era saya remaja, di Bandung dekade kedua tahun 2000 saja, banyak kita temui anak-anak muda dengan dandanan streetwear di kawasan Alun-Alun Bandung. Mereka adalah kelompok yang kemudian menyokong berdirinya distro-distro di kawasan Parahyang Plaza. Sebuah entitas distro berbeda dari distro yang tumbuh di sepanjang jalan Sultan Agung hingga Trunojoyo. Singkatnya, fenomena seperti ini akan terus berulang dan ada.

Kalau mengacu pada pendapat Albert Goldman, seorang pakar budaya dalam industri musik Amerika, lewat bukunya “Ladies and Gentleman, Lenny Bruce!” (1974) yang dikutip oleh Dick Hebdige dalam “Subculture: The Meaning of Style” (1979), barangkali mereka bisa juga dianggap sebagai hipster baru. Menurut Goldman, hipster adalah typical-lower class dandy, yang berdandan necis untuk membedakan dirinya dari lingkungan yang mengelilinginya di ghetto. Hipster, cenderung ingin membangun situasi hidup yang lebih baik di masa depan, yang dalam bahasa Goldman: dengan jenis teh terbaik dan musik keren seperti jazz atau Afro-Cuban.

Menerka Musik dan Skena Sudirman

Goldman menyitir soal musik sebagai salah satu elemen dari kemunculan para hipster. Toh, memang antara fesyen dan musik sudah lama terjalin ikatan mesra. Subkultur Mods dan Rockers di Inggris tahun 60-an pun, berkembang dengan musiknya masing-masing. Lantas kalau menerka kancah musik yang berkembang di Sudirman, apa yang terlintas?

Dari sejumlah video wawancara mereka di media sosial Instagram, mereka telah memiliki musik-musik sendiri yang dianggap mewakili mereka. Dalam wawancara yang menampilkan Bonge dan Kurma misalnya, dua dari ikon tongkrongan Sudirman, Bonge menyebut istilah “pargoy”

Tentu perlu penelitian lapangan untuk mengetahui musik apa yang berkembang di kalangan remaja-remaja ini. Namun dari sejumlah video wawancara mereka yang saya tonton di media sosial Instagram, mereka telah memiliki musik-musik sendiri yang dianggap mewakili mereka. Dalam wawancara yang menampilkan Bonge dan Kurma misalnya, dua dari ikon tongkrongan Sudirman, Bonge menyebut istilah “pargoy”. Istilah yang mungkin hanya dipahami oleh komunitas ini tapi tidak oleh awam.

Saya mencoba mencari tahu apa arti pargoy yang ternyata adalah singkatan dari party goyang. Aktivitas menari, diiringi musik yang biasa mereka rekam untuk kemudian diunggah di media sosial TikTok. Berdasarkan penelusuran saya, musiknya bisa macam-macam. Tetapi musik ini berada di kisaran musik dansa dengan beat yang mengingatkan saya pada nada-nada koplo atau funky kota.

Menurut Gembi, pada dasarnya musik yang banyak didengar oleh anak-anak remaja di Sudirman memang berkutat pada musik-musik remix yang populer di TikTok.

Saya yang awam akan musik elektronik dan rumpunnya mencoba menghubungi seorang kawan yang lebih paham. Ia adalah Gembira Putra Agam, seorang pegiat musik elektronik yang dikenal dengan moniker FYAHMAN. Gembi, sapaan akrabnya, juga sering mengunggah video-video “remix TikTok” di media sosial Instagram-nya.

Menurut Gembi, pada dasarnya musik yang banyak didengar oleh anak-anak remaja di Sudirman memang berkutat pada musik-musik remix yang populer di TikTok. Dia mengatakan hal itu karena sering menemukan aksi “pargoy” para remaja ini di aplikasi berbasis video asal China itu.

Menurut Gembi, gaya remix yang diaplikasikan pada musik-musik ini cenderung berkarakter breakbeat. Funky Kota bisa ditimbang sebagai salah satu rumpunnya, namun untuk musik di TikTok banyak dikembangkan dengan pengaruh dari Dutch House, EDM, dan Bass Music.

“Ini kalau menurut gue sih kayak Brazil punya baile funk, di Chicago punya footwork, gedenya di jalanan semua itu,” kata Gembi.

Funky Kota bisa ditimbang sebagai salah satu rumpunnya, namun untuk musik di TikTok banyak dikembangkan dengan pengaruh dari Dutch House, EDM, dan Bass Music

Musik mereka bisa jadi makin khas dengan dimasukannya elemen lagu yang sedang populer atau sample dari video-video lokal yang masuk di FYP (atau kanal explorer) TikTok. Beberapa produser di ranah ini yang Gembi sebut di antaranya adalah DJ Ucil Fvnky dan Rahmat Tahalu.

“Di Spotify banyak lagu yang make sampel “Dikasih Info” atau “Slebew”. Ini kan diambil dari kutipan video-video viral di TikTok. Ada aksi-rekasi. Ada video trending banget di TikTok, diambil sample-nya, lalu dijogetin sama anak-anak Sudirman ini,” ujar Gembi.

Hubungan antara musik-fesyen-TikTok ini sebetulnya memberi gambaran cukup jelas buat saya bahwa anak-anak Sudirman telah punya musiknya sendiri. Namun, sampai taraf ini mereka baru sebatas sebagai “penjoget” atau konsumen dari musik-musik ini dan belum jadi produsen.

Jika suatu waktu akan ada satu dua spot DJ-ing di Sudirman, untuk memutar musik-musik ini, dimainkan, dan direspons langsung oleh mereka. Mungkin janggal, terkesan norak, tetapi ya begitulah subkultur terbentuk dari masa ke masa

Saya jadi membayangkan, jika suatu waktu akan ada satu dua spot DJ-ing di Sudirman, untuk memutar musik-musik ini, dimainkan, dan direspons langsung oleh mereka. Mungkin janggal, terkesan norak, tetapi ya begitulah subkultur terbentuk dari masa ke masa. Sebelum kemudian dibubuhi nilai-nilai politis tentang pertentangan kelas yang membuat pemahamannya tak lagi sama.

Skena (diambil dari bahasa Inggris, scene) yang dimaknai oleh Will Straw -seorang pakar kajian budaya urban dan musik- sebagai ruang budaya di mana berbagai praktik musik hidup berdampingan dengan perubahan dan fertilisasi silang yang sangat bervariasi, mungkin juga tumbuh lewat mereka di Sudirman. Tetapi mungkin bukan “skena” yang dibayangkan oleh kelas menengah. Skena mereka mungkin mendobrak definisi keren yang mapan, yang membuat mereka mampu menerobos ke jantung budaya populer.

Mengklaim hak mereka atas kota. Mengklaim hak mereka untuk bergaya.

 


 

Penulis
Irfan Popish
Irfan Muhammad adalah jurnalis asal Bandung yang gemar musik. Sejak tiga tahun terakhir dia bertugas di Ibu Kota untuk desk Polhukam. Di luar aktivitas liputannya, Irfan sesekali masih menangani Yellowroom Records, label kecil yang dia mulai bersama sejumlah teman di Bandung sejak 2014 dan bermain untuk unit alternative, MELT.

Eksplor konten lain Pophariini

Siniar Pop – Delpi Suhariyanto

Setelah membuka musim ke-2 dengan perbincangan bersama Ardhito Pramono, kini Siniar Pop kembali hadir dengan bintang tamu Delpi Suhariyanto dari Dongker. Masih dipandu oleh Denboi, Siniar Pop bersama Delpi tidak banyak membahas perihal musik …

Loutspell Mengaku Lebih Eksploratif di Album Kedua Watch The Fear

Berjarak 4 tahun dari perilisan album perdana Burning Last, band hardcore punk asal Bandung bernama Loutspell resmi meluncurkan yang terbaru berjudul Watch The Fear dalam format kaset pita tanggal 7 Juni 2024 dan menyusul …