Meraba Wajah Industri Musik Semasa Pandemi

1711
Pandemi
Pandemi membuat wajah Industri Musik berubah

Wendi Putranto hanya tersenyum kecut saat disinggung jadwal manggung Seringai selama sebulan terakhir ini. Rata-rata dalam satu bulan, grup rock oktan tinggi ini punya sekitar lima kali jadwal manggung. Namun pandemi Covid-19 membuat band yang digawangi Arian Arifin, Ricky Siahaan, Sammy Bramantyo, dan Edy “Khemod” Susanto ini untuk sementara waktu menggantung peralatan tempurnya. “Ada sepuluh agenda show yang dibatalkan atau dijadwal ulang, termasuk sekali show di Kuala Lumpur, Malaysia bulan Maret lalu,” kata Wendi yang menjadi manajer Seringai sejak tahun 2017 ini.

Sebagai pandemi global, virus corona menghantam hampir semua sektor perekonomian. Industri musik, terutama sektor bisnis pertunjukan adalah yang pertama terdampak. Billboard memperkirakan sektor ini mempekerjakan sekitar 250.000 pekerja penuh waktu dan paruh waktu dan bisa kehilangan antara $ 10 miliar dan $ 20 miliar tahun ini karena pandemi Covid-19.

Indonesia sendiri secara resmi baru mengumumkan kasus pertama pada 2 Maret 2020. Namun efeknya sudah mulai nampak sebelum itu. Terutama  saat negara tetangga Singapura sudah mengkonfirmasi kasus pertama di negaranya pada 23 Januari 2020.

Sebagai pandemi virus corona menghantam hampir semua sektor perekonomian. Industri musik, terutama sektor bisnis pertunjukan adalah yang pertama terdampak.

Pada 14 Februari, promotor konser Khalid mengumumkan penundaan konser Free Spirit yang merupakan bagian dari tur Asia penyanyi asal Amerika Serikat tersebut. Sedianya konser akan digelar pada 28 Februari. Di tanggal yang sama rapper asal Inggris, Stormzy membatalkan keikutsertaanya di festival musik hip hop, soul, dan R&B FLAVS 2020 pada 4 dan 5 April 2020 di Istora Senayan, Jakarta. Festival ini pun kemudian ditunda hingga Agustus mendatang. Terakhir, Ari Lennox membatalkan jadwal penampilannya di Jakarta International BNI Java Jazz Festival(JJF) yang berlangsung dari 28 Februari hingga 1 Maret kemarin karena khawatir akan virus corona.

Setelah pengumuman kasus pertama, lalu instruksi Presiden Joko Widodo untuk beraktivitas di rumah, dan diikuti kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar, pelaku usaha showbiz adalah yang paling terdampak. Data yang dihimpun Koalisi Seni hingga 3 April lalu menunjukkan ada 98 konser, tur, dan festival musik yang ditunda atau dibatalkan. Angka itu termasuk perhelatan berskala internasional seperti Hammersonic (ditunda hingga tahun depan) dan Head In The Clouds Jakarta.

Dengan skema pendapatan per event, pandemik ini membuat para pekerja panggung praktis kehilangan pendapatan. “Ada potensi kehilangan pendapatan sampai 90 juta,” kata Adi “Gufi” Adriandi. Sebagai tenaga profesional dalam produksi acara, jasa Gufi merentang dari konser tunggal, ekshibisi, juga acara-acara pertemuan korporasi dan pemerintahan. “Ada 12 event yang dibatalkan atau ditunda sampai bulan Mei,” kata Gufi yang juga bertindak sebagai manajer Frau ini. Sampai saat ini dirinya belum mendapat tanda-tanda kapan panggung akan memanggilnya lagi. “Hilalnya masih abu-abu walaupun meeting-meeting terkait job masih ada.”

Panggung-panggung virtual

Dengan total pengguna sebanyak 160 juta atau 59% dari total penduduk Indonesia, media sosial berperan signifikan dalam promosi karya musisi. Saat musisi tidak bisa manggung untuk sementara waktu, media sosial menyediakan pangung-panggung virtual.

Acara Yang Digagas NarasiTV / dok. istimewa

Sejak 25 hingga 28 Maret, sederet nama seperti Iwan Fals, Ari Lasso, Tulus, Raissa, sampai Didi Kempot menggelar konser amal bertajuk Konser Musik #dirumahaja  yang digagas Narasi. Konser virtual ini disiarkan melalui laman www.narasi.tv, YouTube channel Narasi, YouTube channel Najwa Shihab dan Instagram Live akun @narasi.tv.  Seluruh biaya produksi konser dan seluruh musisi yang terlibat sepenuhnya berkontribusi secara pro-bono. Sampai 14 April, dana yang terkumpul mencapai lebih dari 13 miliar untuk didonasikan.