Meraba Wajah Industri Musik Semasa Pandemi

• Apr 25, 2020
Pandemi

Melihat antusiasme publik juga ketidakpastian kapan pandemi serta segala imbasnya ini akan selesai, mungkinkah ada pergeseran “venue” konser ke jagat maya?

“Belum terlihat perubahannya secara makro, tapi sudah ada yang memulai eksperimen penyelenggaraan event online seperti seminar-seminar di Zoom,” kata founder KaryaKarsa, Ario Tamat. Dirinya mengungkapkan, konser digital bisa dan harus jadi alternatif pemasukan baru. “Malah kalau keadaan membaik, konser digital bisa jadi nilai tambah ke event offline biasa.”

Paling tidak ada dua tantangan mengemuka dalam penyelenggaraan konser-konser virtual ini. Pertama adalah persoalan infrastruktur internet. Koneksi internet di Indonesia menurut data Speedtest Global Index tahun 2019  berada di posisi ke-112 dunia dengan rata-rata kecepatan mengunduh file sebesar 17,02 Mbps per Mei 2019. Untuk rata-rata kecepatan mengunggah file sebesar 10,44 Mbps, Indonesia berada di peringkat ke-123 dunia. Untuk kecepatan internet ketika mengunggah file, Indonesia berada di posisi paling buncit di ASEAN.

Kedua adalah kebiasaan penonton. Konser gratis, terutama yang dibuat untuk promosi produk rokok, sedikit banyak membuat konsep konser berbayar untuk musisi lokal masih sulit diterapkan. Juga praktek-praktek penyelundupan penoton gelap bermodal kenalan artis atau kru produksi membuat penyelenggara konser seringkali kesulitan memastikan pemasukan dari tiket.

Situasi berbeda dialami kru produksi sampai pelaku usaha pertunjukan musik. Praktis keberlangsungan hidup para kru tergantung kemurahan hati manajemen band atau promotor/event organize

“PR besar adalah membiasakan musisi  mencoba menjual tiket konser online. Gue belum liat ada yang melakukan,” ungkap Ario. Dirinya menerangkan, musisi harus punya pola pikir bahwa karya yang dapat ditawarkan bukan hanya sekedar peralihan manggung fisik jadi online, tapi juga mampu merangkum dengan baik keinginan penggemarnya.

Konser-konser virtual yang jadi contoh tadi sebagian besar bisa dinikmati secara cuma-cuma. Tapi ada pula yang menetapkan mekanisme penjualan tiket yang diperuntukkan untuk donasi. The Rain misalnya. Dalam Konser Nyanyi Di Rumah, band bentukan Yogyakarta tahun 2001 ini menerapkan skema penjualan tiket yang dipatok minimal Rp 15 ribu. Pendapatan dari tiket tersebut sebagian didonasikan dan separuhnya lagi untuk menghidupi kru produksi yang praktis tidak menerima pemasukan jika tidak ada jadwal manggung.

Ario menjelaskan, selama masih ada penggemar yang mau untuk membayar maka prospek dari konser online berbayar ini tetap ada. “Tantangannya adalah bagaimana menemukan produk dari musisi dan harga tiket dalam kesetimbangan yang tepat,” ujarnya. Ia menjelaskan, konser online ini lambat laun akan menumbuhkan value chain dan ekosistem baru. “Kalau perlu tiket online, bisa dibantu seperti Loket.com. Bikin project sekalian campaign di Kolase. Content dan kegiatan regular bisa pakai Karyakarsa. Musisi maupun fans harus terbiasa dengan realita baru ini,” katanya.

 

Merancang masa depan

Dengan daya kejut yang sedemikian dahsyat, apakah mungkin situasi akan kembali normal setelah pandemi berakhir? Atau justru akan ada tatanan yang sama sekali baru? Tentu masih sulit untuk bisa menerka saat goncangan sepertinya baru saja dimulai.

Meski jadwal panggung berhenti sampai waktu yang tak bisa ditentukan, musisi setidaknya masih bisa mengais tabungan dari royalti katalog karya-karyanya. Terlebih era digital membuat musisi bisa memilih jalur publikasi beserta skema pendapatannya sendiri.

“Masa-masa ini menyadarkan kalau hakikat musisi adalah berkarya lewat lagu,” kata Anton Kurniawan. Pengalaman sebagai manajer  Sheila On 7 selama 12 tahun, marketing manager di sebuah label internasional, dan saat ini mengelola agensi hiburan Goromedia, membuat Anton punya argumen kuat atas pernyataanya. “Lagu akhirnya jadi semacam tabungan buat musisi. Kalau melihat musisi dengan daftar putar tertinggi yang ada di platform-platform musik digital, mereka adalah yang punya banyak tabungan katalog lagu. Tentu juga masih ada faktor-faktor lainnya,” kata Anton.

Padatnya jadwal manggung seringkali jadi alibi malasnya masuk studio untuk menggarap materi baru. Pendapatan yang lebih menggiurkan hanya dengan memainkan katalog-katalog lawas adalah adalah musabab utamanya. “Kalau repertoar manggung mau lebih bervariasi tentu harus punya banyak tabungan lagu. Dan saat ini sebenarnya tepat untuk produksi lagu,” kata Anton. Toh lagi-lagi teknologi memudahkan semua di semua lini. “Produksi bisa dilakukan dengan rekaman track by track secara digital, tidak harus bertemu di studio. Promosi jauh lebih mudah dengan mengoptimalkan media sosial,” kata Anton. Pendek kata bagi musisi masa-masa ini sesungguhnya adalah blessing in disguise.

Penulis
Fakhri Zakaria
Penulis lepas. Baru saja menulis dan merilis buku berjudul LOKANANTA, tentang kiprah label dan studio rekaman legendaris milik pemerintah Republik Indonesia dalam lima tahun terakhir. Sehari-hari mengisi waktu luang dengan menjadi pegawai negeri sipil dan mengumpulkan serta menulis album-album musik pop Indonesia di blognya http://masjaki.com/

Eksplor konten lain Pophariini

SIVIA Merilis Lagu Hening dalam “Serene”

Memasuki pertengahan bulan keenam, SIVIA kembali hadir dengan single terbarunya, “Serene”. Ini merupakan single kedua menuju peluncuran mini album yang akan datang, setelah dibuka nomor pertama “Are You My Valentine?” pada Februari 2021 lalu. …

Perjalanan Panjang Basboi dalam Album Debutnya

Setelah melalui rangkaian single-single yang dilepas secara eceran di beberapa waktu ke belakang, akhirnya Basboi resmi menutup rangkaian tersebut dengan album debutnya, Adulting For Dummies. Resmi dilepas pada hari Jumat (18/06) ini, Basboi menyuguhkan …