Meraba Wajah Industri Musik Semasa Pandemi

• Apr 25, 2020
Pandemi

Situasi berbeda dialami bagi kru produksi sampai pelaku usaha pertunjukan musik. Praktis keberlangsungan hidup para kru tergantung kemurahan hati manajemen band atau promotor/event organizer.  Anton mencontohkan inisiatif milik perusahaan live entertainment global Live Nation untuk para pekerjanya. “Perusahaan induknya sudah menyiapkan dana ratusan milyar yang dikelola oleh satu yayasan yang ditunjuk, untuk mendukung para teknisi, kru, dan orang-orang di balik panggung supaya tetap bisa bertahan di era pandemi ini,” ujar Anton.

Di Indonesia inisiatif tersebut belum terlihat, namun sudah ada yang memulai di lingkup kecil. Seringai misalnya, punya Serigala Jalanan yang harus dipikirkan nasibnya oleh Wendi Putranto sebagai manajer. Mereka adalah sepuluh kru yang terdiri dari road manager, teknisi bass, drum, dan gitar; VJ, sound engineer, lighting engineer, merchandiser, fotografer, dan sopir. “Ada pinjaman lunak buat mereka. Tanpa bunga dan bisa dibayar secara mencicil dari fee mereka setelah berbagai konser dan tur dimulai lagi,” jelas Wendi. Dalam waktu dekat, mereka juga akan merilis t-shirt yang seluruh keuntungan penjualannya akan diberikan kepada para kru.

Dalam kapasitas sebagai Program Director M-Bloc Space yang aktivitas sebagai creative hub­-nya juga terdampak, Wendi juga tengah menjalankan penggalangan dana solidaritas #KreatifDiSaatSulit. Fokus utama fundraising ini untuk para pekerja kreatif harian. Secara spesifik meliputi kru produksi konser musik, kru band, kru panggung, kru vendor sound dan lighting, sampai , fotografer panggung. “Mereka ini yang terdampak pertama kali sejak pandemi mulai menyebar dan membatalkan semua acara. Semuanya serentak kehilangan pendapatan. Target kedua juga donasi untuk tim medis berupa penyediaan Alat Pelindung Diri dan masker,” terang Wendi.

Untuk skemanya, donasi dibuka melalui tautan kitabisa.com/kreatifdisaatsulit hingga bulan Mei 2020. Selanutnya akan dilakukan survei dan pendataan melalui manajemen artis atau EO untuk rekomendasi para kru mereka yang terdampak. Caranya dengan mereka menyertakan identitas kru, surat rekomendasi perusahaan, serta bukti kontrak-kontrak acara yang dibatalkan. “Harapannya donasi yang disalurkan ini nanti tepat sasaran kepada para kru yang terdesak membutuhkan bantuan untuk menyambung hidupnya dan keluarga,” ujar Wendi.

Sama-Sama Makan, aksi solidaritas membantu musisi terdampak Pandemi

Sama-Sama Makan, aksi solidaritas membantu musisi yang terdampak Pandemi / dok. istimewa

Di Yogyakarta, beberapa pelaku kancah musiknya menginisiasi #SamaSamaMakan yang mengirimkan bahan pokok atau makanan matang untuk pekerja panggung yang terdampak dan telah mendaftarkan diri melalui tautan yang disediakan di akun Instagram @sama2makan. “Mereka yang ingin membantu dapat mengirim donasi dalam bentuk sembako ataupun dana untuk membayar jasa pengiriman ke rumah-rumah penerima makanan. Bisa juga dengan langsung memasak makanan yang akan dikirimkan kepada penerima bantuan,” jelas Liesta selaku perwakilan dari gerakan #SamaSamaMakan.

Di level pemerintah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Jenderal Kebudayaan mulai melakukan pendataan pekerja seni yang terdampak Covid-19.  Pendataan dalam dua tahap ini dilakukan untuk membantu perekonomian para pekerja seni yang terdampak Covid-19. Mereka yang didata adalah pekerja seni yang biasanya memiliki penghasilan di bawah Rp 10 juta per bulan sebelum ada wabah Covid-19. Seleksinya yang cukup ketat,  mencakup identitas pribadi, Nomor Induk Kependudukan, dan bukti karya berupa foto ketika pentas, hasil lukisan, atau apa pun. Tentu persyaratan ini akan susah untuk dipenuhi para pekerja yang berada di balik layar.

Pendataan Pekerja Seni Terdampak Covid19

Lalu bagaimana dengan kelangsungan bisnis pertunjukan?

Masih sulit untuk memastikan kapan speaker kembali menyalak dan lampu-lampu panggung kembali dinyalakan. Menghadapi situasi seperti ini, beberapa pelaku di usaha hiburan di luar negeri sudah mulai melakukan pergeseran bisnis intinya.

Choura Events seharusnya tengah berada dalam pekan-pekan sibuk sebagai rekanan produksi untuk festival musik SXSW dan Coachella juga turnamen tenis BNP Paribas Open Indian Wells 2020. Namun pandemi kembali membuat jadwal di atas kertas tadi berantakan. SXSW dan Indian Wells dibatalkan, sementara Coachella ditunda hingga Oktober. “Perubahan ini membuat saya hancur. Bagaimana harus membayar gaji sekaligus tetap menghadapi karyawan kami?,” kata Ryan Choura, Chief Executive  Choura Events seperti dikutip dari Los Angeles Times.

Penulis
Fakhri Zakaria
Penulis lepas. Baru saja menulis dan merilis buku berjudul LOKANANTA, tentang kiprah label dan studio rekaman legendaris milik pemerintah Republik Indonesia dalam lima tahun terakhir. Sehari-hari mengisi waktu luang dengan menjadi pegawai negeri sipil dan mengumpulkan serta menulis album-album musik pop Indonesia di blognya http://masjaki.com/

Eksplor konten lain Pophariini

SIVIA Merilis Lagu Hening dalam “Serene”

Memasuki pertengahan bulan keenam, SIVIA kembali hadir dengan single terbarunya, “Serene”. Ini merupakan single kedua menuju peluncuran mini album yang akan datang, setelah dibuka nomor pertama “Are You My Valentine?” pada Februari 2021 lalu. …

Perjalanan Panjang Basboi dalam Album Debutnya

Setelah melalui rangkaian single-single yang dilepas secara eceran di beberapa waktu ke belakang, akhirnya Basboi resmi menutup rangkaian tersebut dengan album debutnya, Adulting For Dummies. Resmi dilepas pada hari Jumat (18/06) ini, Basboi menyuguhkan …