Minat Baca Rendah, Cerewet di Dunia Maya

Mar 3, 2017

Saat ini Indonesia tercatat sebagai negara dengan minat baca yang sangat rendah. Berdasarkan studi “Most Literate Nation In The World” yang dilakukan oleh Central Connecticut State University pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkatan ke 60 dari 61 negara soal minat membaca. Juga menurut UNESCO, minat baca orang Indonesia hanya 0.001. Dan Indonesia berada di urutan ke 2 dari bawah di bawah negara Bostwana. Kalau digambarkan, bayangkan saja dari 1000 orang followers kamu di medsos, hanya satu orang saja yang suka membaca. Ini jelas tidak baik.

Sementara itu orang Indonesia menempati peringkat kelima tertinggi di dunia karena sangat aktif di dunia maya. Bahkan Jakarta termasuk kota paling cerewet di Twitter karena dalam setiap detik ada 15 orang ngeTweet. Lalu lebih dari 60 juta penduduk Indonesia punya gawai, sehingga menempatkan Indonesia di urutan kelima terbanyak dalam kepemilikan ponsel pintar. Sayangnya frekwensi berinternet yang tinggi di Indonesia ini lebih sering digunakan untuk hiburan dan bersenang-senang, bukan pendidikan.

Tidak mengherankan bila kemudian kita memiliki banyak pesohor di dunia maya di Indonesia dengan jumlah pengikut yang sangat fantastis. Contohnya Ayu Ting Ting yang memililki belasan juta pengikut dan masuk kedalam daftar 100 dengan pengikut Instagram terbanyak di dunia, bahkan mengungguli Britney Spears dan One Direction. Sensasi dan eksistensi diri adalah hal yang dicari para pengikut yang mencapai belasan juta itu. Dan lalu dengan menjadi pengikut pesohor di medsos mereka seolah dibolehkan untuk cerewet, responsif dan kritis terhadap idolanya. Tidak banyak pula yang kemudian menggunakan internet untuk sekedar menjadi pesohor media sosial.

Jaman dahulu hanya orang-orang tertentu yang berhak berbicara dan punya pengaruh kuat. Beberapa dari mereka adalah para politikus, seniman dan para pesohor dalam dunia hiburan. Mereka harus melewati proses tidak sederhana untuk bisa sampai di tempat di mana mereka bisa didengar dan diakui. Ironisnya untuk saat ini semua orang merasa punya suara dan ingin diakui. Sehingga cukup berbekal ponsel pintar dan sensasi, kalau beruntung mereka bisa menjadi fenomena di dunia internet. Jika belum seberuntung itu masih ada pilihan untuk eksis melalui komentar sinis dan kritik pedas atau sekedar menjadi polisi moral yang rajin menasihati para pesohor dunia maya di medsos juga. Pilihannya bermacam, kita tinggal memilih.

Tapi semuanya kembali lagi pada diri kita. Dengan ponsel pintar dan akses internet cepat di tangan, apakah yakin hanya ingin menjadi pesohor di medsos? Atau puas menjalani hidup di medsos dengan sinis, mengritik menghina dan berdebat kusir? Atau ingin terlihat keren, pintar dan berisi padahal yang sesungguhnya tidak seperti itu?

Silahkan memutuskan. Semuanya kembali lagi pada diri kita.

Teks oleh Anto Arief

 

Penulis
Anto Arief
Suka membaca tentang musik, subkultur anak muda dan gemar menonton film. Pernah bermain gitar untuk Tulus nyaris sewindu, lalu bernyanyi dan bermain gitar untuk 70sOC.

Eksplor konten lain Pophariini

Laidthis Nite Kembali dengan “It’s Gonna Be Alright”

Sembilan bulan setelah “LoveLight” diperdengarkan, Laidthis Nite kembali dengan single baru tentang hasrat dalam judul “It’s Gonna Be Alright” (12/11).

Menakar Hak Pencipta Lagu

Sebelum bicara hak pencipta lagu mari bicara soal ini. Sebagian besar musisi indie sudah mengerjakan apa yang umumnya label rekaman lakukan pada umumnya. Yaitu merekam lagunya melalui perangkat sendiri tanpa harus diberi modal besar …