105

Mods Indonesia Merayakan Hari Buruh

ilustrasi oleh @abkadakab

Bila pada 1980an breakdance mewabah di segenap penjuru tempat dan thrash metal mulai menampakkan eksistensinya, maka dekade berikutnya sudah menjadi tampak sangat berwarna-wani.

Pada 1990an, berbagai individu maupun kelompok anak muda di kota-kota besar Indonesia, seperti Jakarta dan Bandung, merayakan keberagaman subkultur yang mereka dapatkan dan terjemahkan dari berbagai informasi yang cukup luas namun terbatas. Musik yang berhasil didapat dibagikan ke dalam kaset-kaset kosong. Literasi berpindah-pindah tangan dan difotokopi.

Terlebih pada paruh kedua, segala model remaja dan anak muda bisa kita temui di pentas-pentas musik, terlebih acara underground. Fashion dan musik selalu berputar, berbagai revivalist terjadi—gelombang-gelombang baru dari ska sampai Britpop. Dan setiap kali perputaran datang, tentu segala “roots-nya”, nama-nama “pahlawan klasik”, juga akan ke permukaan, bahkan bila sebelumnya kita tidak mengenalnya.

Baca juga:  Pemilu 2019: Kenapa Seniman Harus Netral?

Di antara anak muda mengadopsi subkultur Mod sebagai hasil dari revivalist tersebut. Ada banyak nama musisi dan band yang sedikit banyak memberi pengaruh, mereka datang dari berbagai dekade, salah satunya adalah musik dan sosok Paul Weller bersama band-nya, The Jam.

Mod merupakan subkultur yang berawal di London pada sekitar 1958, yang kemudian segera menyebar ke segala penjuru Inggris hingga dunia. Mods bisa dikenali melalui ketertarikan mereka pada fashion dan musik: berbusana rapi dan mendengarkan soul, ska, R&B, mengendarai skuter (Lambretta atau Vespa). Bagaimanapun identitas fashion menjadi penting di sini ketika mereka sebetulnya berasal dari kalangan kelas pekerja.

Kata Mod sendiri berasal dari Modernist, sebuah istilah yang biasa digunakan di Inggris pada 1950an untuk menyebut musisi dan penggemar modern jazz. Terminologi Mod menjadi kontras bagi  “Trad”, sebutan bagi musisi dan penggemar traditional jazz. Seterusnya adalah perkembangan pop culture Mod dari masa ke masa, dari mode sampai film, hingga berbagai musik pun datang menemani.

Baca juga:  Bumi Jangan Marah: Memahami Bencana Lewat Musik

Merayakan diri dengan gaya hidup yang meliputi fashion dan musik bagi kalangan pekerja, membuat Mod identik dengan Hari Buruh atau Mayday. Di saat libur, jeda dari rutinitas pekerjaan, Mayday menjadi momentum untuk bergembira. Saatnya berkumpul, mengenakan parka, mengendarai skuter, mengenakan identitas fashion, bernyanyi dan berdansa bersama musik-musik yang sehari-hari menemani.

Di Indonesia, tradisi ini pun sudah berlangsung, dan sepertinya akan terus berjalan, di kota-kota seperti Jakarta, Bandung, dan Bali.

Mereka merayakan bersama para selector, DJ yang memainkan “anthem” bagi Mods, dari koleksi piringan hitam maupun perangkat digital. Rentang musik yang dimainkan sangat luas, dari jazz, ska, soul, classic punk, oi!, indie, dan di antaranya. Band-band pun turut diundang bermain, tentu saja lintas genre, dari ska, garage rock, sampai indiepop.  Dari segi usia, mereka yang bermain juga datang dari aneka zaman, mulai dari band-band baru, era 2000an, 1990an, bahkan hingga senior 1970an sekelas Koes Plus pernah diajak serta.

Baca juga:  Kilas Balik Konser dan Festival Musik Indonesia Di 2018

Di hari itu, dari tahun ke tahun, dari pakaian yang dikenakan, kemeja sampai polo shirt, sepatu pantofel sampai boots, wajah yang tertiup angin saat mengendarai skuter (yang  kerap dipasangi banyak lampu dan kaca spion), dan musik yang berbunyi keras, Mods menikmati harinya. Walau kadang, kita tidak harus menjadi buruh untuk ada di sana.

Semua bersenang hati, semua bergembira.

 

_______

Comments
Previous articlePamungkas Dengan Singel Terbaru Break It
Next articleMalam Ini! Showcase Mini Album Oslo Ibrahim
mm
Lahir 9 Mei 1977. Sekarang bekerja di sebuah digital advertising agency di Jakarta. Sempat jadi anak band, diantaranya keyboardist The Upstairs dan vokalis C’mon Lennon. Sempat jadi manager band Efek Rumah Kaca. Suka menulis, aneka formatnya . Masih suka dan sempat merilis rekaman karya musiknya yaitu Sakit Generik (2012) Jajan Rock (2013), Sentuhan Minimal (2013) dan Kopi Kaleng (2016)