134

Mods Indonesia Merayakan Hari Buruh

ilustrasi oleh @abkadakab

Bila pada 1980an breakdance mewabah di segenap penjuru tempat dan thrash metal mulai menampakkan eksistensinya, maka dekade berikutnya sudah menjadi tampak sangat berwarna-wani.

Pada 1990an, berbagai individu maupun kelompok anak muda di kota-kota besar Indonesia, seperti Jakarta dan Bandung, merayakan keberagaman subkultur yang mereka dapatkan dan terjemahkan dari berbagai informasi yang cukup luas namun terbatas. Musik yang berhasil didapat dibagikan ke dalam kaset-kaset kosong. Literasi berpindah-pindah tangan dan difotokopi.

Terlebih pada paruh kedua, segala model remaja dan anak muda bisa kita temui di pentas-pentas musik, terlebih acara underground. Fashion dan musik selalu berputar, berbagai revivalist terjadi—gelombang-gelombang baru dari ska sampai Britpop. Dan setiap kali perputaran datang, tentu segala “roots-nya”, nama-nama “pahlawan klasik”, juga akan ke permukaan, bahkan bila sebelumnya kita tidak mengenalnya.

Baca juga:  Pemilu 2019: Kenapa Seniman Harus Netral?

Di antara anak muda mengadopsi subkultur Mod sebagai hasil dari revivalist tersebut. Ada banyak nama musisi dan band yang sedikit banyak memberi pengaruh, mereka datang dari berbagai dekade, salah satunya adalah musik dan sosok Paul Weller bersama band-nya, The Jam.

1
2
3
4
Comments
Previous articlePamungkas Dengan Singel Terbaru Break It
Next articleMalam Ini! Showcase Mini Album Oslo Ibrahim
mm
Lahir 9 Mei 1977. Sekarang bekerja di sebuah digital advertising agency di Jakarta. Sempat jadi anak band, diantaranya keyboardist The Upstairs dan vokalis C’mon Lennon. Sempat jadi manager band Efek Rumah Kaca. Suka menulis, aneka formatnya . Masih suka dan sempat merilis rekaman karya musiknya yaitu Sakit Generik (2012) Jajan Rock (2013), Sentuhan Minimal (2013) dan Kopi Kaleng (2016)