Musik Eksperimental Indonesia: Akankah Bermuara?

1428
Guruh Gypsy / gambar: dennysakrie63.wordpress.com

Di era sekarang, tumbuh beberapa band eksperimental dari berbagai daerah di Indonesia. Sebut saja Bottlesmoker dari Bandung, Gabber Modus Operandi dari Bali, atau Senyawa dari Yogyakarta. Terkecuali Bottlesmoker, Gabber Modus Operandi dan Senyawa lahir dan berkembang di daerah yang tidak terlalu padat penduduk dan menjadi tujuan sebagian besar warga metropolitan untuk sekedar refreshing ataupun berlibur. Dan di kedua daerah tersebut, seni masih bisa diapresiasi dan dihayati secara mendalam oleh para pelakunya. Jika ditelisik dari domisili mereka berasal, bukan hal yang mengagetkan memang sebagaimana yang saya jelaskan di kalimat sebelumnya. Tapi kalau ditelisik bagaimana mereka bisa mendapat apresiasi besar-besaran dan tempat istimewa oleh masyarakat luar negeri, itu baru hal mengejutkan.

Duo Senyawa / foto: gigsplay.com

Gabber Modus Operandi / foto: daily.bandcamp.comHal senada pun diamini Anggung dan Nobie, personil Bottlesmoker. Ditemui di studio Bottlesmoker di kawasan Jalan Tirtayasa 45, Bandung (1/9), duo yang baru saja mengadakan konser bertajuk Plantasia pada Agustus kemarin menjelaskan bahwa Bottlesmoker malah mendapatkan apresiasi cukup mendalam ketika bermain di Yogyakarta dibandingkan di kota asalnya sendiri. “Kita pertama kali manggung keluar kota tuh di Jogja. Ranah musik eksperimental tuh justru lebih banyak dikenalkan di sana (Yogyakarta) ke orang-orangnya dan scene-nya. Sampai sekarangpun Jogja udah hampir kaya rumah kedua, sih. Dari antusiasme audience aja, kalau sama media ditanya ‘Sebenarnya kalau penonton yang seru kalau di mana sih di Indonesia tuh?’, ‘Di Jogja’.” ungkap Nobie sembari tertawa. “Kalau di statistiknya ya setahun pasti lebih banyak di Jogja mainnya daripada di Bandung”, sambung Anggung. “Paling tinggi tuh 2019 kemarin, kita ke Jogja ada tujuh kali. Di Bandung cuma dua kali.” ungkap Nobie lagi.

Duo Bottlesmoker, Angkuy dan Nobie / Foto: bottlesmoker.bandcamp.com

Bottlesmoker kerap beberapa kali bertandang ke beberapa negara di Asia maupun Mancanegara seperti Singapore, China, Thailand, bahkan hingga menembus salah satu festival di United Kingdom sekalipun. Bulan April hingga Mei kemarin, rencananya Gabber Modus Operandi akan bertandang ke beberapa negara di Eropa seperti United Kingdom (London), Perancis, Belgia, dan Belanda, namun mau tidak mau harus tertunda karena pandemi COVID-19. Sedangkan Senyawa beberapa kali tampil di Eropa dan Australia. Mereka membawa “musik kuda lumping” yang sejatinya menjadi sajian hangat di kampung-kampung begitu mendunia. Membanggakan sekaligus menyedihkan, bukan?

Kita sudah seharusnya berbangga dengan musik asli Indonesia yang go-international, tapi kita juga harus merenung sekaligus bertanya pada hati nurani kita sendiri, sudahkah kita mengapresiasinya dengan baik? Suatu hal yang tentunya menyedihkan kalau musik eksperimental Indonesia lebih diapresiasi dan dikembangkan masyarakat luar negeri dibanding masyarakat kita sendiri.

Jadi, apakah musik eksperimental di Indonesia akan bermuara dengan mendapat tempat di hati masyarakat Indonesia? Jawabnya tentu kembali lagi pada diri kita sendiri. Tapi, satu hal yang pasti, musik eksperimental mampu memberi ruang sekaligus pengalaman baru untuk kita dalam menikmati musik. Sepercik tamasya untuk kita refreshing dari musik yang begitu-begitu saja bahkan cenderung flat.

 

____