Nosstress – Ini Bukan Nosstress (Reissue Vinyl)

Jun 10, 2022

Meskipun banyak album rekaman musik populer Indonesia dari kurun waktu satu dekade sampai hari ini, ternyata sepenampakan saya, tidak banyak yang dirilis ulang dalam format piringan hitam atau vinyl. Untuk itulah maka album dari Nosstress beruntung bisa menjadi salah satu dari populasi yang sedikit ini.

Pasti ada alasan tertentu band, label rekaman atau siapapun pihak untuk me-reissue rekaman tertentu dalam format yang sempurna ini. Selain karena produksi yang tidak murah dan kelewat rumit karena pabrik pressing vinyl yang masih berada jauh dari Indonesia, populasi penggemar rekaman fisik yang lebih sedikit ketimbang pendengar musik kasual yang hanya menikmati lewat layanan streaming, mungkin saja ada pertimbangan-pertimbangan lain yang layak diperhatikan.

Popularitas tidak juga lantas jadi ukuran, meskipun ada kasus beberapa rekaman musisi yang tengah populer, rekaman vinyl-nya juga ludes terjual bahkan tersisa di pasaran dengan harga yang fantastis. Di lain pihak, ada rekaman vinyl dari grup musik populer yang mungkin tidak laku di pasaran karena fans mereka bukan penggemar rekaman fisik, terlebih vinyl.

Seberapa pantas album tersebut didengar dalam format vinyl, album mana yang akan dirilis, siapa pembelinya adalah beberapa pertanyaan dasar yang justru menjadi penting dan selalu melekat kepada beberapa label yang kerap mencetak ulang album-album Indonesia ke dalam format vinyl.

Intinya, seseorang tidak begitu saja mencetak sebuah album rekaman dalam format vinyl tanpa ada pertimbangan-pertimbangan penting.

Pertimbangan-pertimbangan inilah yang akhirnya bisa membuat album ketiga Ini Bukan Nosstress dari group folk asal Bali, Nosstress ini bisa lulus uji sampai akhirnya dicetak ulang dalam format piringan hitam. Selain sebagai grup folk yang punya identitas di Bali, ada cerita penting mengapa album yang diproduseri Dadang Sh Pranoto (Navicula, Dialog Dini Hari) ini pantas untuk dirayakan kembali dalam format yang berbeda.

Di waktu-waktu sebelum akhirnya album ini dibuat, ada semacam rocky moment dalam perjalanan karier dari grup yang digawangi Man Angga, Kupit dan Cok Bagus, utamanya adalah kekompakan yang agak kendor. Hal ini tercermin jelas pada kesembilan lagu di album ini ditulis dan diciptakan langsung oleh penulisnya, bukan lagi mereka bertiga sebagai satu entitas.

Ini yang lantas membuat sosok Dadang menjadi sangat penting. Sebagai produser, dengan begitu jelinya ia menangkap emosi-emosi yang mengalir dalam penggarapan album ini. Dampaknya, ia terbukti mampu ‘menyatukan’ ketiga penulis lagu handal ini dalam ‘satu ruangan’.

Sayangnya, ini menjadi album terakhir Cok Bagus, setelah di tahun 2020 lalu, ia resmi hengkang dari Nosstress. Meskipun itu, fans masih sempat mendengar suara Cok di album Istirahat yang rilis tahun lalu.

Selain cerita getir yang melatarbelakanginya, sebagai sebuah produk rekaman musik, Ini Bukan Nosstress terasa teramat utuh. Selain karena ditulis oleh tiga penulis dan musisi handal, diproduseri oleh nama yang penting. Pun, musisi-musisi pendukung di dalamnya dari Fendy Rizk, Sony Bono, Dony Saxo, Windu Estianto, Wayan Sanjaya, Raoul Wijffels, Deny Surya, juga Dadang Sh Pranoto sendiri menjadikan album ini teramat gagah sebagai sebuah paket rekaman.

Tiada kata selain haru ketika pertama kali membaca dan mendengarkan setiap jengkal lirik dan notasi petikan gitar, piano, suara kerongkongan manis para punggawa Nosstress, dihasilkan dari persentuhan jarum dan piringan hitam dalam setiap groove yang mengalir via turntable, amplifier dan speaker. Kenikmatan kecil yang setiap kali saya rasakan ketika memutar rekaman-rekaman musik dalam format vinyl.

Ini yang lantas menjadi alasan utama mengapa album yang dicetakulang oleh label Mastersound dalam vinyl 180 gram dan didistribusikan oleh PHR ini penting untuk dirayakan. Bahkan untuk mengulas kembali lagu-lagu di album ini saja menjadi tidak penting dari menikmati langsung sambil menguak sejarah kenapa album ini harus dihidupkan kembali.

____

Penulis
Wahyu Acum Nugroho
Wahyu “Acum” Nugroho Musisi; penulis buku #Gilavinyl. Menempuh studi bidang Ornitologi di Universitas Atma Jaya Yogyakarta, menjadi kontributor beberapa media seperti Maximum RocknRoll, Matabaca, dan sempat menjabat redaktur pelaksana di Trax Magazine. Waktu luang dihabiskannya bersama bangkutaman, band yang 'mengutuknya' sampai membuat dua album.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Eksplor konten lain Pophariini

Samo Bangkit Lagi dengan Maxi Single Circles

Di rilisan ini, Samo mengemasnya ke sebuah format maxi single berjudul Circles yang bernaung di bawah label rekaman Darlin’ Records.

Rayakan Hari Kretek Nasional, Bottlesmoker Rilis “Sound of Kretek”

Merasa tembakau sudah menjadi bagian dari warisan budaya yang memperkaya budaya Indonesia, Bottlesmoker mencoba merangkum perjalanan di “Sound of Kretek”.