Obituari Junaedi Salat: Ali Topan, Album “Sabda Alam” dan Banyak Lagi!

352

Ali Topan Anak Jalanan membelah zaman, menjadi lambang pemberontakan anak muda dari generasi ke generasi. Pertama kali dimuat sebagai cerita bersambung di majalah Stop pada 14 Februari 1972, fiksi karangan Teguh Esha itu dijadikan novel pada 1977, diterbitkan oleh Cypress, dan meledak! Ali Topan Anak Jalanan empat kali dicetak hanya dalam enam bulan. Di tahun yang sama, beredar filmnya, Ishaq Iskandar bertindak sebagai sutradara. Ali Topan Anak Jalanan semakin meledak! Junaedi Salat didaulat menjadi pemeran utama dan sosok Ali Topan hingga kapan pun melekat padanya.

Memang bukan hanya Junaedi Salat yang pernah memerankan karakter Ali Topan. Pada 1979, Widi Santoso menjadi Ali Topan dalam film Ali Topan Detektif Partikelir Turun ke Jalan, sementara Ari Sihasale tampil dalam sinetron Ali Topan Anak Jalanan pada 1996., tapi waktu membuktikan bahwa Junaedi Salat adalah Ali Topan yang menjadi ikon.

Ali Topan Anak Jalanan adalah film ke empat yang dibintangi Junaedi Salat. Debutnya sebagai bintang film langsung menjadi pemeran utama dalam Aku Tak Berdosa, bersama Rahayu Effendi, Dewi Puspa, dan Duddy Iskandar.  Sejak itu, Junaedi Salad kerap menghiasi layar lebar—dalam rentang 1972-1981, sekitar 20 judul film dibintanginya

Junaedi Salat masuk ke dunia film melalui lingkungan tempat bekerja yang begitu dekat dengan kesenian. Lahir 2 September 1950 di Lampung, setamat SMP ia merantau ke Jakarta untuk melanjutkan ke jenjang SMA. Sambil bersekolah, Junaedi bekerja sebagai pengurus gedung di Taman Ismail Marzuki. Di tempat itulah terjadi pertemuan-pertemuan dan karir aktingnya berawal.

Dari semua film yang dibintanginya, sekali lagi: Ali Topan adalah nama tengahnya.

Jauh terpaut dari pertama kali beredar di bioskop, saya adalah salah satu dari generasi setelahnya yang menonton Ali Topan Anak Jalanan lewat pemutaran di televisi. Tampak keren bahkan untuk ditonton pada era 1980an dan 1990an. Ya, kita bisa merasakan bahwa ini adalah film lawas, tapi tak bisa menolak daya pikat suasana, cerita, dialog, serta sosok Junaedi Salat di sana. Adegan pembukanya sangat klasik, sekaligus langsung menancapkan imajinasi: Ali Topan dengan rambut gondrongnya, bersama kawanannya yang juga berambut gondrong, mengendarai motor dengan kesan kebebasan, membelah jalan, lalu parkir dan nangkring di tangga sebuah plaza. Di sana, untuk pertama kalinya ia melihat gadis yang sebentar kemudian menjadi pujaannya, Anna Karenina.

Poster Film Ali Topan Anak Jalanan 1977 / dok. istimewa

Karakter Anna Karerina diperankan oleh Yati Octavia, aktris super-laris pada dekade 1970an dan awal 1980an, termasuk yang paling dikenal sebagai tokoh Ani dalam film-film Rhoma Irama (saat menulis ini, terngiang di kepala cengkok dan intonasi Raja Dangdut itu kala menyebut nama Ani).

Sejalan dengan masa meledaknya film Ali Topan Anak Jalanan,  tidak hanya sebagai aktor, Junaedi Salat juga mulai dikenal anak muda sebagai penulis lagu yang brilian. Lagu karangannya, “Kemelut”, berhasil menjadi Juara 1 pada ajang keren Lomba Cipta Lagu Remaja 1977 Prambors Rasisonia (sementara lagu “Lilin-Lilin Kecil” karangan James F. Sundah menjadi lagu terfavorit pendengar). Pada rekamannya, lagu “Kemelut” dinyanyikan oleh Keenan Nasution.

Junaedi Salat serasa ada di mana-mana. Aktif membintangi film, nongkrong bareng anak-anak band di Jalan Pegangsaan, juga mendukung Guruh Soekarno Putra menjadi salah satu eksponen di Swara Maharddhikka. Dengan sederet kerja dan aktivitasnya, jejak namanya senantiasa mudah ditemukan. Beberapa yang paling dikenal, terdapat pada rekaman-rekaman awal album Chrisye.

Di antaranya karena sukses besar album soundtrack “Badai Pasti Berlalu”, Amin Wijaya dari Musica Studio’s menawarkan kontrak rekaman kepada Chrisye. Dengan melihat rekam jejak Chrisye berkarya pada era 1970an, bisa cukup diduga reaksi Chrisye begitu hati-hati dalam menyikapinya, termasuk meminta kebebasan penuh dalam memilih rekan untuk penulisan lagu dan proses rekaman. Amin setuju.

Album itu dipersiapkan dan direkam pada 1977. Chrisye mengajak rekan-rekannya, di antaranya Jockie Surjoprayogo, Guruh Soekarnoputra, dan Junaedi Salat. Nama terakhir menjadi tak kalah penting dengan dua nama di awal karena Junaedi Salat menulis lirik untuk lagu “Juwita”, “Sabda Alam”, “Duka Sang Bahaduri”, “Cita Secinta”, “Nada Asmara” (bersama Jockie), dan “Citra Hitam”— 6 dari 10 lagu di album yang kemudian diberi judul Sabda Alam.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments