633

Pertemuan Gang Potlot dan Gemuruh Pembatalan RUU Permusikan

Ilustrasi Rosyad. A

Gang Jl. Potlot III memang jadi salah satu bagian sejarah perjalanan musik Indonesia. Selain kisah Slank, banyak musisi tersohor juga lahir dari rahim gang itu. Anang Hermansyah salah satunya. Ia datang dari Jember, Jawa Timur, yang sebelum pendaratannya ke Potlot sempat berkenalan terlebih dahulu dengan Pay di Bandung.

Anang pun mulai beraktivitas di Potlot meniti karier musiknya. Anang sempat merilis album perdana Biarkanlah pada 1992 yang diproduseri oleh Pay. Setahun setelahnya, ia melibatkan keluarga Bimbim. Bersama Massto, adik Bimbim dan kakak dari Kaka, bernama Koko yang masih terikat tali persaudaraan sepupu dengan Massto. Lantas mereka bertiga bersama Damon Koeswoyo membentuk band bernama Kidnap dan merilis album Katrina (1993) sebelum akhirnya bubar dan Anang makin berkibar menjadi penyanyi solo.

Bisa dibilang Anang yang paling peduli terhadap teman-teman musisi hingga menginisiasikan RUU Permusikan sampai kepada posisi prioritas Prolegnas.

Kisah ini memang tidak saya rasakan secara langsung, karena tahun 1993 saya masih berjibaku berebut mainan dengan teman taman kanak-kanak Melati, di Jakarta. Beruntung seorang kawan, secara apik menulis sejarah singkat tentang Potlot di Tirto.id dengan judul tulisan Gang Potlot yang Melahirkan Banyak Musisi Hebat.

Baca juga:  Jejak Rock ‘n Roll Indonesia Dalam 2 Dekade Terakhir

Beda era, beda juga sejarah yang tercipta. Anang kini menjadi anggota parlemen yang cukup lantang menyuarakan permusikan. Bahkan di antara musisi lainnya yang juga mengemban tugas di parlemen, bisa dibilang Anang yang paling peduli terhadap teman-teman musisi hingga menginisiasikan RUU Permusikan sampai kepada posisi prioritas Prolegnas.

Sayangnya di tengah jalan, RUU Permusikan ini justru menuai kontroversi karena dibuat dengan tidak substantif dan jauh dari kebutuhan praktisi musik saat ini. Arus penolakan pun deras dan kencang menggema tak hanya di Jakarta tapi juga menyebar secara organik ke banyak kota seperti Bogor, Cianjur, Bandung, Majalengka, Garut, Cirebon, Semarang, Surabaya, Padang, Medan, Siantar, Bali. Mereka menelanjangi RUU tersebut, mengupas tuntas dengan para pakar dan praktisi musik yang dianggap kompeten.

Baca juga:  Bukan City Pop Indo, Tapi Indo Pop Urban

Di Jakarta, bahkan Koalisi Nasional Tolak RUU Permusikan menemukan lebih dari 80% pasal bermasalah. Dan lebih 280 ribu orang menandatangani petisi untuk menolak. Belum lagi Anang juga menjadi Ketua Lembaga Sertifikasi Profesi Musik. Sangkaan buruk pun tak dapat dielakkan untuk Anang. Sampai-sampai vokalis Efek Rumah Kaca, Cholil Mahmud juga membuat tulisan tajam dengan tajuk “Bukan RUU Permusikan, Tapi RUU Serfitikasi.”

Sayangnya di tengah jalan, RUU Permusikan ini justru menuai kontroversi karena dibuat dengan tidak substantif dan jauh dari kebutuhan praktisi musik saat ini

Dua Hari yang Menentukan

Sejak akhir Januari 2019 sampai saat ini problematika terkait isu RUU Permusikan terus menjadi bahasan utama di kalangan praktisi musik. Mulai dari menggelar diskusi terbuka sampai diskusi tertutup mereka lakukan. Selang satu minggu jumpa pers yang dilakukan Kami Musik Indonesia atas inisiasi Glenn Freddly di Jakarta pada 4 Februari 2018 terkait RUU Permusikan, pertemuan tertutup pun dilakukan oleh sejumlah kalangan.