Perunggu – Memorandum

Apr 8, 2022

Kalau boleh jujur, Perunggu adalah satu dari sekian banyak nama yang saya putuskan untuk melewatkannya dalam beberapa waktu ke belakang. Tiga lagu dalam Pendar, EP debut mereka tidak cukup bagi saya untuk memberikan alasan mengapa saya mesti memperhatikan langkah mereka ke depannya kelak.

Juga berbarengan bersama fakta bahwa rilisnya EP tersebut mepet-mepet dengan beberapa single eceran nan mutakhir dari Sajama Cut sebelum dikumpulkan menjadi sebuah kesatuan dalam Godsigma. Tentu, saya lebih memilih untuk menghujani telinga saya dengan meriam-meriam tersebut ketimbang tiga peluru dari Perunggu.

Tapi tentu, saya salah.

Perkenalan kembali saya dengan Perunggu hadir setahun setelahnya, ketika “Biang Lara” mereka rilis di bulan Juni 2021. Didapuk sebagai pembuka menuju sang album debut, Memorandum, kala itu Perunggu terdengar jauh berbeda ketimbang materi-materi sebelumnya.

Selain dengan sound yang lebih ‘wah’, musikalitas pun disajikan dengan lebih matang serta terencana, kembali dengan embel-embel “Band Rock pulang ngantor”, yang akhirnya membawa deret pertanyaan di benak saya, akan seperti apa bentuk keseluruhan dari Memorandum, yang waktu itu pertanyaannya kembali bertambah ketika “Tarung Bebas” dirilis, sebulan setelahnya. Hanya butuh dua nomor bagi Perunggu untuk membolak-balikkan hati saya.

Selang beberapa bulan, gelaran Perih Pedih Cinta di bulan Januari lalu juga menjadi salah satu pemantiknya. Untuk kali pertama, saya menyaksikan sang trio (yang malam itu formatnya menjadi kuintet) memainkan materi-materinya secara langsung.

Penampilan mereka kala itu secara keseluruhan bisa disaksikan kembali di sini, namun satu yang menjadi catatan bagi saya, ketika setnya berakhir, dari jauh saya melihat raut wajah serta sorot mata ketiganya memancarkan cahaya yang sama layaknya bocah kecil yang baru saja mendapatkan mainan favoritnya, sebuah kebahagiaan yang rasa-rasanya tidak dapat digambarkan secara gamblang, walau sebenarnya bisa dikatakan bahwa mereka hanya ingin manggung dan manggung.

Dari situ, saya merasa bahwa Perunggu akan menempuh perjalanan yang sudah mereka tunggu sejak lama.

Perunggu. Kiri ke kanan: Ildo Hasman, Adam Adenan, Maulana Ibrahim. / Dok: Istimewa.

Sekarang, mari berbicara mengenai Memorandum, album debut Perunggu yang akhirnya resmi rilis berselang satu bulan lebih sedikit setelah gelaran di atas, yang akhirnya resmi menjawab tuntas pertanyaan-pertanyaan saya tentang gambaran keseluruhannya. Mau tahu jawabannya?

Jawabannya adalah all killer no filler. Sebelas nomor dari Memorandum punya alasannya tersendiri mengapa mereka harus disimak hingga usai. Sebelas nomor yang saling berpadu-padan dengan harmonis, sebelas nomor yang solid, sebelas nomor yang merangkum ragam cerita dari fase usia paruh baya, sebelas nomor koridor rock yang tidak usang, digubah dengan megah layaknya nomor-nomor dari nama-nama mainstream di era 2000-an, yang bahkan jika kalian tidak pernah mendengar nama Perunggu sebelumnya, ada kemungkinan bahwa kalian akan menerka bahwa Memorandum merupakan album yang lahir di era tersebut.

Berpindah ke poin lain. Dalam sebuah obrolan, seorang sahabat sempat berujar bahwa suara vokal dari Maulana Ibrahim alias sang vokalis terlalu merdu untuk ukuran band rock (atau sebut saja, indie rock), yang getirnya juga saya amini.

Bagaimana Maul bisa bertutur dengan lugas berteriak di nomor bertempo bernas, “Tarung Bebas” dan “Per Hari Ini” diiringi ketukan drum penuh tenaga dari Ildo Hasman, atau mid-tempo dari “Pastikan Riuh Akhiri Malammu”, sebuah ode untuk sang buah hati atau sebagaimana tafsir lain dari pendengarnya, atau “Ini Abadi”, nomor tempo lambat yang didominasi oleh dentingan piano dan strings section minimalis di sepanjang durasi yang menyelipkan sahut-sahutan vokal antar personel di antaranya, berulang kali menyebut Bandung, Gambir, mimpi yang berkecukupan, lembur dan Senin pagi yang terasa mengungkung.

Jika disuruh untuk menyebutkan nomor favorit, saya bisa bilang, “Canggih” dan “33x” menjadi dua teratas. Nomor pertama yang saya sebut, sedang menjadi teman commuting saya melewati dua puluh tiga stasiun dari rumah hingga kantor. Riff gitar yang repetitif sejak intro hingga berlangsung masuk ke reff menjadi bagian favorit saya sebelum akhirnya tempo menukik yang menyusul diperdengarkan. Kembali, Maul terdengar kelewat merdu dengan range vokal yang tinggi sejak bait “Tersajikan riuh nada dan hening” dinyanyikan.

 

Sementara “33x” menyisakan kejutan bagi saya. Bagaimana Perunggu bisa-bisanya menutup album debutnya ini dengan nomor berdurasi tujuh menit, bercerita mengenai (apa yang saya tangkap) hubungan vertikal antara manusia dengan sang penciptanya.

Di nomor ini pula, baik Maul, Ildo dan Adam Adenan berharmonisasi memainkan instrumennya masing-masing dengan kadar kemampuan yang sesuai dengan umur mereka – matang, yang resmi menutup Memorandum dengan – kalau tidak bisa menggunakan kata “sempurna”, saya memilih untuk menggunakan kata “mengagumkan”.

Masih ada sisa delapan bulan lagi di tahun ini, dan pasti masih akan ada album-album mengagumkan dari musisi serta band Indonesia dalam rentang waktu tersebut, akan ada yang lebih mengagumkan dari Memorandum, itu pasti.

Tapi untuk saat ini, biarkan Memorandum beristirahat sejenak di puncak dari gunung tertinggi, karena sudah seharusnya mereka berada di posisi tersebut setelah perjalanan mendaki yang panjang dan melelahkan, sama melelahkannya seperti jam pulang kantor di hari Senin yang padat.


 

Penulis
Raka Dewangkara
"Bergegas terburu dan tergesa, menjadi hafalan di luar kepala."
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

Eksplor konten lain Pophariini

Jadi Vokalis DeadSquad, Vicky Mono: Jalani Saja Dulu

DeadSquad mengaku Vicky sosok vokalis yang mereka cari. Selain berkualitas, ia dianggap memiliki kemampuan untuk menguasai panggung sebagai stage performer.

Dzee Rilis Video Musik “Epik”, Simak Langsung di PHI Eksklusif

Di PHI Eksklusif kali ini, saksikan lebih dulu video musik “Epik”, salah satu single dari album debut Dzee sebelum tayang di berbagai platform.