1920

PHI Kaleidospop 2018: Meramu Mantra Kunto Aji

Ilustrasi @abkadakab

Mungkin seharusnya sudah tidak kaget jika Kunto Aji Wibisono menghasilkan karya yang memukau. Itu sudah terlihat di tahun 2015 ketika dia mengeluarkan Generation Y, sebuah album debut yang menyuarakan aspirasi dan kegelishan generasi millennial. Album tersebut bisa dibilang mengagetkan, karena sebelumnya Kunto Aji lebih dikenal sebagai pemuda asal Yogyakarta peraih peringkat keempat Indonesian Idol tahun 2008, sebuah ajang kompetisi yang lebih dikenal mempopulerkan penyanyi berbakat daripada seniman yang tak kenal kompromi dalam berkarya.

Walau demikian, rasanya tak ada yang menduga kalau Kunto Aji bisa melahirkan sesuatu seperti Mantra Mantra, album keduanya yang brilian. Kalau Generation Y berisi musik pop familier yang dipadu dengan lirik yang bersudut pandang menarik, pada Mantra Mantra Kunto Aji merambah teritori yang lebih asing. Terinspirasi psikoterapi yang dijalaninya selama hampir dua tahun terakhir untuk mengatasi masalah-masalah pribadi, Kunto Aji memadukan pesan-pesan positif yang disampaikan dengan vokalnya yang terdengar intim dan hangat dengan musik yang menambahkan warna funk, R&B dan rock ke kanvas pop dan digarap bersama empat produser, yakni Ankadiov Subran, Petra Sihombing, Bam Mastro dan Uga Swastadi. Menyelip pula di dalam lagu-lagu ini adalah frekuensi Solfeggio, yaitu penemuan Joseph Puleo dan Leonard Horowitz di tahun 1970-an yang berdasarkan tangga nada abad ke-11 dan diklaim membawa dampak positif kepada pendengarnya.

Di atas kertas, album ini terkesan agak absurd secara konseptual, dan Kunto Aji memang butuh meyakinkan dirinya sendiri maupun perusahaan rekaman Juni Records bahwa visinya ini layak diwujudkan. Tapi respons positif yang didapat dari pendengar maupun berbagai media yang menobatkan Mantra Mantra sebagai salah satu album Indonesia terbaik di 2018 menunjukkan bahwa hasilnya setimpal dengan jerih payahnya.

Baca juga:  Tulus Dan Gelombang Baru Penyanyi Solo Pria Muda Di Indonesia

Sambil makan sore di sebuah restoran masakan Jepang di Jakarta Selatan pada pertengahan Desember, Kunto Aji menceritakan perjalanan panjang menuju terwujudnya Mantra Mantra

Sampul Album Kunto Aji – Mantra Mantra (2018)

Saat kita berjumpa Synchronize Festival 2016, sudah ada rencana ingin mengobrol dengan Bam Mastro untuk menjadi produser. Pada saat itu, sudah sejauh mana bayangan untuk album ini? Apakah ide dasarnya sudah ada atau cuma mau mengajak orang ini untuk mengerjakan album berikutnya walau lagu-lagunya belum ada?
Tema besarnya sudah ada pada saat itu, cuman memang gue masih matangkan sub-temanya untuk jadi lagu per lagu, apa yang ingin gue angkat. Musiknya, arahnya pun sebenarnya sudah ada. Untuk Bam Mastro, gue juga belum ada bayangan akan bagaimana. Cuman, “Gue bakal mengobrol sama ini orang.”

Apa yang membuat mantap ingin membahas tema di album ini?
Awalnya gue enggak mau mengangkat tema besarnya, tapi karena melihat responsnya, akhirnya gue merasa bertanggung jawab untuk album ini bisa jadi awareness. Temanya tentang kesehatan mental, sebenarnya. Karena beberapa tahun belakangan, gue sedang berhadapan dengan itu.

Kunto Aji. foto: dok. Kunto Aji

Boleh sedikit bercerita tentang apa yang dialami sampai ingin mengangkat topik ini?
Kalau yang gue alami, mungkin gue enggak akan ceritakan. Tapi yang jelas, akhirnya gue menemui therapist. Gue ke psikolog pun karena ada beberapa masalah yang malah jadi salah satu bahan untuk gue riset juga. Akhirnya jadi, “Bagaimana sih sebenarnya tentang kesehatan mental? Sepenting apa?” Karena gue dilahirkan dari keluarga yang tidak bersinggungan dengan itu. Hal itu bisa elu selesaikan sendiri. Jadi untuk menemui tenaga profesional, akhirnya gue baru tahu bahwa, “Oh, ternyata masalah ini bisa berpengaruh ke elu secara fisik. Bahkan kepribadian elu bisa berubah.”

Baca juga:  20 Tahun Kilas Balik dan Titik Balik GIGI

Itu yang sedang gue hadapi di beberapa tahun ini, dan itu membuat gue ingin menulis ini. Karena gue yakin di luar sana banyak yang masih takut untuk omong. Atau keluarganya kayak gue, masih konvensional banget, yang enggak percaya sama begituan. Malah mungkin dibawanya ke…eh, jangan deh. Jangan dibahas! [Tertawa] Akhirnya gue merasa perlu menulis, walaupun yang gue tulis bukan penyakit mental, tapi lebih ke kesehatan mental. Karena kalau penyakit mental, bahas masalah depresi dan segala macam. Gue enggak mau sampai ke sana. Gue maunya di permukaannya saja. Itu biar jadi kerangka di kepala gue. Makanya yang gue ambil adalah tema tentang keikhlasan di album ini, yang mana itu ada di “Sulung” dan “Bungsu” sebagai pagar.

Dengan ketemu therapist, berarti itu sedang berhadapan dengan hal-hal yang muncul beberapa tahun terakhir atau ada sesuatu yang mendasar dan baru membuat masalah itu mencuat?
Sebenarnya setiap manusia pasti ada trauma masa lalu, atau ada sesuatu yang belum selesai. Akhirnya muncul ketika kita dihadapkan pada stres. Itu harus diselesaikan, hal-hal yang kayak begitu. Gue juga baru tahu, setelah berhadapan langsung. Istilahnya, apa yang gue ingin tulis memang masih di permukaan, tapi gue yakin orang yang mengalami akan mengerti, dan orang yang mungkin belum sampai sedalam itu akhirnya akan berusaha untuk mencari tahu dan menyembuhkan dirinya sendiri. Karena menurut gue, itu yang penting.

Baca juga:  Pop Hari Ini: Terima Kasih 2018

Itu misi dari album ini yang ingin gue tulis, sebetulnya. Gue yakin yang mengalami juga mengerti dan mungkin lagu-lagu gue bisa membantu yang sedang ke arah sana dan tidak ada orang yang membantu.

Secara tidak langsung, apakah ini menjadi bagian dari membantu diri sendiri?
Iya. Permasalahan gue sebenarnya belum seberat itu, cuma akhirnya gue mempelajari hal-hal yang berat itu. Gue tawarkan anti-depressant dalam bentuk frekuensi, cuman kan enggak seampuh itu. Hal-hal yang gue masukkan ke album kayak frekuensi Solfeggio masih berstatus pseudo-science, kayak warna merah bikin lapar. Mungkin itu sugesti dan lain-lain, tapi gue rasa enggak ada salahnya. Ini biasa dipakai di ESQ (Emotional Spiritual Quotient), tapi enggak ada salahnya gue masukkan ke musik pop. Kenapa enggak? Itu jadi eksperimen gue juga sama produser-produser. Karena pseudo-science ini mungkin akan dikuatkan dengan afirmasi positif dari setiap lirik yang gue tulis.

Ternyata gue dapat banyak kesaksian, ada yang dengar sampai menangis, bisa keluar emosinya. Gue enggak tahu, apa ini memang kekuatan liriknya atau dari frekuensi Solfeggio yang gue masukkan. Yang jelas, itu sudah jadi satu masakan, dan gue enggak perlu tahu ini gara-gara siapa. Ini jadi eksperimen gue yang menurut gue puas buat diri gue sendiri.